Wednesday, April 18, 2007

Tirta Sangga Jaya, Nama Yang Bagus

Wawancara Syaykh AS Panji Gumilang

Pemimpin Kampus Al-Zaytun, Syaykh AS Panji Gumilang memiliki mimpi yang besar tentang pengendalian air di Ibukota Negara, dengan berpijak pada proyek Waduk Windu Kencana yang sedang dikerjakan Al-Zaytun siang malam. Ia mengambil contoh pembangunan bendungan Azwan, di Mesir, yang berhasil mengendalikan kota Kairo dari ancaman air bah Sungai Nil dan serangan buaya-buayanya.

Berikut petikan wawancara mimpi Syaykh tentang Jakarta, di sampaikan kepada Robin Simanullang dan Haposan Tampubolon, serta fotografer Wilson Edward.

Ibukota Negara selalu mengalami banjir berulang-ulang. Barangkali, Syaykh bisa memberikan sumbang-saran cara terbaik mengatasinya?

Kalau sumbang saran itu terlalu besar. Tapi, ada mimpi untuk Jakarta. Jakarta itu dikepung dan dialiri oleh berbelas-belas sungai yang besar maupun kecil. Selam itu sungai pasti dilalui air. Kalau tidak ter-manage, ya, menjadi melimpah dan bukan rizki.

Kalau kita ambil titik, Jakarta dari Monas, sampai ke Cibinong, atau lebih sedikit, kemudian kita tarik dari Cibinong, atau lebih ke selatan sedikit kira-kira 60 kilometer dari titik Monas, di sana kita membuat sungai baru atau kanal.

Kanalnya jangan terlalu kecil, katakan 100 meter lebar, kemudian di kanan kiri ada 50 meter yang nantinya menjadi jalan raya di tebing atau bantaran sungai. Kemudian kedalaman disesuaikan dengan kontur tanahnya.

Kanal membentang ke barat, sampai lebih barat dari kota Tanggerang. Katakanlah kalau diukur sampai ke Kresek, ditarik garis lurus mungkin sampai Cikupa. Itu kita buat lagi (kanal) yang sama 100 (meter), kanan-kiri ada jalan 50-50 meter.

Kemudian ke timur, kanal sampai ke Karawang yang lurusannya nanti Rengas-dengklok. Keluar dari sana ada yang namanya Tanjung Jaya. Kalau di Tanggerang sana ada Tanjung Kait.

Kalau itu dibuat maka terjadi, Ibukota Jakarta itu luasannya dari titik Monas 60 kilometer ke selatan. Kemudian dari titik Monas ke utara 30 atau kurang lebih 20 kilometer. Berarti hampir 80 atau 100 kilometer.

Kemudian timur-barat (dari Monas) sampai ke lurusan Kresek sana 60 kilometer, dari Kresek itu mungkin juga sampai lurusan Batu Jaya 60. Berarti nanti akan ada sungai “letter U“ 60-60-60-60, yang totalnya menjadi 240 kilometer mengitari Ibukota.

Kitaran yang “Letter U“ sudah barang pasti mencegat perjalanan aliran air yang 13-15 sungai itu. Dan yang terkenal kalau di tengah Ciliwung, di timur Citarum, dan di barat Cisadane sungai raksasa semua. Itu sudah terbendung dulu. Bukan berarti tidak boleh mengalir (tapi) ada paras kontrol.

Dengan adanya yang 240 kilomter ada penanggulangan lalulintas. Ada orang kurang senang jalan di darat, dia jalan di air. Sebab ada jalan yang mendukung kanan-kiri tadi, 240 kilo kali dua.

Sudah, manfaatnya besar bisa untuk rekreasi, bisa menghasilkan uang, secara estetika indah, arsitekturnya mendukung.

Mengapa sungai Nil bisa seperti sekarang itu, kita tidak bisa buat? Dulu sungai Nil kalau banjir bukan banjir air tetapi banjir buaya. Manusia Kairo banyak yang mati bukan tenggelam tapi dimakan buaya. Kalau Jakarta, banyak yang sengsara karena air.

Kemudian (sungai-sungai) yang masuk dalam kota dinormalisir. Tidak usah mengusir penduduk tetap saja di situ. Perumahannya tidak boleh horisontal mulailah vertikal.

Sehingga disisi-sisi sungai ada lahan yang luas. Katakan, Ciliwung yang dekat Tebet, nanti di pengkolannya, kampungnya masih Kampung Tebet, Kelurahannya masih Kelurahan Tebet, kecamatannya masih Kecamatan Tebet. Mereka tidak usah diusir karena sumber budaya ada di kampung-kampung itu.

Baru dibuat perumahan ke atas. Ada 1.000 kepala keluarga (KK) daslam satu rumah vertikal yang tadinya mendiami 200 meter lahan. Maka lahan yang ditinggalkan, 200 meter kali 1.000 KK sama dengan 200.000 meter persegi itu dijadikan halaman, tempat sekolah, tempat olah raga, tempat rekreasi, tempat penghijauan lingkungan. Rumah cukup naik ke atas untuk 1.000 KK. Untuk pengontrolan kependudukan lebih aman dan lebih terkontrol.

Jadi andainya seperti itu maka di dalam kota ada pilihan jalan. Ah, saya mau lewat Ciliwung saja, oh, saya mau lewat Ciliwung, pinggiran kanan atau kiri. Maka tidak ada kesulitan jalan raya. Jadi bukan karena banyaknya kendaraan Jakarta macet, tapi manajemennya yang kurang tertata.

“Oh, biayanya maha“ (kata orang), oh memang mahal. Tapi lebih mahal jiwa satu orang yang terendam air, daripada kita menata seperti itu.

Katakan, “diperlukan puluhan miliar dollar“, oh sekali hutang saja 40 miliar (dollar), nah mengapa bukan itu. “Oh, darimana dananya“, oang Indonesia kaya. Karena jumlah penduduknya 240 juta. Ambil 10 persen yang punya uang diam, masing-masing 100 ribu dollar. Juallah obligasi kepada bangsa jangan ke luar negeri. Jangan pula mencetak obligasi yang cincai-cincai satu dollar dua dollar. Paling murah 1.000 dollar satu surat berharga, banyak orang yang bisa membelinya.

Lha, sejumlah itu apakah mungkin mengumpulkan 100 milar dollar AS. Sangat mungkin. Bisakah kembali dengan tempo cepat? Sangat bisa, mengapa tidak? Sebab air berjalan. Ada transportasi air, ada wisata air, kemudian ada ketenangan jiwa. Terjadilah Ibukota menjadi tenang.

Kemudian tidak usah digembar-gemborkan istilah megapolitan dan sebagainya. Setelah dibuat seperti itu maka diputuskanlah oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, Ibukota Negara Indonesia adalah Jakarta yang dibatasi oleh sungai baru “Letter U“. Selesai. Rakyat tidak berdebat.

Gubenur Jawa Barat tidak akan melawan, Gubernur Banten tidak akan melawan. Gubernur Jakarta tidak akan bangga la wong keputusan, menjadilah Ibukota Negara Republik Indonesia.

Jakarta perbatasannya sungai yang baru dibuat, katakanlah “Tirta Sangga Jaya“ atau “Air Yang Menyangga Jakarta Raya“.

Tirta Sangga Jaya bermanfaat untuk Jakarta?
Bermanfaat sebagai Ibukota Negara.

Hiterland-nya turut memperoleh manfaat, untuk wisata misalnya?

Untuk wisata, kemudian air untuk pertanian diambil oleh Jawa Barat dan oleh Banten. Kan, asyik. Di sungai Nil ada wisata air tengah malam sambil menari-nari, di sungai Tirta Sangga Jaya pun bisa nanti keliling.

Sungai Nil Cuma beberapa kilo, ini 240 kilometer. Sedangkan, satu malam Cuma 12 jam nggak cukup, “ah, besok lagi“, datang lagi, karcis lagi, masuk retribusi.

Nanti orang tidak hanya datang ke Bali. Ke Bali suatu waktu tapi Tirta Sangga Jaya tidak boleh dilupakan, kan begitu nanti. Kemana wisatanya, “Ke Tirta Sangga Jaya“.

Pendanaan, apakah lewat APBN?

Ya, APBN dong. Kalalu nanti non-budgeter jadi rusak negara. Ditetapkan bahwa akan membuat obligasi jumlahnya sekian, masukkan anggaran belanja negara dan pendapatan, dikontrol, kalau tidak nanti ko and rup and si.

Dan untuk pembuatan itu jangan ditenderkan. Buakan keputusan tertentu ditunjuk ataupun dilaksanakan oleh negara, dikontrol oleh masyarakat, negara luar pun menghormati, “oh, putusan Majelis.“

Perlu dibentuk semacam Otorita?

Ya, otorita khusus supaya ter-manage apa saja bentuknya. Integrated nanti dengan hiterland-nya. Dilindungi oleh payung yang sangat kuat yaitu keputusan Majelis sebagai keputusan politik. Kalau tidak, saling berkuasa nanti. Kata Jakarta, “Oh, ini milik saya“. Kata Jawa Barat, “Milik Saya“, kata Banten “Milik saya“.

Berapa lama mewujudkannya sejak pelaksanaan?

Ah, kalau negara satu dua tahun selesai asal pendekatannya bagus. Sekarang rakyat tidak mau karena mereka memang tinggal di situ. Nanti, mereka tetap tinggal di situ.

Dikasih ganti untung?

Bukan dikasih ganti, disediakan. Rumahmu tetap ini, tapi dinaikkan, lebih bagus, bisa tahu bulan lebih dekat. Kalau dari bumi kan jauh. Mungkin tingkat 30, “Lebih dekat kamu ke bulan“. Jadi kalau angin lebih dekat ke angin yang lebih segar.

Pembebasan lahannya mungkin yang sulit?

Jangan pernah dibebaskan lahan itu. Kalau dibebaskan tidak mau orang, bertahan. Ini dibuat sungai, rumahmu tetap disini, lebih bagus, kampungmu tetap di sini, karena, Indonesia tanah airku / tanah tumpah darahku. (Syaykh nyanyi dengan suara merdu).

Lah tanah tumpah darahnya dibuang, nanti ditanya dimana, “itu sungai“. Tanah tumpah darahku di kampung ini, bercerita, dulu kampung saya di sini, yang sekarang dibuat sungai. “Lho, kok namanya tetap“. Iya, namanya tetap, nggak boleh dirubah.

Jadi, kalau dia orang di Tebet ya tetap di Tebet. Cuma dulu Tebetnya sini, sekarang Tebet sini (rumah vertikal). Jadi KTPnya enak. Ngontrolnya enak. Yang punya KTP jelas. Yang tidak punya KTP-pun jelas. Budaya bisa ditata dengan baik. Bhineka Tunggal Ika bisa dimasukkan di situ. Jadi bukan hanya simbol, tapi ilmunya dan amalnya.

Bagaimana dengan Banjir Kanal Timur atau Kanal Barat yang sedang dikerjakan?

Itu tidak memadai, sama saja dengan ini ada kudis, tet, dipencet terus keluar, pindah ke sini, tet, keluar. Kalau ini nggak. Kasih jalan air, “kamu“ lewat sini. Oh terlalu melimpah, buka sedikit pintunya masuk, dalam kota. Kotanya sudah lurus, air sungainya bisa disambung dengan sungai Cikeas, bisa disambug dengan sungai Ciliwung, interdependen. Nanti dibuat interdependen. Kan asyik dalam kota ada perahu, ada boat seperti di negara-negara besar lainnya.

Mimpi yang sangat orisinil dari Syaykh?
Ya, Tidak tahu, namanya juga mimpi.

Konsep Belanda dulu, masih konsep feodal Bajir Kanal Barat di bangun untuk melindungi Menteng saja?

Karena dulu batasannya kecil maka dikatakan orang kampung Kali Deres. “Deres“ itu cepat larinya. Begitu masuk Banjir Kanal Timur sekarang dinamakan Kali Malang. Dinamakan Kali Malang karena melintang masuk kota. Mestinya utara-selatan, ini lari ke barat menjadi timur-barat malang-melintang, Kali Malang.

Di mana-mana sungai itu ke timur, ini ke barat. “Ah, sudah, kali malang-melintang“, gampang saja orang Indonesia kasih nama.

Sekarang ada nama bagus Tirta Sangga Jaya?

Kalau Tirta Sangga Jaya aga sedikit pantas daripada Kali Deres atau Kali Malang. Masak orang segar-segar dikatakan Malang. Pantas banjir terus sebab kalinya malang. Coba kalau kalinya mujur.

Waduk Windu Kencana mungkin bisa menjadi wujud awal Tirta Sangga Jaya?

Itu, aplikasi mimpi. Sebelum yang besar kan yang kecil dulu,

Waduk Windu Kencana akan menjadi objek wisata juga?

Ya. Pembangunan itu harus punya nilai ekonomi, nilai hiburan, nilai rekreasi, nilai arsitektur, nilai kelestarian, baru namanya sustainable. Kalau Cuma air, kaku.

Selain menyangkut ketahanan terpadu pertanian, ada manfaat Waduk Windu Kencana untuk masyarakat sekitar?

Oh, pasti. Kalau Al-Zaytun tinggal di belantara padang pasir Azwan sana ya nggak ada (manfaatnya). Ini kan tinggal di masyarakat. Kalau berbicara Al-Zaytun bicara masyarakat sekalipun agak jauh letaknya. Sungai itu kan air, tidak diam, dia merambat. Setiap yang dirambati air pasti bagus karena air itu sumber kehidupan.

Tirta Sangga Jaya sepertinya bukan mimpi sebab miniaturnya Windu Kencana sudah ada?

Yah, kalau bagi saya itu mimpi. Karena kita di sini.

Jakarta akan mengadakan Pilkada pada Agustus 2007. Tirta Sangga Jaya mestinya bisa menjadi isu andalan setiap kandidat?

Kalau sekedar oleh gubenur juga kurang. Harus oleh negara. Karena harus ada political will dari atas, kokoh sebagai payung yaitu MPR.

Secara politis Al-Zaytun bisa berperan mendorong political will dari atas tadi?

Oh, kalau peranan, semua bangsa. Al-Zaytun kan sebagian kecil dari warga bangsa.

Paling tidak calon gubenur Jakarta datang ke sini memperoleh masukan konsep membangun Jakarta?

Biasanya kalau datang ke sini, “Oh ini kan tempat kecil, jadi gampang. Jakarta itu besar, jadi susah“. Selalu mengedepankan susah.

Kalau kita selalu mengedepankan, semua tidak ada yang susah kalau dikerjakan. Dan tidak ada besar tidak ada kecil pekerjaan itu. Karena nilainya sama. Kecil tidak selesai ya tambah rusak. Besar tidak dikerjakan juga susah.

Tahun ini Al-Zaytun genap berusia sewindu. Syaykh bisa mengukur persentase pencapaian mimpinya, sudah berapa besar?

Kalau dipersentase kecil, wong mimpi itu besar. Kalau mimpi kecil ya sudah selesai.

Mimpi kita kan besar. Dari pada mimpi kecil meding mimpi besar. Tercapai sudutnya, lumayan. Jadi jangan pernah memprosentase pekerjaan. Lepaskan saja prosentase itu tapi terus perbesar mimpinya.

Karena mimpi besar belum terlaksana pun sudah gembira, “Ah, saya tadi malam mimpi,“ Ya, itu (Syaykh kembali bernyanyi merdu). Waktu semalam bung aku bermimpi / Ketemu ular bung besar sekali / Ular menggigit jari kakiku / Aku menjerit aduh / Kenapa kok aduh / Mimpi. Jadi asyik, mimpi itu bisa jadi obat.


Visi Pendidikan Al-Zaytun 2020 juga mimpi yang mengasyikkan?

Oh, iya. Harus mimpi 2020. Jangan lama-lama, 2030 kelamaan. Bangsa ini kuat kok. (Tahun) 2030 lama belum tentu itu dipimpin oleh yang mimpi.

Kalau mimpi ciptakan yang riil dalam konsep yang bisa dilaksanakan. Kalau suatu negara mimpinya tuangkan dalam keputusan majelis yang tertinggi. Kalau (diputuskan) oleh Presiden yang berjalan itu kan terbatas cuma lima tahun belum tentu dipilih lagi.

Itu (Visi 2030) sebetulnya kampanye. Kampanye kan bisa saja ngomong setumpuk pelaksanaannya belum ada.
(Sumber :Lentera - Majalah Berita Indonesia – Edisi 36/2007)

Berita Terkait :
- Waduk Windu Kencana

2 Comments:

At 10:18 AM, Anonymous Anonymous said...

Ide yang sangat mengagumkan...
maju terus Al-zaytun...
PT.lintasarta (bhm@lintasarta.co.id)

 
At 9:05 PM, Blogger heru said...

mimpi yang harus diwujudkan secepatnya....tp pemerintah kok ga cpt tanggap???

 

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home