Sunday, July 20, 2008

Kebangkitan Nasional itu, Kebangkitan Pendidikan


Tokoh pendidikan terpadu Syaykh AI-Zaytun Dr AS Panji Gumilang mengatakan dalam rangka memeringati Satu Abad Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei 1908-2008) semua elemen bangsa harus memberi solusi untuk mengatasi berbagai masalah yang tengah dihadapi bangsa ini.

Sudah seratus tahun, apa yang telah kita perbuat? Yang bisa menjawab, ya masing-masing," kata tokoh pendidikan bervisi demokrasi, toleransi dan perdamaian, ini dalam percakapan dengan Wartawan Berita Indonesia, 12 Mei 2008. Menurut pemangku pendidikan berbasis (semangat) pesantren tapi bersistern modern ini, sesungguhnya kebangkitan nasional itu adalah kebangkitan pendidikan. "Ayo kita tata pendidikan ini lebih baik dari hari ini. Nah, itu ciri bangkit, " kata pendiri dan pemimpin Ma'had AI-Zaytun ini.

Tokoh yang sangat enerjik ini juga mengungkapkan tentang politik bersepeda, dalam hubungannya dengan kepemimpinan dan kebangkitan nasional. "Sepeda itu harus dipegang oleh pengendaranya. Power-nya itu dari pemimpinnya (pengendara). Itu politik bersepeda. Kalau man mengendarai dan mengendalikan kekuatan dahsyat, sepeda itu dahsyat, maka dinamakan bicycle. Cycle, cycling yang terns bergerak (putaran)," katanya. Selain itu, dia juga menegaskan sikapnya: "Simbol saya demokrasi perdamaian tanpa senjata," katanya ikhlas dan berterimakasih tatkala dihadiahi rencong.

Berikut ini kami sajikan petikan wawan¬cara dengan tokoh yang sangat berkomit
men membangun Indonesia yang kuat, hidup dalam zona demokrasi dan perdamaian Berta mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Syaykh banyak berbicara mengenai kebangkitan nasional. Kebangkitan nasional sudah seabad tapi rasanya keadaan bangsa ini masih begitu-begitu saja?
Makanya kita bertanya apa yang telah kita perbuat, itu saja. Sudah seratus tahun, apa yang telah kita perbuat? Yang bisa menjawab, ya masing-masing. Kalau masing-masing menjawab dengan perbuatan, baru kita bisa mengatakan bangsa ini bangkit.

Lalu kalau begitu masalahnya, siapa yang akan memberi solusi?
Oh, semua elemen bangsa harus memberi solusi. Kebangkitan nasional itu sesung¬guhnya kebangkitan pendidikan. Sebab, dulu tatkala kita masih menjadi bangsa Hindia Timur, ada politik etis kan? Terjadilah pendidikan. Dari situlah bangkit. Jadi kebangkitan nasional adalah kebang¬kitan pendidikan nasional. Jika ditanya siapa yang menbangkitkan ? Ya, memang pemerintah dulu.

Apa pesan Syaykh dalam rangka satu abad kebangkitan nasional?
Ayo kita tata pendidikan ini lebih baik dari hari ini. Nah, itu ciri bangkit. Mengapa sekarang kita masih mengalami "ABCD", seperti dikatakan orang belum mencapai sasaran? Pendidikannya belum sempurna. Dan berbahagialah orang yang merasa tidak bangkit-bangkit walaupun dirinya mempunyai kemajuan. Tapi celaka bagi orang yang masih belum bisa merangkak pun sudah mengatakan bangkit.

Sama seperti Indonesia sekarang?
Jangan disamakan. Siapa saja.

Kan sudah 100 tahun. Tapi nggak bangkit-bangkit tapi merasa bangkit?
Bahagia kita, artinya, masih merasa yang tidak bangkit ini. Ada kebahagiaan. Artinya, menurut orang itulah yang bangkit itu. Tapi kalau masih seperti belum bangkit namun mengatakan sudah bangkit, celaka ini. Contohnya, pintu gerbang pertama saja kebanjiran dua kali sebelum setahun. Jadi angkatan lautnya pindah ke darat. Jadi untuk memperbaiki nasib bangsa kita nanti, pendidikan harus ditata, pangan ditata, keamanan ditata.

Pemimpin sudah melakukan apa yang dilakukannya. Tapi warga juga kan harus bergerak. Syaykh melihat bagaimana pergerakan masyarakat ini untuk bangkit atas inisiatifnya sendiri?
Itulah yang harus dididikkan panjang. Seperti bangsa Belanda dulu mendidik bangsa Hindia Timur ini supaya bangkit dimodali 3 M (membaca, menulis, menghitung). Nggak banyak itu modalnya. Membaca, setelah kamu bisa membaca ABCD, bacalah Indonesiamu ini. Setelah itu, menulis. Tulislah apa yang ada ini, baru kalkulasikan (menghitung) apa yang ada ini. Tiga modal An saja bisa membangkitkan Soekarno-Hatta berproklamasi, bisa membangkitkan segala macam. Sekarang harusnya bisa membangkitkan yang lain lagi dengan 3M tadi.

Selain pendidikan tadi, supaya kita bergerak bangkit lebih baik, apa yang lainnya?
Iya itu, start-nya dari situ (pendidikan). Sehingga nanti karena membaca, menulis dan menghitung, ini koq lambat, oh kurang asupan. Asupannya diperbanyak. Tapi memang ada satu tanda yang sekonyong-konyong bisa tedadi di Indonesia belakangan ini. Sebelum ada pengu¬muman beras naik, Indonesia kan masih mengimpor. Waktu beras masih US$ 400, mengimpor kekurangan sekian. Apalagi akibat banjir, panen kurang. Tapi, begitu beras dinyatakan US$ 700 sampai US$ loon lebih, tiba-tiba kita surplus. Kok bisa secepat itu? Terns langsung man mengekspor. Nah, ini suatu bukti, bahwa tidak memiliki kesiapan. Murah mengimpor, mahal mengekspor, sambil sekonyong-konyong data itu dari minus menjadi surplus.

Jadi bagaimana kalau kita dimenej orang seperti itu?
Ya diubah. Masyarakat bangsa ini merubah.

Tapi maunya, Syaykh menjadi pemimpin nasional?
Tidak seperti begitu merubah itu. Proses masyarakat bangsa Indonesia inilah yang akan menentukan perubahan itu.

Tapi kan perlu akselerasi?
Akselarasi dan tidak akselerasi itu juga sebuah proses. Belum tentu akselerasi itu bisa mempercepat. Satu bukti, sepuluh tahun yang dinamakan reformasi. Orang¬-orang masih bertanya apa hasil reformasi. Nah ini juga begitu. Maka proses ini harus berjalan terus. Harus diubah terus. Yang merubah itu bukan seketika berproses. Nah kita sudah memiliki sarana perubahan itu yakni demokrasi. Harus disadarkan bangsa ini.

Tapi kan pemimpinnya yang memegang peranan strategis?
Ya. Nanti kalau diganti juga berubah lagi. Sama halnya tatkala UUD 1945, itu kan susahnya setengah mati untuk dirubah waktu itu. Begitu dirubah, lima kali sekaligus. Itulah proses bangsa seperti itu.

Proses konstitusional yang teler itu?
Itu kan yang terjadi di Indonesia. Satu lagi, betapa satu dekrit atau statement bahwa dwifungsi ABRI mutlak. Namun lepas begitu saja. Betapa kuatnya Pak Harto yang didukung sampai segala sesuatu adalah berdasarkan petunjuk bapak presiden. Tapi kan dia yang merubah. Itulah proses masyarakat bangsa Indonesia.

Ini susahnya, bagaimana kalau nggak ada komitmen yang dipegang?
Tidak susah. Artinya, ada perubahan itu. Segala perubahan demi perubahan tidak sekaligus menjadi yang kita harapkan. Siapa tahu dalam perubahan berikutnya.

Ya, tapi perlu juga konsistensi dalam memandang sesuatu sehingga bangsa itu dapat dibawa dalam satu tujuan yang dari awal dipersiapkan. Tapi kalau tidak konsisten dan berhenti-berhenti, bagaimana pembentukan bangsanya?
Ini tidak berhenti, proses berubah.

Walaupun lama ya?
Lama itu tidak ukuran. Dan cepat pun tidak ukuran.

Tapi itulah arti pemimpin. Pemim¬pin yang menjadi pusat, pemegang kendali strategis?
Oh ya! Bangsa Indonesia 50 Tahun, hanya dipimpin dua presiden. Tapi sepuluh tahun lima presiden. Normal-normal saja, kan.

Teler itu?.
Ya lepaskan, apa bahasanya itu. Itu kan masing-masing punya bahasa yang bisa untuk mengalamatkan.

Ada yang tanya, seorang jurnalis, dia tahu kalau kami sering ke Al Zaytun. Syaykh kabarnya man disandingkan dengan Wiranto, katanya begitu. Baru kami dengar. Benar tidak?
Oleh siapa, tanya dong. Cari dulu, tanya siapa yang akan menyandingkan.

Itulah yang dia dengar informasinya. Bagi wartawan, suatu kecenderungan adalah fakta. Ada kecenderungan ke situ kali?
Tanya kepada yang menginformasikan. Kan sudah saya katakan tadi. Kalau ada apa-apa di Al-Zaytun kan bukan siapa-siapa yang tahu duluan, wartawan Berita Indonesia yang tahu duluan. Wartawan Zaytun belum tentu tahu duluan.

Tapi, baik juga kali itu?
Menurut siapa?

Paling tidak menurut kami !.
Terserahlah. Kalau ada pandangan me¬nurut saya baik, jangan pernah ditutup pandangan orang lain.

Kami senang mendengar berita itu.
Sedih pun tidak apa-apa.

Walaupun dia hanya sekadar bertanya, niatnya untuk menyelidiki pun terserah, tapi bertanya saja menurut saya sesuatu hal yang baik. Tapi, kalau itu diusulkan oleh banyak orang, bagaimana Syaykh menyingkapi?
Itu kalau. Kalau tidak, bagaimana? Kalau saja ditanggapi.

Kembali ke kebangkitan. Tadi Syaykh bilang pendidikan sebagai motor penggerak, dan Al-Zaytun sedang memulainya, dalam delapan tahun ini sudah bergerak. Kebangkitan Indonesia seperti apa yang diimpikan di lembaga. pendidikan Al-Zaytun?
Kita punyai nilai-nilai dasar negara. Yang oleh banyak orang dikatakan Pancasila. Nilainya apa? Ya pendidikan itu sifatnya rohaniah dan jasmaniah, pembangunan fisik. Mewujudkan suatu kesejahteraan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia. Ini cita-citanya kebangkitan nasional itu. Yang lain-lain sudahlah tidak menjadi masalah. Pokoknya yang penting terakhir, mewujudkan kesejahteraan sosial.

Terus langkah-langkah itu harus dikonkritkan?
Oh iya tentu. Tapi kan ide besarnya itu. Bukan lagi sekadar menghafal Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan/Perwakilan, Persatuan Indonesia, tapi lebih lagi wujudkan Kesejahteraan Social untuk Seluruh Rakyat Indonesia. Kita sudah harus bersatu untuk menata itu semua. Mulai dari pendidikan, kemudian pem¬bangunan fisik dan pembangunan non¬fisik. Dan semua melibatkan bangsa. Dan semua berbasis lokal, sehingga Bhineka Tungal Ika terwujud.
Kemudian ke depan, menggaris-bawahi negara persatuan ini, Persatuan Indonesia. Kemudian memandang kembali, sudah betulkah otonomi ini. Otonomi sama dengan merdeka. Satu sisi tidak pernah mengenal satu kebebasan daerah dengan bahasa sentralisasi. Satu sisi memberikan kebebasan seluas-luasnya dengan bahasa otonomi. Antagonistic, paradoks. Maka yang diwujudkan nanti desentralisasi seluas-luasnya. Baru terciptalah nanti perwujudan suatu kese¬jahteraan bagi seluruh masyarakat Indo¬nesia. Kalau desentralisasi, seluruhnya menerima. Tapi kalau federasi ada mung¬kin yang tidak menerima. Begitu pula serikat mungkin ada yang tidak menerima. Desentralisasi, karena itu suatu ide besar dari awal, semua bisa terima. Tapi otonomi sangat bahaya. Otomomi itu merdeka.

Desentralisasi dalam rangka persatuan ya?
Iya, dalam rangka persatuan. Persatuan saja. Dan tidak melanggar nilai-nilai dasar negara.

Kalau dikaitkan dengan proses demokratisasi yang sedang bertumbuh?
Ya bagus.

Dengan tuntutan otonomi?
Otonomi seperti apa? Desentralisasi. Mana ada boleh otonomi. Desentralisasi seluas-luasnya.

Yang Sekarang terjadi, ada tuntutan otonomi.
Itulah karena memang dibukakan keran otonomi. Bertentangan dengan ide besar. Tadi kan kita katakan, otonomi itu berbahaya.

Filosofinya persatuan?
Persatuan. Persatuan itu bisa diwujudkan desentralisasi, daerah-daerah memiliki kekuatan masing-masing, berbagai macam. Tetapi dalam persatuan Indonesia.

Kan begitu nilai-nilai dasarnya? Mengapa melenceng jauh?
Kita membela sebuah nama yang tidak pernah dicatat pada UUD. Di Preambule itu, nilai-nilai dasar itu tidak pernah disebut dengan singkatan Pancasila. Ketuhanan yang maka esa disebut. Kemanusian yang adil dan beradab. Dasar begitu saja. Sekarang dicetuskan, Pancasilanya dike¬depankan seakan-akan itulah jiwa. Tapi substansinya dilupakan banyak orang. Ayo sebutkan satu-satu, nggak tau. Sama sekali dalam Preambule itu tidak disebutkan bahasa itu. Mengapa yang itu yang jadi merakyat dan populer? Bukan lima dasar itu.

Jadi nilai-nilainya yang terpenting?
Mustinya nilai-nilai dasar. Jadi kok tidak pernah disebut. Mengapa kok jadi sebutan yang sangat sakral.

Mencari aman saja kali?
Ya, iyalah. Tapi mestinya fair dong. Kalau tidak disebut mestinya jangan marah. Undang-undang dasar saja nggak menyebut.

Kalau tidak disebut pun, tapi nilai-nilainya dijalankan?
Ya, iyalah nilai-nilainya dijalankan. Demokrasi pakai diembel-embeli Demokrasi Pancasila. Sudah dalam UUD dasarnya tidak ada, kalau mau masuk dan ubah itu preambule, kan tidak boleh diubah toh?
Sudah tidak konsekuen lagi. Dulu Indonesia itu toleransinya tinggi, kalau duduk satu meja begini, Bukan ini dari Bangladesh, Myanmar, Kamboja , Ini apa, itu apa, tidak! Itu menunjukkan bahwa Indonesia dulu itu terbuka.

Pasca itu jadi tertutup. Bencinya pada bangsa asing luar biasa, keluar nasionalisme, tidak terbuka, sementara yang nasiona¬lisme pun disuruh menghafal, juga enggak hafal. Kemarin kita ke Aceh. Saya tidak membayangkan bahwa belakangan ini rakyat Aceh yang terkesan GAM, anak umur belasan tahun setingkat SMP, dengan mudah menghapal Pancasila. Asumsi kita, ya sudahlah tidak ada yang diajarkan Pancasila. Ternyata? Luar biasa anak-anak itu. Lagu-lagu wajib kita pancing sedikit saja, wow, mereka itu langsung me¬nyanyikan dengan lancar. Ditanya, Pancasila itu. apa? Anak-anak itu jawab tangkas, dasar negara Indonesia. Apa itu Pancasila? Lima dasar. Apa itu lima dasar, anak-anak itu lancar menjawab.

Betapa hebatnya orang Aceh. Lalu, me¬ngapa sampai terjadi clash. Mengapa kita sampai curigai. Belum tentu anak-anak di Pulau Jawa itu seperti ini. Di mana salahnya. Sampai clash itu? Saya dialog dengan Gubernur dan Wakil Gubernur. Yang tadinya tinggi nadanya, kita redamkan dengan cara yang baik. Ternyata di lubuk hatinya tidak mau mi¬sah dengan Indonesia. Kita gali secara perlahan-lahan.

Jadi kalau melihat kondisi Seka¬rang. Ini kan memasuki tahun po¬litik. Politik yang kita tandai dengan mulai aktifnya para partai politik kampanye, mulai bulan Juli, sam¬pai sekian lama. Sangat lama. Tentu dalam politik yang diharapkan, pada waktunya akan tiba kekuasaan akan dipegang oleh orang tertentu yang dipilih secara demokratis dalam proses politik. Tapi tidak berhenti di situ, proses ini adalah untuk mencapai bagaimana Indo¬nesia mengisi kemerdekaannya atau membangun dirinya. Tentu ada harapan yang akan dicapai. Kalau melihat proses ini, menurut Syaykh, ada nggak harapan dan seperti apa yang bisa kita capai dalam 5 tahun ke depan?
Kita dengar dulu dong apa yang ditawarkan.

Kalau Syaykh menawarkan?
Sepeda, menggelinding terus.

Apa hubungannya dengan masa depan bangsa?
Ya, sepeda itu kan dipegang oleh pengendaranya. Power-nya itu dari pemimpinnya. Ito politik bersepeda. Ini yang mengendalikan. Saat naik, ikut naik. Saat turun, ikut turun. Maka kebangkitan nasional diisi dengan bersepeda 2000 km. Sekarang kan yang duduk di atas mobil, yang capek mobilnya. Yang merasakan turun juga mobil, bukan kita. Bagaimana rasanya turun dari yang tinggi, pakai mobil kan tak terasa. Bagaimana panas, tak terasa. Bagaimana hujan, tidak terasa. Bagaimana itu namanya BBM kaki. Menggenjot tatkala tanjakan yang 45 derajat. Bagaimana mengendalikan tatkala kita turun tanpa ada halangan. Stabil. Maka diajak bersepeda begini lo, kalau mau mengendarai dan mengendalikan kekuatan dahsyat, sepeda itu dahsyat, maka dinamakan bicycle. Cycle, cycling yang terus bergerak (putaran).

Bisa lebih diterjemahkan dalam aplikasi politik kenegaraan?
Sudah, yang tadi itu. Jangan diterjemahkan panjang-panjang. Bila menerjemahkan panjang-panjang itu namanya tajuk rencana. Ini pojok saja dulu.

Perlu diberi pemahaman, sosialisasi, filosofi bersepeda dalam rangka membangun negara?
Itu nanti. Sebelum apa-apa, dibaca orang sebagai kampanye. Cita-cita saja. Nanti bersamaan dengan filosofi bersepeda memang begitu. Terus berputar dan ada dua roda belakang dan depan.

Ada maknanya itu?
Lha iya, ada pimpinan dan ada yang dipimpin. Terus ada rem.
Pemimpin semua yang mengendalikan. Mau cepat, mau lambat. Tapi kalau pemimpin sedang teler? Teler dilarang naik sepeda. Dan nggak jalan sepeda.

Kalo gagah-gagahan?
Mana bisa gagah-gagahan, orang mengeluarkan nafas, mengeluarkan energi.

Oh iya, ia akan tumbang sendiri kali ya?
Nggak ada gagah-gagahan, gagah yang ada. Itu kan bukan gagah betulan kalau gagah-gagahan.

Tapi ada pemimpin yang bilang, mereka nggak tabu saya siang¬malam Sudah bekerja, masih begini orang ngomong?
Biasa. Harus dihormati orang bekerja itu.

Berarti dia tidak menganut filosofi naik sepeda?
Iya, dia kan naik mobil. Rodanya juga empat kan? Ini rodanya cuma dua. Harus digenjot dengan nyali dan energi (BBM kaki) agar terus berputar.

Sumber : Majalah Berita Indonesia Edisi 57 - 2008
Bacaan Selanjutnya!

Saturday, July 19, 2008

Pusat Pembibitan Sapi Nasional


Sebuah lembaga pendidikan menghibahkan 18 kepala sapi pejantan unggul kepada pemerintah (negara), suatu berita menarik yang belum pernah terjadi di negeri ini.

Biasanya pemerintahlah yang meng¬hibahkan sesuatu kepada lembaga pendidikan. Oleh karena itu, Berita Indonesia berulang kali menanyakan apa latar belakang, penyebab atau yang mendorong sehingga Al-Zaytun menghibahkan puluhan sapi pejantan unggul itu kepada pemerintah. Dalam rangkaian percakapan dengan Syaykh Panji Gumilang terungkap pula obsesi Al-Zaytun menjadi pusat bibit sapi nasional, baik perah maupun sapi pedaging.

Berikut petikan wawancara Berita Indonesia dengan Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, di Wisma Al-Islah, Senin, 12 Mei 2008.

Apakah karena Syaykh mendengar keluhan dari pemerintah atau lembaga-lembaga lain mengenai susahnya memperoleh sapi pejantan unggul?
Tidak usah mendengar keluhan barn hibah. Itu namanya manusia pelit. Ibu pertiwi ini sedang merintih sekarang ini, jangan terlalu lama merintih.

Sekarang nggak merintih lagi seharusnya?
Mestinya. Tapi kan sekarang sedang merintih. Minyak, baik itu minyak bakar, minyak goreng, maupun minyak pelumas, sudah dicari. Produk energi sudah mulai turun. Sesungguhnya, kita nggak usah lagi menggali minyak bumi.

Sapi Bangsa Baru: Sapi hasil crossing yang dilakukan oleh Al¬Zaytun terdiri dari 3 bangsa sapi yakni Limousin, PO dan Bali dinamakan LIMPOBAL, dalam usianya yang 2 tahun 9 bulan mempunyai bobot 480 kg.

Diamkan saja, bikin minyak hijau. Juga, tanam padi sebanyak-banyaknya. Toh manusia sekarang butuh beras. Dari sejak awal, food and agriculture memegang kendali kehidupan. Siapa punya pangan banyak, dia yang mampu me¬nguasai manusia banyak. Siapa yang punya energi cukup, dia akan menguasai politik dunia. Sekarang, ok, tutup semua itu penggali minyak. Sekarang kita pakai minyak hijau.

Minyak bio?
Jangan, kalau bio masih lama. Minyak goreng untuk menyalakan lampu tempel saja dulu. Itu cuma seratus hari.

Seratus hari pakai minyak goreng?
Ya, sehingga otak ini keluar semua. Yang cerdas-cerdas memikirkan seratus hari, tumbuh minyak yang hakiki. 0rang bertapa itu kan begitu.

Hanya butuh seratus hari bertapa bangsa ini sehingga bisa keluar dari krisis?

Ya, seperti makan tempe kan? Tidak usah impor, bertapa dulu seratus hari. Tanam, kedelai. Sekarang Al-Zaytun sudah surplus kedelai. Bergs, tidak usah teriak-teriak. Jangan makan beras. Makan yang mengenyangkan dan sehat saja. Lalu seratus hari nanam, panen surplus.

Tapi itu memerlukan pe¬mimpin panutan dan berani?
Bagaimana pemimpin tidak panutan dan berani? Siapa saja bisa asal mau. Siapa pun bisa. Tapi ini memang belum mau. Pemimpin Indonesia ini Siapa pun bisa. Cuma memilih programnya.

Ada juga yang tidak berani mengambil program seperti itu?
Belum tentu tidak berani, mungkin tidak terpikirkan. Padahal bangsa ini pintar-pintar. Sejak 1800-an, bangsa Indonesia telah menanam kedelai. Juga sudah menanam padi. Sejak 1818, sapi sudah didatangkan ke Indonesia. Jadi, bangsa Indonesia semua bisa asal memilih program yang tepat. Ini kan belum tepat semua. Padahal pintar-pintar kok bangsa Indonesia ini.

Kembali ke pembicaraan sapi yang dihibahkan. Walaupun tali Syaykh sudah jelaskan dalam rangka kebangkitan nasional, supaya bangsa ini bangkit. Tapi mungkin akibat kekurang-seriusan pemerintah atau instansi yang terkait untuk melahirkan sapi pejantan unggul?
Sesungguhnya, keseriusan itu bisa ditengok dari beberapa segi. Sudah dimulai dari sejak awal, tahun 2000, didanai, diatur dengan program, apakah itu tidak serius? Tapi mengapa tidak berhasil, itu yang tidak tahu.

Programnya, barangkali hanya serius di atas kertas?
Serius sesunguhnya, serius. Kalau bicara, serius. Rapatnya saj a berpuluh-puluh kali. Terhitung rapat uji progeny sudah 42 kali, tapi yang berhasil baru di Al-Zaytun. Embrio transfer sudah kemana-mana menyebar, yang ada yang tersisa dan terpelihara dengan baik hanya di Al-Zaytun. Jadi kita tidak paham itu kenapa tidak berhasil. Padahal, ciri¬ciri serius adalah diberi modal, negara ngasih modal; Ada organisasi, yaitu dings-dings; Ada ahlinya, profesor, doktor dan rapat, cukup. Nah, kenapa yang tidak didanai sama sekali, kok berhasil. Seperti Al-Zaytun, tidak mengambil dana dari anggaran belanja Negara, tapi dana sendiri dan berhasil.

Lalu, kenapa yang tidak didanai justru berhasil?
Nah, itulah yang kita tidak tahu. Kalau begitu, barangkali jangan didanai semua.

Tapi kan memerlukan biaya besar?
Butuh biaya, tapi dana sendiri.

Berbiaya besar dan didanai sendiri. Lalu kenapa dihibahkan, dikasih gratis?
Kalau mau ngasih, kasihlah yang disayangi. Itu teori ilahi begitu. Kamu tidak akan mendapat kebaikan sebelum kamu memberikan sesuatu yang sangat kamu cintai. Ini bull yang paling dicintai, hari-hari diajak bicara, disayang di Al-Zaytun. Melihat Ibu Pertiwi sedang sangat kekurangan bibit unggul. Cuma punya sepuluh persen. Dan semua akan dihibahkan, cuma belum terpilih semua, mungkin nanti bertahap.

Memang semua mau dihibahkan juga?
Semua. Kita bisa jadikan bull yang bagus lagi. Hadiahkan lagi. Kalau dijual kan cuma berapa?

Puluhan miliar?
Murah, miliar itu bisa dicari. Yang penting bangsa kita ini bangkit. Protein terpenuhi, susu terpenuhi.

Ukuran puluhan miliar terlalu kecil?
Terlalu kecil. Amat sangat kecil.

Biar pun itu tidak didanai oleh pemerintah?
Jangan ngomong tidak didanai. Kita tinggal di Indonesia ini berarti Indonesia memberikan sesuatu pads kita. Tidak harus dari pemerintah dong.

Dalam proses penghibahan ini, Al-Zaytun yang menawari atau pemerintah?
Ya sama, kita mendengar rintihan, ya kita tawarkan, dan diterima.

Tapi pasti ada forumnya?
Kita selalu ikut forum-forum itu. Menyaksikan 42 kali sidang. Itu ke itu. Maka kita teriak, ambil semuanya.

Kenapa sampai Syaykh teriak, apa kondisinya?
Kondisinya ya itu, rapat dari itu ke itu saja, tidak berhasil lagi. Sedangkan semua terdanai dengan bagus. Nah, kita tidak pernah minta. Satu sen pun tidak pernah minta. Kita sekarang hibahkan semua. Dalam mulut kami bicara, semua bull yang dianggap, baik untuk pejantan, ambil semua¬nya. Kita punya 46 itu. Sekarang baru tepilih 18.

Apa reaksi mereka, kaget atau bagaimana?
Ya, sedikit kaget. Tapi kan tidak perlu dengan kaget terus kita senang. Nggak, dia menerima gitu.

Bukan soal senang, tapi pemerintah sendiri kan tidak berhasil walaupun sudah mengeluarkan biaya banyak? Tapi Al¬Zaytun danai sendiri, lalu semua malah mau dikasih, dihibahkan. Apakah pemerintah berterima-kasih?
Kalau memberi kepada negara jangan pernah mengharapkan ucapan terimakasih. Kita ini keluarga Indonesia. Kan ekonomi diatur secara kekeluargaan.

Tapi walaupun hibah, bisa saja nanti biaya transportnya lebih besar?
Oh tidak. Semua kita antar, supaya tidak ada mark up. Nanti dipikirnya hibah koq ada apa-apanya.

Sesungguhnya apa yang ada di pikiran Syaykh sampai menghibahkan sedemikian rupa?
Supaya maju. Peternakan Indonesia supaya tidak mengeluh setiap saat. Untung saya diundang setiap rapat-rapat begitu itu, jadi saya senang mendengar hal ini. Oh, koq masih mengeluh saja. Punya sepuluh persen kasihlah sepuluh persen. Pun yang menghitung sepuluh persen bukan kami tetapi mereka. Kita pun kaget, kok cuma 18 saja bisa sepuluh persen. Berarti sedikit sekali keperluan itu. Indonesia segini besarnya koq sedikit sekali keperluan itu. Maka, tunggu lima tahun, akan kita penuhi seratus persen. Dan bukan 18, seratus persennya. Kita ingin Indonesia ini memi¬liki sapi minimal seperempat jumlah manusianya.

Kalau idealnya berapa?
Itu ideal. Seperempat dari ma¬nusianya. Terns yang seperempat itu nambah lagi seperempat, untuk ekspor. Nambah lagi seperempat, ekspor. Nambah lagi seperempat, ekspor. Begitu seterusnya. Kan enteng, Indonesia tempat rumput, tempat jagung, tempat segala-galanya. Pemeliharanya pun banyak.

Jadi sudah ada penyerahan resminya?
Sudah. Tanga disaksikan siapa-siapa. Malaikat yang menyaksikan, kanan dan kiri.

Proses formalnya sudah?
Sudah. Dan bangsa sapi yang kita hibahkan ini, bangsa sapi yang sedang diminati oleh bangsa Indonesia, yang na¬manya simental, Limousin, FH, anges, brangus, semuanya diminati. Jadi ke depan, kita harapkan, di sini (Al-Zaytun) menjadi pusat bibit sapi, baik perah maupun sapi pedaging. Kalau sapi perah pasti dapat daging, kalau sapi pedaging tidak dapat susu.

Maka Al-Zaytun prioritaskan sapi perah?
Sapi perah. Maka, anak jan¬tannya harus di-cut. Teorinya, anak jantan itu 50 persen. Kalau kita punya seribu, akan dapat lima ratus anak jantan. Itu anak jantan yang dikehendaki dagingnya. Tapi suatu saat kita membikin anak betina yang tidak dikehen¬daki, tapi anak jantan. Itulah namanya untuk pejantan unggul tadi. Kanada mena¬warkan ke kita satu, Rp 2,5 M. (US$ 250.000) satu kepala sapi pejantan. Kalau saya sebagai pemegang kendali Indonesia, kita ambil paling tidak 200. Lima tahun, kita sudah berdiri sendiri dan bisa mengekspor. Jangan diurus oleh dings-dings. Tunjuk swasta-swasta yang bertanggung jawab, diaudit. Lima tahun beres.

Itulah ya akses ke tempat berkuasa itu. Coba, kalau Syaykh yang pemegang kendali?
Iya, kan pemegang kendali di Al-Zaytun sudah. Makanya itu kita masuk.

Iya, jadi apa yang kita harap kalau yang dipilih masih seperti begini?
Jangan nunggu itu, yang sudah ada saja yang kita buat. Makanya kita buat sekarang.

Seharusnya setiap pemimpin nasional datang ke sini kalau mau series mengelola Negara?
Tidak harus ke mana-mana. Pikiran ini sesuaikan dengan kenyataan, itu saja sudah se¬lesai. Kita ingin tahu perkem¬bangan di rumah, kan tidak mesti duduk di rumah. Kan ba¬nyak malaikat, dari akhbar, dari televisi, dari cerita, dari situ kan bisa dilihat, cerna di dalam, kerjakan. Seperti kita mengimani Muhammad Rasullulah, seperti kita meng¬imani Yesus. Ketemu juga nggak. Tapi perjuangannya kan bisa dicerna di sini. Masukkan dada, kerjakan, kan gitu. Jadi tidak harus melihat. Itu namanya orang masih kurang pintar.

Ustadz Abdul Halim dari New Zealand, rupanya telah menseleksi sapi. Mau dikemanakan sapi yang seribu dua ratusan itu?
Ya sekarang sapi sedang di kapal. Sedang menari-nari di kapal. Datang, ya kita ternak. Menyambut kebangkitan na¬sional semua ini. Dimulai dari 1200 ini.

Tapi konon susah juga mendatangkannya, padahal demi kebangkitan nasional, sampai prosedurnya juga sulit?
Oh, itu prosedur sulit itu kan di Indonesia sudah biasa. Siapa yang berani menghadapi kesulitan dialah yang berhasil.

Jadi tidak perlu dikeluhkan?
Tidak perlu dikeluhkan. Keluar uang nyogok juga jangan. Jalan saja. Kalau kita harus nyogok berarti pendidikan nyogok.

Barangkali itu yang mempersulit ya. Dalam tanda kutip?
Jangan, kita tidak menduga sama sekali itu.

Iya, memang harus ditempuh?
Tempuh saja. Manusia modern kan prosedural. Ke depan, kalau kita bisa sempurnakan, ya disederhanakan, dipraktiskan.

Kembali ke hibah tadi. Tentu dihibahkan dengan sukarela tanpa mengharapkan imbalan demi tu¬juan yang Syaykh tadi sudah jelaskan. Tapi melihat pengalaman, pemerintah selalu gagal? Jangan-jangan nanti salah memelihara sehingga sapi-sapinya tidak bisa berproduksi?
Kalau itu enggak. Sebab nanti itu disebarkan ke peternak. Yang dimasukkan gagal tadi, mewujudkan menyediakan bibit seperti itu yang banyak gagal.

Bukan untuk diberikan kepada pihak instansi?
Nanti instansi yang punya we¬wenang menyebarkan bibit, itulah yang mengelola. Kalau mengelola bibit berjalan baik di Indonesia ini. Mengelola produksi semen, itu berjalan. Yang kita bicarakan kegagalan tadi, mempersiapkan uji zu¬riat, mempersiapkan perwu¬judan bibit unggul, itu belum berhasil baik.

Jadi sesudah berproduksi begitu, tinggal memelihara?
Tinggal memelihara dan men¬distribusikan. Jadi jangan maknai salah.

Maksud saya juga begitu, nanti di dalam pemeliharaan. Ini kan dihibahkan? Jangan jangan yang dihibahkan ini gagal?
Insya Allah baik, karena tenaga pelaksananya sudah teruji di BIB itu. Punya pengalaman baik, tinggal mendistribusikan hasil. Malah, kalau tidak kita hibahkan, di sini saja, kurang pemanfaatannya. Karena memenuhi kebutuhan kita saja kan terlalu sedikit.

Kan bisa dijual?
Jangan bicara jual. Kita itu bicara masyarakat peternak Indonesia ini harus dibantu.

Tapi tetap juga ada nilai jualnya?
Ya, kalau dihitung uang, itu sedikit sekali. Tapi kalau sudah jadi sapi, artinya besar. Bisa menghasilkan 270 ribu sapi per tahun kali 300 kg kali Rp 30 ribu. Jadi 2,5 triliun per tahun. Itulah nilai hibahnya.

Masih hanya 18 kepala sudah 10% dari kebutuhan?
Hibah ini bisa memenuhi kebutuhan 10%. Satu lembaga pendidikan, bukan lembaga perdagangan, bisa masukkan hibah, menduduki 10%. Kalau saham, itu kan 10%. Jadi sa¬hamnya 10%. Pemerintah sen¬diri hanya Sekonyong¬konyong datang pendatang baru ambil 10%. Ibarat sahamlah. Kalau dalam percaturan dunia bisnis, ini sudah menguasai, pendatang baru ini. Sekonyong-konyong sudah staf direksi. Kan, logika saham itu begitu.

Al-Zaytun kan menghibahkan kepada pemerintah. Apa ada semacam perjanjian dengan pemerintah bahwa nanti mereka tidak boleh menjualnya ke masyarakat?
Mesti dijual. Itu semen mesti dijual. Bagaimana tidak dijual, untuk memproses, mewujudkan semen itu ada biaya? Menyimpannya, ada biaya. Ya itu, ganti Rp 10 ribu tadi. Ini untuk negara. Lepaskan, mau dikasihkan cuma-cuma, mau dijual kek, Itu terserah mereka. Yang penting ada lembaga swasta, pendidikan pula, mendorong kemajuan peternakan Indonesia. Memberikan 10%-nya dari kebutuhan nasional.

Sumber : Majalah Berita Indonesia Edisi 57 - 2008
Bacaan Selanjutnya!

Sunday, June 03, 2007

Tirta Sangga Jaya, Sebuah Ide Besar

Wawancara dengan Slamet Effendi Yusuf *)

Konsep Tirta Sangga Jaya (TSJ) sampai juga ke dalam gedung DPR. Menurut pria ramah yang kini menjabat sebagai Ketua Badan Kehormatan DPR RI ini. TSJ merupakan sebuah gagasan raksasa dan solusi membuat air sebagai sumber kehidupan bukan sumber bencana.

Untuk mengetahui keekonomisan dan manfaat Tirta Sangga Jaya, berikut petikan wawancara eksklusif wartawan Berita Indonesia Maruasas Henry, Hapotsan Tampubolon, serta fotografer Wilson Edward dengan Drs. Slamet Effendi Yusuf, M.Si, politik kawakan yang terpilih menjadi anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Tengah.

Biasa disapa SEY. Slamet yang mantan Ketua GP Ansar sudah mengunjungi Al-Zaytun dan berdiskusi akrab dengan Syaykh Panji Gumilang ketika pembangunan pondok masih dalam tahap-tahap awal. “saya belum pernah melihat tuh, penyelesaian pembangunan hotel yang disebut Wisma Tamu Al-Islah,” kata SEY,.


Apa komentar Anda ten-tang mimpi Syaykh Al-Zaytun Abdussalam Panji Gumilang tentang Tirta Sangga Jaya untuk me­ny elesaikan banjir Ja­karta?
Saya harus mengatakan bahwa ini ide besar. Boleh dikatakan seperti mimpi. Tetapi ide besar semacam ini bisa dilaksanakan apabila Syaykh, dan Al-Zaytun pada umumnya bisa mengkomunikasikan de­ngan para pengambil keputus­an. Dalam hal ini perlu ketemu dengan teman-teman di PU (Departemen Pekerjaan Umum), Presiden atau Wakil Presiden berkaitan dengan ini.

Gagasan ini gagasan raksasa meliputi setidak-tidaknya tiga provinsi yaitu provinsi Banton, Jawa Barat, dan provinsi yang selama ini menjadi penerima masalah yaitu DKI Jakarta. Karena itu ide ini perlu diso­sialisasikan kepada Gubernur tiga provinsi itu.

Permasalahan banjir Jakarta cenderung sema­kin kompleks, terbukti awal Februari 2007 se­mua Jabodetabek terkena banjir?
Kita memperlakukan sungai belum optimal sebagaimana seharusnya fungsi sungai. Bah­kan kita menyalahgunakan fungsi sungai. Sungai menjadi latar belakang rumah-rumah, padahal seharusnya menjadi latar depan. Di situlah orang buang sampah tinja dan seba­gainya. Fungsinya berubah.

Sungai mengalami pendang­kalan, penyempitan dan pen­cemaran yang luar biasa, lim­bah semua tumplek blek blek di sungai. Ketika sungai ditam­bahi aliran air karena hujan dia tak memiliki daya tam­pung. Akibatnya yang jauh lebih nyata banjir. Itu bicara tentang sungai.

Kemudian hinterland (dae­rah penyanggah, red) Jakarta yaitu JABODETABEK meng­alami perkembangan luar biasa. Mestinya menjadi pe­nampung air hujan, sekarang hinterland-rya juga lewat be­gitu Baja karena penggunaan perumahan begitu luas. Mas­terplan untuk kawasan itu juga tidak diikuti secara konsisten. Daerah penyerapan air hilang jadi hutan beton. Belum lagi hilangnya berbagai waduk kecil atau situ, kering, kemu­dian dipatok menjadi pemu­kiman atau milik orang.

Sekarang banjir sudah men­jadi problem tahunan. Ke depan akan makin menjadi seper­ti itu, karena kawasan-kawasan resapan di daerah Puncak dan sebagainya sudah penuh de­ngan berbagai perumahan, sampai sekitar selatan Tange­rang menjadi pemukiman yang sangat padat. Ditambah la­pangan-lapangan golf yang luas, situ-situ yang kurang, semua membebani Jakarta.

Lalu, bagaimana mere­alisasikan Tirta Sangga Jaya di saat ego daerah se­bagai dampak otonomi daerah masih menguat?
Makanya harus diyakinkan tiga gubernur, pemerintah pusat, DPR pusat, kemudian Presiden dan Wakil Presiden dengan konsep ini.

Kalau saya melihat gambar yang sementara ini ada, itu menjadikan kawasan ini se­buah delta yang dikelilingi oleh apa yang beliau sebut sebagai Tirta Sangga Jaya, atau air yang menyangga kejayaan. Konsep ini akan baik kalau dikomunikasikan kepada me­reka yang punya wewenang tentang ini, dengan begitu akan mencairkan apa yang Anda sebut ego daerah karena otonomi daerah.

Konsep ini saya kira akan memberikan peluang perkem­bangan yang luar biasa. Misal­nya sepanjang sungai diba­ngun tol. Artinya, dia itu di Tatar depan. Menurut saya mungkin bukan jalan tol. Te­tapi, sebaiknya jalan biasa saja dimana manusia bisa bebas melewatinya. Dengan begitu pinggir sungai akan menjadi potensi wisata dan potensi bisnis yang bebas.

Tapi kalau misalnya atas dasar pertimbangan pem­biayaan akan jadi jalan lingkar tol, tidak ada masalah. Tetapi harus ada pintu-pintu tol pada titik-titik tertentu dimana rakyat sekitar punya akses kepada jaringan ini. Jangan mereka diisolasi melalui tol.

Karena banyak unsur bisnis di sini, kalau Syaykh yang menyosiali­sasikan seakan dia berke­pentingan seperti peng­usaha?
Nanti Syaykh bisa menun­jukkan bahwa ini bukan untuk kepentingan dia. Tetapi untuk kemaslahatan masyarakat, daerah, dan bangsa. Anda bayangkan kalau kanal dibangun dengan luas tertentu yang bisa dilewati kapal, maka ini adalah tempat pesiar dan di sekitarnya dibangun hotel-hotel. Kawasan ini dalam konsep adalah kawasan yang berkem­bang.

Oleh karena itu, dalam mengatasi masalah jangan hanya problem yang bersifat politik. Harus diingat problem yang bersifat praktis. Misalnya tanah-tanah yang sudah men­jadi milik masyarakat, real es­tate, lapangan golf, perhitu­ngannya harus seperti itu. An­dai konsep ini berada di tanah yang kosong akan amat mudah menyelesaikannya.

Karena itu harus ada kepu­tusan yang jelas sebelum dila­kukan feasibility study yang konkrit. Pemerintah melalui Keppres atau Keputusan Presi­den harus memutuskan hal ini sebagai proyek nasional. Saya setuju dengan Syaykh, sebaiknya dibentuk sebuah badan otorita yang akan me­nangani hal ini secara khusus. Karena ini pasti akan menjadi proyek raksasa, harus dijaga jangan sampai menjadi pusat korupsi baru, spekulasi-spe­kulasi baru dan sebagainya. Sejak awal harus ditangani melalui suatu rules, peng­aturan yang jelas supaya bisa diselesaikan dengan baik.

Penanganan banjir di Jabodetabek sampai se­karang tidak memadai. Jakarta dan sekitarnya masih terancam banjir?
Banjir bukan saja akibat tidak adanya sodetan. Ling­kungan sekitar Jabodetabek memang lingkungan yang su­dah tidak memungkinkan me­nyerap air hujan. Puncak pe­nuh dengan vila, tidak ada pohon, lalu terjadi air yang terns menggerujuk dari atas langsung ke bawah.

Oleh karena itu, Tirta Sang­ga Jaya adalah salah satu jalan. Tentu saja ada jalan lain, di se­kitar Jakarta bagian selatan di­bangun tempat-tempat resap­an dalam bentuk waduk-wa­duk kecil. Dulu ada konsep pe­merintah, di setiap real estate ada yang namanya situ, di setiap rumah harus ada tempat resapan. Kalau itu dilakukan sebagian sudah menolong.

Tapi konsep Syaykh sebe­narnya bukan hanya semata­mata tentang banjir. Tetapi se­buah upaya membangun se­buah kawasan yang merupa­kan delta, yang di situ dikeli­lingi oleh sebuah kanal, dan di dalam delta masih ada 13 sungai besar yang selama ini mengairi Jakarta.

Kalau pembangunan Tirta Sangga Jaya dilakukan, ber­samaan itu sungai-sungai be­sar Jakarta juga harus dibe­nahi. Sungai harus tetap ber­fungsi sebagai sungai. Dulu Ja­karta berkembang karena ada sungai Ciliwung, sungai Cisa­dane, sungai Bekasi. Kantor Gubernurjenderaljaman dulu, yang sekarang jadi Istana Mer­deka, demikian juga Kota, itu ada di sekitar sungai Ciliwung karena sungai dulu alat trans­portasi orang dari Bogor, dari pinggiran yang masuk ke te­ngah kota.

Ada sungai Dano yang me­lewati Hongaria, melewati de­lapan negara Eropa. Dimulai dari Jerman, di sungai itu lewat kapal besar untuk meng­angkut kargo-kargo, mengang kut mobil-mobil barn dari satu kota ke kota lain lewat sungai. Di sini pun hal itu bisa terjadi. Orang dari terminal peti ke­mas mengirim barang ke Ban­dung, kapalnya bisa masuk sampai di sebelah selatan Cibi­nong. Jadi bisa dibuat pela­buhan-pelabuhan untuk mengangkut barang-barang. Akan terjadi kemudian efek lain, yaitu pengurangan ke­padatan di terminal Tanjong Priok.

Tirta Sangga Jaya bukan persoalan kecil. Bagai­mana cumber pembiaya­annya?
Konsep Syaykh adalah me­ngeluarkan obligasi, ORI, atau Surat utang negara SUN yang dijual kepada kurang lebih 10 persen penduduk Indonesia. Ito bisa salah satu bentuk.

Bisa bentuk lain. Proyek dipenggal-penggal karena ter­kait pembangunan jalan tol. Diserahkan saja sepenggal ini kepada investor siapa, sepenggal ini kepada investor siapa, sepenggal ini kepada in­vestor siapa. Ini pasti akan menjadi jalan yang sangat ramai, siapapun man itu. Yang kedua ini. kalau prinsipnya sudah disetujui pemerintah, adalah menawarkan proyek kepada investor untuk mem­bangun jalan to]. tempat-tem­pat pemberhentian dan se­bagainya.

Menurut saya yang rasional adalah yang kedua ini. diserah­kan kepada investor dengan terlebih dahulu pemerintah memberikan garansi terhadap kemudahan pembebasan ta­nah, garansi penggunaan kalau suatu hari terjadi pemanfaSatan tanah sehingga investor punya kemauan untuk itu.

Kalau pembiayaannya lewat APBN saya kira berat, karena ini proyek sangat besar sekali. Kalau proyek jadi direalisasikan harus disertai gerakan pembudayaan membangun kultur tingkah lake yang bail dalam memperlakukan air. Karena air adalah sumber ki­ hidupan. Dalam konsep Syaykh air adalah sumber kehidupan. Air bukan hanya digunakan menjadi air bersih melalui PDAM-PDAM, tetapi juga sebagai alat transportasi. Walau nanti ada tol di sekitar­nya, air harus tetap jadi alat transportasi digabungfungsi­kan sekalian dengan sungai Ci­sadane, Ciliwung, dan Cita­rum.

Dari sisi yuridis, perlu­kah dibuat Undang-Un­dang untuk memayungi proyek Tirta Sangga Jaya ini?
Keppres saja sudah cukup karena kita tidak untuk mem­bangun suatu zona yang eks­klusif. Keppres pasti berda­sarkan undang-undang juga. Kalau ada sesuatu yang prak­tis, kenapa harus cari yang ber­kelok-kelok. Keppres juga cu­kup kuat.

Untuk membuktikan kuatnya dukungan politik terhadap konsep ini?
Hal semacam ini pasti di­konsultasikan dengan DPR, misalnya dengan komisi yang berhubungan dengan infrastruktur, Komisi V. Tapi menurut saya, langkah per­tama meyakinkan tiga penguasa di tiga provinsi, eksekutif dan legislatifnya, lalu pemerintah pusat, juga DPR dan DPD.
Harus dihitung secara lebih teknis soal biaya, dampak lingkungan hidup dan se­bagainya. Mumpung kita membangun di era yang lebih terbuka, tidak add jeleknya didiskusikan sehingga faktor-­faktor lingkungan bisa ter­pelihara oleh kanal semacam ini.

Apalagi proyek besar sema­cam ini, beliau harus road-show ke berbagai pihak untuk meyakinkan bahwa proyek ini feasible dan mungkin dilaku­kan kalau ada kehendak ber­sama.

Lahan Jakarta tidak ter­kena proyek ini tetapi memperoleh keuntungan darinya?
Ada masalah lingkungan yang harus kita hitung. Pem­bangunan kanal tidak me­matikan sungai-sungai yang ada di Jakarta, karena sungai itu juga diperlukan. Belum lagi yang berkaitan dengan dampak lingkungan keke­ringan dan perubahan eko­sistem karena ada kanal. Ti­dak sesederhana membuat sodetan begitu.

Jadi persoalannya bukan semata-mata banjir. Konsep inipun saya kira bukan se­mata-mata tentang mengatasi banjir. Tapi membuat air se­bagai sumber kehidupan bu­kan sumber bencana. Konsep ini tetap harus menghidupkan sungai-sungai yang ada. Ke-13 sungai di Jakarta tidak boleh ada yang mati. Karena kalau sampai coati air laut yang ma­suk ke bawah tanah Jakarta, terjadi intrusi.

Saya kira yang harus dilaku­kan oleh Syaykh selanjutnya adalah, karena beliau mem­punyai jaringan luas, ada in­sinyurnya, panggil mereka itu, coba bikin sesuatu yang sam­pai ke tingkat feasibility stu­dy, sampai soal pembiayaan dan sebagainya. Terns, ba­gaimana model-model pem­bebasan tanah dan pemba­ngunannya. Ketika nanti Syaykh mengatakan penger­jaannya dilakukan oleh rakyat di sekitar situ, maka ini akan mengatasi berbagai persoalan pengangguran di kawasan itu. Tangerang penganggurannya cukup tinggi. Andaikata pro­yek ini jadi, dan mereka di­libatkan, hasilnya pasti luar biasa sekali.

Franklin Delano Rosevelt, ketika Amerika mengalami malaise (krisis ekonomi, red) krisis yang luar biasa, terjadi kelaparan dan pengangguran di mana-mana menawarkan konsep yang namanya new deal. Did membangun infra­struktur, yang mengerjakan rakyat yang tidak punya pe­kerjaan, atau bekas-bekas tentara yang nganggur. Ja­lannya terbangun rakyatnva dapat pekerjaan, dan kewajiban bank-bank membiayai. Pengerjaan Tirta Sangga Jaya juga harus begitu.

*) Slamet Effendi Yusuf, Anggota DPR daerah pemilihan Jawa Tengah.
(Sumber Majalah Berita Indoensia – Edisi 39/2007).
Bacaan Selanjutnya!

Pandangan Tidak Tepat pada Islam, Sikapi dengan Damai

Wawancara Syaykh Al-Zaytun dengan Tim JurnalisEWC-AS

Syaykh Al-Zaytun Dr. Abdussalam Panji Gumilang, mengatakan sesungguhnya pemandangan orang terhadap Islam atau muslim, dan pemandangan muslim terhadap orang lain terkadang ada cara pandang yang tidak tepat. Untuk itu, kata Syaykh, di AI-Zaytun kami mengajarkan toleransi dan damai. Tatkala kita memandang atau melihat orang gang mengikapi muslim dengan sikap gang tidak tepat, kita berikan sikap toleransi dan damai, namun kita akan jelaskan yang sebenarnya bukan seperti itu.

Oleh sebab itu sikap toleran dan damai akan melandasi persahabatan yang abadi. Untuk itu antara Amerika dan Indonesia, khususnya Al-Zaytun, mari kita tegakkan sikap toleran dan damai di dunia ini," kata Syaykh Al-Zaytun menjawab pertanyaan perihal adanya perbedaan ide dan persepsi antara timur dan barat dan bagaimana seharusnya pemerintah Amerika Serikat bersikap. Pertanyaan itu dilontarkan Tim Jurnalis East West Center (EWC) Hawaii, Amerika Serikat, yang berkunjung ke Al­Zaytun, Indramayu, dipimpin oleh Mr Richard Baker, 19-20 Mei 2007.

Kunjungan ini merupakan kunjungan kedua. Kunjungan kali ini mereka sebut bertema: Building Understanding Between The United States and The Asian Muslim Word. Sejumlah pertanyaan mereka ajukan dalam wawancara dengan Syaykh Al-­Zaytun Abdussalam Panji Gumilang, Minggu 20 Mei 2007, setelah sehari sebelumnya tim jurnalis EWC ikut menghadiri acara peletakan batu asas pembangunan Pusat Pendidikan Putra-Putri Bangsa Indonesia di Cibanoang, Kecamatan Gantar, Indramayu.

Tatkala Tim EWC bertanya, bagaimana pemerintah kami bisa berbuat baik? Syaykh mengatakan sesungguhnva berbuat baik memang tidak mudah, namun juga tidak sulit. Tapi berbuat baik untuk diterima baik orang lain tidak semudah membalikkan telapak tangan. Oleh sebab itu, kita tidak boleh mengurangi kesabaran. "Pemerintah Amerika dan bangsa Indonesia mestinya mengerti tentang perbuatan baik itu harus dibuat setup saatt. Dan jangan bosan‑ bosan, walapun ditentang banyak orang. Tapi lima, 10, 20 tahun ke depan akan dipahami oleh banyak orang," kata Syaykh Al-Zaytun, tokoh pemangku pendidikan, dan pembelajar demokrasi, toleransi dan perdamaian itu.
Tim jurnalis EWC-AS itu adalah Mr Richard Baker (Special Asistant to the President), Ms Abugail Sines (Semi­nar Program Specialist), Mr Jamse Gibney (Deputy Managing Editor, Athlantic Monthly, Washington DC), Mr Eric Gorski (Religion writer, Associated Press, Denver Coolorado), Ms Cathy Grossman (Religion writer USA Today, Washington DC), Mr James O,toole, (Politics Editor, Pittsbburgh Post Gazette, Pittsburgh Pennsylvania), Ms Stephany Shapiro, (Fautures writer, Baltimore, Mary­land), Ms Janet Tu (Religion Reporter , Seatle Times Washington), K Oanh Ha (Host, Pacific Time, KQEN 26ol Mariposa Street, San Fransisco). Ms Norila Mohd Daud (Presiders National Union of Journalists Malaysia), dan Eva Danayanti (Yayasan Pantau, Indonesia).

Mereka mengajukan sejumlah pertanyaan. Antara lain visi-misi Al­Zaytun, dari mana dana pembangunan Al-Zaytun, bagaimana aktifitas Syaykh ketika umur 25 tahun, apakah Al-Zaytun bisa dicontoh oleh negara lain? Juga tentang adanya ummat Islam Indone­sia menginginkan syariat Islam dijalankan di Indonesia dan apakah Syaykh ingin menjadi seorang politisi?

Syaykh menyambut kehadiran Tim EWC itu dengan sangat terbuka penuh rasa persaahabatan, serta menjawab semua pertanyaan dengan lepas apa adanya. Pada bagian awal Syaykh menjelaskan bahwa die barn tiba kembali ke Kampus Al-Zaytun jam 18.3o, namun merasa tidak pernah capai. "Bahkan, senang bisa bertemu dengan sahabat-sahabat dari Amerika, Malaysia dan lain-lain. Apa yang bisa kami informasikan untuk Anda semua?" sapa Syaykh. Tapi, kata Syaykh, berikan saya kesempatan berbicara dengan bahasa saya, dan Pak Richard menerjemahkan dengan baik, supaya tidak ada salah paham dalam mengungkapkan apa yang diinformasikan. Mr Richard Baker, pimpinan rombongan, memang sangat fasih berbahasa Indonesia. Dialog pun berlangsung akrab. Berikut ini petikannya:

Kami melihat Al-Zaytun ini adalah sebuah proyek besar. Bisa Anda jelaskan apa sebenarnya visi misi yang dijalankan oleh Al-Zaytun?
Proyek yang kita buat ini bukan proyek yang besar, ini proyek yang wajar-wajar saja. Adapun visinya adalah untuk kemanusiaan, supaya bisa tercipta ketentraman di bumf sehingga tercipta kehidupan yang baik.

Dari mana ide-idenya?
Ide-ide ini adalah ajaran besar dari Ilahi yang pernah disampaikan oleh manusia-manusia besar, yang memiliki pemikiran besar, cita-cita besar. Yang kesemuanya itu sejak dari zaman dahulu sampai kini terns berjalan, tidak pernah putus. Dan kami melanjutkan cita-cita indah dari pare pendahulu kita itu. Kite teruskan supaya kalau boleh lebih indah lagi. Sehingga tercipta kemanusiaan yang satu di dunia ini, same-same menjunjung tinggi kebahagiaan bersama. Dan ini harus dimulai dari pendidikan clan ekonomi, atau ekonomi dan pendidikan.

Dapatkah Anda sampaikan kepada kami, kapan Anda mulai memiliki cita-cita meneruskan cita-cita besar tersebut?
Cita-cita seperti ini sudah tumbuh dari sejak saya masih kecil. Tatkala masih belajar di sekolah dasar. Saya melihat guru saya selalu memberikan pelajaran, clan saya ingin seperti guru saya. Karena saya anggap guru itu adalah pelanjut dari kebudayaan kemanusiaan. Dan kami tengok kehidupan bangsa dari sejarah dan dari perjalanan kehidupan bangsa ini. Juga kehidupan bangsa–bangsa lain, bangsa­bangsa di dunia. Dari situlah kami

lanjutkan sampai hari ini, bekerja bersama-sama dengan para sahabat, baik sahabat An dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. Sebab kami selalu menekankan persahabatan tanpa membedakan siapa dia dan apa yang dia peluk dalam keagamaan maupun lain­lainnya. Dari situlah maka kami melanjutkan perjalanan pendidikan dan menggerakkan perekonomian bagi lingkungan kami di sini. Itu apa yang kami cita-citakan bersama sahabat­sahabat.

Sangat menarik sekali penjelasan Anda. Yang ingin saya tanyakan dari mans dana itu?
Pergerakan ekonomi dan pergerakan pendidikan selalu mendatangkan dana, sekalipun pada mulanya kita harus mendanai. Oleh sebab itu, kami selalu mendatangkan dana dan juga memprsiapkan dana. Adapun persiapan dana kami adalah dari seluruh yang ikut bersama-sama menjalankan pendidikan di sini. Dan harap dimaklumi bahwa Al­Zaytun ini dibangun dari titik yang sangat kecil sekali. Modal kami tidak satu dolar tapi seperseratus dolar, An awalnuya. Namun kami kumpulkan seluruh sahabat, maka menjadi beberapa dolar, mungkin hari ini ada juta dolar. Yang Anda semua saksikan seakan-akan besar, padahal awalnya adalah kecil. Dan kami selalu berpuasa. Kami tidak man makan nasi banyak sebelum punya nasi sendiri.

Siapa yang mengumpulkannya?
Yang mengumpulkannya adalah yang pertama dari diri sendiri, kemudian mengajak kawan-kawan. Dan hari ini pun kami akan mengajak sahabat­sahabat dari Amerika, mari kita kolektif.

Apakah dari kelompok kecil ini bisa membangun yang sebesar ini?
Amerika membangun Amerika adalah dari kemlompok keeil. Namun karena sudah lebih dari 200 tahun maka menjadi besar. Dan Al-Zaytun sudah berjalan delapan tahun. Delapan tahun memang cukup pendek, tapi dari pendek inilah kami kumpulkan. Dan kami Saban hari berpusasa, tidak makan nasi banyak-banyak, tidak makan gula banyak-banyak, tidak makan garam banyak-banyak, kami kumpulkan semua, dan nanti akan makan nasi banyak, gula banyak, dan garam banyak. Kata orang China Ipu-Ipu Lai, Ta Tau Mutiti, step by step menjadi besar.

Ada dana dari luar negeri?
Dana dari luar negeri satu di antaranya hari ini Anda akan memberi dana karena Anda menginap di hotel.

Dan tahun lalu pun Anda tinggal di sini dan membayar hotel di sini. Dan bangsa Indonesia menurut saya kaya. Karena apa? Karena jumlahnya banyak, dan kalau saya minta satu dolar dari setiap bangsa Indonesia kami mendapatkan 250 juta dolar. Itulah kami istilahkan Indonesia kaya, kalau kami man minta.

Bisa dijelaskan berapa bujet biaya yang dikeluarkan, kemudian dana yang diperoleh?
Baik! Kami punya murid di sini sebanyak lebih dari 7000 orang. Murid sekolah menengah 7000 lebih, perguruan tinggi 600, guru 600, kemudian karyawan igoo orang. Penghuni di sini lebih dari 11 sampai 12 ribu orang. Satu hari kami menyiapkan nasi 5 ton, satu kilo 6 ribu rupiah. Itu untuk nasi. Kami setiap hari memotong sapi tiga kepala, satu kilogram hidup harganya 15 ribu rupiah. Setiap hari kita potong 3 kepala, dikalikan 600 Kg, dikalikan 15 ribu. Setiap hari kami harus mempersiapkan telur paling sedikit 700 Kg. Dan setiap hari kami harus menyiapkan ikan laut dan ikan darat lebih dari 600 Kg. Kami menyiapkan gula tidak kurang dari 300 Kg. Kami tidak menghitung semua itu, namun kami harus mengadakan. Yang bisa kami tanam kami tanam, yang tidak bisa, kami beli. Karena kami mempunyai padi banyak, kami jual padi dan kami belikan gula. Begitulah hari­hari kami berjalan. Jadi terkadang kita tukar dan kadang-kadang kita menyiapkan sendiri. Itulah program, dan itulah pembiayaan setiap hari, dan berjalan sepanjang tahun. Kalau itu kami hitung dengan uang maka kami tidak man menyiapkan. Lebih baik di taruh di bank tinggal mengambil faedahnya, dan kami duduk di kursi sambil menyanyi: Bengawan Solo.

Ketika Anda masih muds apa yang ands kerjakan. Bagaimana sejarahanya sehingga bisa memiliki program seperti ini?
Saya diberi pelajaran dari orang tua dan dari guru-guru. Satu orang musuh terlalu banyak, tapi seribu orang kawan terlalu sedikit. Kemudian tentang uang seribu itu akan menjadi abu, tapi seteng itu akan menjadi genteng, maka jangan kecil hati tatkala memegang uang seteng. Begitu kata orang tua. Maka kami punya seteng, dan kami punya kawan seribu, maka menjadi seribu seteng, maka menjadi dolar dan menjadi genteng.

Bagaimana aktifitas Anda ketika umur 25 tahun?
Saya ketika umur 25 tahun menjadi guru. Tatkala itu saya baru saja menikah, dan menjadi guru, istri saya pun menjadi guru. Maka saya dari kecil sampai hari ini guru. Dan kami sangat menyukai menjadi guru.

Di Amerika guru tidak bisa mendapat penghasilan banyak?
Lain di Indonesia lain di Amerika. Di Indonesia guru seperti Panji Gumilang mampu mencetak uang, karena setiap jengkal tanah harus diukur dengan dolar.

Apakah Indonesia memiliki program seperti ini, atau apakah Al-Zaytun ini bisa dicontoh oleh negara lain?
Mestinya tidak harus mencontoh, mestinya harus berbuat. Karena kami juga berbuat dan melihat dari negara lain, dari sahabat-sahabat di dunia ini, bangsa-bangsa lainnya. Untuk itu semestinya semua berbuat seperti kita ini, sebab kalau mencontoh Al-Zaytun, Al-Zaytun belum baik. Kami sedang terns membuat yang baik. Maka kami
tengok dari mana yang terbaik itu yang kami contoh. Kami belum menilai Al­Zaytun ini sudah baik, tapi harus terns ditingkatkan dan diperbaiki. Malam ini andainya Anda semua memberikan masukan pada kami yang baik akan kami pakai.

Al-Zaytun banyak menuai kontroversi. Saya tahu Anda tidak pernah khawatir dengan apa yang Anda kerjakan. Pertanyaan saya bagaimana pendapat Anda tentang komentar-komentar orang terhadap Al-Zaytun?
Al-Zaytun adalah tempat pendidikan. Setiap tempat pendidikan itu ada saja orang yang pro dan kontra. Adapun kalau ada orang mengatakan bahwa Al­-Zaytun kontroversial sesungguhnya orang itulah yang kontroversial. Pak Richard sudah dua kali datang ke sini, dan sudah bisa menyaksikan apa yang ada di sini, saya rasa Pak Richard tidak akan mengatakan bahwa Al-Zaytun kontroversial. Karena itu saya ingin semua orang datang ke sini dan bersikap seperti Pak Richard. Karena perang mulut itu akan menjadi perang fisik, dan bila perang fisik tidak ada damai. Sedangkan kami punya motto menciptakan toleransi dan damai. Dan untuk itu kami minta semua yang pro ataupun yang kontra, supaya memahami mengapa kami diam, tidak menanggapi orang-orang itu. Karena kami akan terns berjalan menuju yang terbaik. Dan insya Allah, masa depan orang semua akan mengerti. Kami baru delapan tahun, kami yakin setelah delapan tahun akan banyak yang mengerti. Dan andainya masih ada yang tidak mengerti mengapa kita harus sedih? Mari kita jalan terns ke depan untuk kebaikan.

Ummat Islam Indonesia menginginkan syariat Islam dijalankan di Indonesia. Bagaimana pandangan Syaykh?
Bangsa Indonesia ini memiliki warga negara yang berbeda-beda. Ada yang beragama Islam, ada yang tidak beragama Islam. Ada suku bangsa yang bermacam-macam. Maka Indonesia sudah memiliki satu semboyan Bieneka Tunggal Ika (Unity in Diversity). Itu yang terjadi di Indonesia. Dan kami berjalan di atas itu. Dan supaya dipahami bahwa apa yang terjadi dalam motto bangsa Indonesia itulah Islam. Itu pengertian kami, itulah Islam. Begitulah ajaran nabi, nabi Islam. Dan itulah ajaran para nabi, tidak membeda­bedakan. Dan itulah syariat Islam.

Syaykh tadi menyampaikan tentang pendidikan di Al-Zaytun. Tetapi saya lihat Al-Zaytun telah berkembang ke arah pengembangan hal lain seperti ekonomi. Apakah sebenarnya misi Al-Zaytun ke arah global, khusus ke pendidikan ataukah ada misi lain?
Al-Zaytun adalah sebuah pendidikan, dibangun oleh Yayasan Pesantren Indonesia (YPI). Program utama YPI adalah pendidikan dan ekonomi atau di balik ekonomi dan pendidikan. Oleh sebab itu apa yang kita lakukan tidak pernah keluar dari program. Kalau tahun lalu tuan-tuan dan puan-puan berkunjung ke mari belum menemukan gerakan seperti yang hari ini ditengok, memang ketika itu kami sedang menata pendidikan. Dan setelah tujuh tahun kami berjalan kami mulai masuk ke pembangunan ekonomi.

Dalam membangun perekonomian apakah Anda juga akan masuk ke pasar global?
Apa yang kami buat di bidang ekonomi adalah untuk mensupport perjalanan pendidikan. Karena setiap orang bertanya dari mana biaya Al­-Zaytun ini. Kalau kami tidak bergerak di bidang ekonomi maka pertanyaan itu tidak terjawab. Sekarang arah ekonomi kami baru di tingkat nasional. Sedikit­sedikit kita ekspor. Namun intinya adalah untuk tingkat nasional dulu, karena kepentingannya masih memenuhi tingkat nasional. Kalau sudah tidak terpenuhi nanti baru kami bergerak ke tingkat internasional. Kalau sudah kuat di negara sendiri baru kita buka perekonomian ataupun perdagangan di negara lain.

Lalu apa target yang diinginkan dengan masuk ke pasar global?
Targetnya, semua pergerakan ekonomi ini untuk mendanai pendidikan. Sebab pendidikan tidak pernah kenal istirahat.

Tadi siang Syaykh menyampaikan bahwa pemerintah tidak membangun pendidikan di daerah Cibenoang. Apakah Syaykh juga ingin masuk ke dunia politik?
Kalau seorang pendidik berbicara tentang politik itu sudah wajar, tapi seorang politikus masuk ke pendidikan itu mengakhawatirkan. Oleh sebab itu di mana-mana guru bisa menjadi politisi tapi politikus belum tentu bisa menjadi guru.

Apakah Anda ingin menjadi seorang politisi?
Saya bangga dengan kedudukan saga sebagai guru.

Al-Zaytun sudah sukses hanya dalam delapan tahun. Al-Zaytun sekarang mendidik generasi muds bangsa Indonesia. Apakah Anda ingin model Al-Zaytun ini dapat dikembangkan di seluruh Indonesia?
Kesuksesan hari ini, kalau orang menganggap sukses, dalam delapan tahun kami belum menganggap sukses. Masih banyak kekurangan. Dan kalau dikatakan model Al-Zaytun ini dikembangakan untuk seluruh Indone­sia, itu barn satu Al-Zaytun saja orang sudah banyak berpendapat beda. Untuk itu jangan memaksakan model Al-­Zaytun untuk seluruh bangsa ini, karena kami menganut paham demokrasi. Kami tidak memaksakan model ini yang terbaik. Demokrasi mengajarkan pemahaman seperti itu. Untuk itu saya suka demokrasi. Dan sikap seperti itu konon adalah sikap seorang demokrat, tapi bukan partai demokrat, milik Hilary Clinton.

Kita sudah banyak berbicara tentang Al-Zaytun. Al-Zaytun berusaha untuk memenuhi sendiri pendanaannya, adakah hal-hal yang kontradiksi?
Sesungguhya tidak kontradiksi. Kalau kami self sufficient itu untuk kebutuhan harian. Tapi kalau kontak kami, relasi kami dengan para sahabat di dunia internasional itu adalah interdependensi. Jadi kehidupan ini mesti interdependen, tidak ada independen secara utuh, tapi interdependen. Itulah sikap kami.

Siapakah tokoh yang mengisnpirasi Syaykh sehingga membuat lembaga seperti Al­-Zayutn ini?
Tokoh-tokoh di dunia, karena kami selalu belajar sejarah. Sesuai dengan fak pelajaran yang kami dididik. Kami selalu membaca ide-ide besar manusia besar di dunia ini, sehingga kami berusaha mengikuti langkahnya yang paujang itu, walaupun hanya satu langkah. Jadi dari banyak orang. Kalau dari nabi banyak nabi yang kami ikuti, karena Tuhan mengajarkan kepada kami imani banyak nabi. Maka kami baca nabi-nabi yang ada di dunia ini, dan kami ingin mengikuti jejaknya walaupun hanya satu. langkah. Dan yang paling besar ide besar itu adalah menciptakan toleransi dan perdamaian.

Kita tahu bahwa ada perbedaan ide dan persepsi antara timur dan barat. Menurut pendapat Anda apa yang bisa dilakukan oleh Amerika untuk mengkorelasikan ide toleransi dan perdamaian seperti yang diusung oleh Al­-Zaytun?
Sesungguhnya pemandangan orang terhadap Islam atau muslim, dan pemandangan muslim terhadap orang lain terkadang ada cara pandang yang tidak tepat. Untuk itu kami
mengajarkan di sini toleransi dan damai. Tatkala kita memandang atau melihat orang yang menyikapi muslim dengan sikap yang tidak tepat, kita berikan sikap toleransi, namun kita akan jelaskan yang sebenarnya bukan seperti itu. Oleh sebab itu sikap toleran dan damai itu akan melandasi persahabatan yang abadi. Untuk itu antara Amerika dan Indonesia, khususnya Al-Zaytun, mari kita tegakkan sikap toleran dan damai di dunia ini. Itu harapan kami.

Terima kasih atas pengertian Anda. Tetapi karena kami bukan pegawai pemerintah, bagaimana pemerintah kami ini bisa berbuat baik?
Sesungguhnya berbuat baik memang tidak mudah, namun juga tidak sulit. Tapi berbuat baik untuk diterima baik oleh orang lain tidak semudah membalikkan telapak tangan. Oleh sebab itu, kita tidak boleh mengurangi kesabaran kita. Pemerintah Amerika dan bangsa Indonesia mestinya mengerti tentang perbuatan baik itu harus dibuat setiap saat. Dan jangan bosan-bosan, walapun ditentang banyak orang. Tapi lima, 10, 20 tahun ke depan akan dipahami oleh banyak orang.(Sumber Majalah Berita Indonesia – Edisi 39/2007)
Bacaan Selanjutnya!

Friday, May 11, 2007

HE. Mr. Ribhi Y. Awad, Dubes Palestina

Sangat berbahagia berada di Al-Zaytun, bisa mengingatkan saya kepada Palestine dan kepada fir-man Allah : wa al-tiin wa al-Zaytun wa hadZa al-baled al-amin. Beberapa waktu yang lalu dunia telah menyaksikan pemilu yang demokratis, terbuka dan bebas di Palestine. Saya lahir dan ber¬juang lewat pergerakan Fath. Fath adalah organisasi Palestine yang pertama memulai perjuangan bersenjata sejak 50 tahun yang lalu. Hamas menclapat kemenangan secara mutlak pada pemilu yang lalu. Gerakan ini sangat unik karena kebijakannya yang kontra dengan kesepakatan Oslo, kontra terhadap pemerintah Palestine di bawah kepemimpinan Yaser Arafat clan kontra munculnya politik clan diplomasi, Berta kontra peta perjalanan damai yang diinginkan olch dunia dalam menyelesaikan permasalahan di Palestina. Saya menegaskan kcpada saudara-saudara sekalian dan kepada seluruh dunia bahwa lnsya Allah tidak akan terjadi perang saudara di Palestine. Ada tiga gerakan di Palestine yaitu Hamas, Fath dan Jihad Islam. Gerakan Fath sudah mencapai lima puluh tahun dalam perjuangan, Fath adalah yang pertama menembakkan senjata melawan Israel di Palestine. Karenanya dengan kemenangan Hamas pada pemilu lalu, make Fath akan memberikan kekuasaan kepada Hamas. Pelopor-pelopor Fath adalah para syuhada di dunia, yang terluka mencapai ribuan orang, yang mendekam dalam penjara-penjara Israel juga ribuan, Fath membekas dalam dan tertanam di dalam jiwa orang-orang Palestine. Dan sebagian besar orang yang memilih Hamas adalah mereka yang marah dan mereka yang mengambil kesempatan dari kondisi Fath yang tercabik, dan kondisi yang terkait dengan keburukan yang menimpanya.

Saudara-saudara, saya sangat bersedih karena ini merupakan perjumpaan kita yang terakhir, karena saya akan dipindahkan ke Palestine. Setelah 15 tahun saya bertugas di Indonesia, saya mempunyai pesan yang harus saya ungkapkan kepada saudara-saudara sekalian karena saya cinta Indonesia dan mencintai negeri ini, saya mempunyai pesan untuk saudara-saudara sekalian. Saya telah menjalin hubungan dengan beberapa presiden selama lima betas tahun yang lalu, dan saya sangat menghormati mereka, tapi secara khusus saya menyarankan kepada saudara-saudara sekalian untuk mendukung Susilo Bambang Yudhoyono dan membantunya, karena die telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk kemaslahatan rakyat Indonesia, dan saya di Palestine di samping Al Quds akan selalu mendo'akan kalian semua agar selalu mendapatkan kebaikan dan karunia. Saya akan sangat merindukan Syaykh Al-Zaytun dan Saudara semua. Melalui mikropon ini izinkan saya untuk mengucapkan selamat tinggal, sebelum perpisahan kita, kare¬na saya akan bertolak ke Jakarta dan selanjutnya ke Palestine setelah bulan ini, hidup persaudaraan Indonesia Palestine, semoga Allah memberikan kekuatan dan kesehatan. Berikut ini wawancara tirn Al-Zaytun dengan Mr. Ribbi Y Awad, Dubes Palestine.
Apa kesan anda terhadap Al-Zaytun?
Al-Zaytun adalah lembaga pendidikan besar, saya sudah lima kali ke sini, saya teman syaykh, sudah saya anggap ini adalah ma'had saya. Sukses selalu Al-Zaytun. Penghuni Al-Zaytun berdisiplin, dan disiplin adalah kunci sukses. Al-Zaytun pasti sukses selama Syaykh, para pimpinan, guru-guru, dan para pelaksana dalam satu pemahaman dan satu program. Saya merasakan negeriku Pelestina di sini, Saya memakan buah Tin sejak kecil dan buah Tin itu yang tertanam di sini.

Bagaimana pendapat Anda dengan peringatan 1 Muharram?
Peringatan ini sangat penting bagi muslimin, berkat acara ini kita bisa bersilaturrahim dengan seluruh penduduk dari berbagai daerah. Ada yang dari Sumatra, Kalimantan, Jawa dan daerah-daerah lainnya. Dengan peringatan 1 Muharram ini, akan terjalin Ukhuwah Islamiyah yang kuat.

Al-Zaytun memiliki ciri khusus dalam peringatan ini, yaitu fenonema penggalangan dana, bagaimana menurut Anda?
Kite semua tabu, negeriku sampai seat ini di bawah kekuasaan Yahudi, dalam keadaan seperti ini kami butch uluran tangan dari negara-negara lain. Dengan uluran tangan dari segala pi¬hak maka kekuatan akan dapat dirasakan. Begitu pula dengan acara ini, dengan penggalangan ini, terdapat satu kekuatan besar dari Umat Islam seluruh Indonesia.
Syaykh al-Zaytun mengaplikasikan sistem pendidikan 'One pipe education system', yaitu sistim pendidikan dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, komentar Anda?
Menurut saya, sistim itu bagus. Saya mendukung ide tersebut. Sistem itu haruslah didukung faktor-faktor yang bagus pula, baik pada pendidik maupun peserta didik.

Bagaimana pendapat Anda dengan Universitas Al-Zaytun?
Semua yang ada di sini baik, apalagi sebuah universitas di masyarakat pendidikan. Namun yang terpenting adalah bagaimana agar alumni dari Universitas Al-Zaytun harus berpengalaman, karena orang hidup harus berpengalaman, maka di universitas ini, perlu diadakan latihan yang terns me¬nerus untuk mencapai tujuan tersebut.

Salah satu ciri Universitas bertaraf international adalah adanya pelajar-pelajar luar negeri. Jadi, berapa jumlah pelajar yang akan Anda kirim ke Universitas Al-Zaytun?
Sudah saya bicarakan dengan Syaykh, Insya Allah akan saya kirim 100 bahkan 200 pelajar ke sini. (Sumber Majalah Al-Zaytun – Edisi 44/2006)
Bacaan Selanjutnya!

HE Mr. Syed Mustafa Anwer Husain, Duta Besar Pakistan

Pakistan adalah negara Islam ter besar setelah Indonesia. Dua negara yang dicintai Tuhan karena Para Founding kita Soekarno dan Muhammad Ali Jinah telah membebaskannya dari segala bentuk penjajahan. Saya sangat bahagia dan senang melihat persaudaraan kedua negara ini sangat baik. Saya tinggal di Indonesia 20 tahun yang lalu semenjak sekolah di Bandung di SESKOAD. Sekarang saya datang ke Indonesia setelah 30 tahun. Dan saya melihat perubahan yang sangat banyak di negara ini, saya mendapatkan semua teman saya dan do'a saya, semga Al-Zaytun ini menja¬di tempat tinggal yang besar dan semakin besar.
Berikut ini wawancara Tim Al-Zaytun dengan Syed Mustafa, Duta Besar Pakistan

Mohon maaf sebelumnya, saya mengganggu sebentar. Senang bertemu dengan Anda. Kami dari majalah Al-Zaytun ingin berbincang-bincang sebentar dengan Bapak Syed Mustafa.
Silahkan

Apakah Anda pernah mendengar Al-Zaytun sebelum datang ke sini?
Saya mendengar tentang Al-Zaytun pada waktu undangan makan malam kemerdekaan Libya dan Syaykh AS. Panji Gumilang sendiri yang mengenalkannya.

Bagaimana kesan Anda tentang Al-Zaytun, setelah menyaksikan sendiri?
Saya sangat terkesan sekali, Al-Zaytun sangat lugs dengan sarana dan prasarana yang lengkap seperti adanya pertanian, perikanan dan peternakan.

Bagaimana pendapat Anda tentang penggalangan dana yang dilaksanakan oleh Syaykh AS Panji Gumilang di Masjid Rahmatan Lil Alamin tali?
It' ok for me. Banyak sekolah-sekolah di Pakistan melaksanakan hal yang sama untuk mendapatkan dana karena dengan demikian akan meri¬ngankan biaya pendidikan siswa.
Peringatan Muharram dan penggalangan dana semacam ini selalu diadakan setiap tahun di Al-Zaytun. Apakah Bapak ada rencana untuk menghadiri peringatan ini tahun depan?
Saya tidak tahu, karena masa tugas saya sudah habis tanggal 28 Februari nanti, dan saya butuh waktu 10 hari untuk beres-beres dan berangkat ke Pakistan, dan saya sudah tua. Tahukah Anda berapa usia saya sekarang? Coba tebak berapa usia saya?

Setelah mengetahui Al-Zaytun, kerjasama apakah yang kira kira akan Anda tawarkan?
Kita bisa bekerjasama dalam bidang percetakan (seperti majalah, Surat kabar), perdagangan, teknologi dan dalam bidang apa saja kami punya.

AI-Zaytun adalah salah satu Universitas yang bertaraf Internasional. Sebagai Duta Besar Pakistan, kira-kira berapa mahasiswa yang akan Anda kirim dari Pakistan ke Al-Zaytun?
Pertama-tama saya harus menyebarkan brosur, majalah ataupun VCD Al-Zaytun kepada mereka sehingga mereka tabu persis kualitas, sarana dan prasarananya bahwa Al-Zaytun Universitas yang diakui Internasional.

Apakah Anda yakin mereka akan percaya, bahwa di negara berkembang ini ada sebuah Universitas yang bertaraf internasional yang bisa membawa mereka menuju kesuksesan?
Kenapa tidak, untuk menjadi sukses kita tidak harus pergi ke negara¬negara maju seperti Amerika, Inggris, Jerman atau yang lainnya, akan tetapi di negara Indonesiapun kita bisa men¬jadi sukses. Contohnya saya sendiri 27 tahun yang lalu saya datang ke Indonesia untuk belajar di sini.

Di Al-Zaytun kita memiliki motto "One pipe Eduction System" yaitu pendidikan yang dimulai dari sekolah dasar sampai dengan pendidikan yang paling tinggi kita laksanakan di Al-Zaytun ini. Apakah ada pendidikan semacam ini di negara Anda?
Tidak ada.

Bukan tidak ada, mungkin belum ada?
Saya tidak yakin ada, karena saya rasa pendidikan semacam ini akan sa¬ngat susah untuk memenejnya. Di negara Pakistan sekolah tingkat tinggi atau Universitas hanya memiliki siswa kurang lebih 600 siswa. (Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi-44/2006)
Bacaan Selanjutnya!

HE. Eng. Abdul Rahim Sayed Jan, Duta Besar Afghanistan

Sebenarnya Muslim mempunyai satu bahasa, yakni bahasa Arab, namun di beberapa kesempatan kita tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa tersebut. Oleh karena itu saya yakin melalui media silaturrahim seperti ini, akan ter¬jembatani antara Al-Zaytun dan Afganistan.
Media yang tidak terlalu bersahabat dengan Islam sering menampilkan pemberitaan yang membuat kesalah-pahaman. Oleh karena itu dalam kesempatan ini saya akan sedikit menjelaskan tentang Afganistan. Afganistan adalah negara Islam, seratus persen penduduknya muslim, kami telah kehilangan lebih dari satu setengah juta suhada dalam mempertahankan Islam melawan komunisme. Dan sekarang kami mempunyai lebih dari sejuta janda dan yatim di Afganistan.
Usaha yang dilakukan pemerintah agar rakyat mengikuti aturan adalah dengan membentuk pusat-pusat studi Islam, mereka akan belajar dengan hati¬had dan akan merefleksikan al-Quran dan sunah. Tidak merefleksikan aturan yang berdasarkan emosi, peraturan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Berikut wawancara Tim Al-Zaytun dengan H.E.Eng.Abdul Rahim Sayed Jan, Dubes Afganistan.

Setelah Anda tahu bahwa Al-Zaytun memiliki universitas de¬ngan berbagai fakultas, apakah ada keinginan untuk mengadakan hubungan kerjasama kependidikan dengan Al-Zaytun?
Saya tertarik sekali dan benar-benar kagum dengan institusi ini. Saya berharap kami dapat bekerjasama dengan mengirim siswa atau mahasiswa ke Al-Zaytun, namun ada kendala yaitu tentang bahasa, mereka harus mengikuti kursus terlebih dahulu minimal satu semester kemudian bisa mengikuti pembelajaran di sini. Semua itu tidak masalah, dan saya akan usahakan, namun masih kami pertimbangkan.

Al-Zaytun telah menerima siswa dan mahasiswa dari berbagai negara seperti: Afrika Selatan, Singapura, Malaysia, Yaman bah¬kan Nigeria. Bagaimana dengan negara Anda?
Baik, namun bagaimanapun juga tetap kami pertimbangkan terlebih dahulu dengan pemerintah Afghanistan.

Bagaimana pendapat Anda ten-tang penggalangan dana yang di lakukan Al-Zaytun dengan me¬manfaatkan momentum tahun baru hijriyah ini?
Tentang pengumpulan dana yang dilakukan oleh Al-Zaytun saya sangat setuju, ini jarang dan mungkin baru saya temukan di Al-Zaytun. Ini sangat bagus sekali yaitu mengajak semua umat Islam untuk bersama-sama mem¬bangun Islam dan seperti saya lihat bahwa mereka sangat termotivasi. Saya sangat setuju. Dan lnsya Allabhkami atas nama pernerintah Afghanistan akan ikut berpartisipasi setelah kami menerima nomor rekening bank dari Al-Zaytun
Al-Zaytun menerapkan "One Pipe Education system" dalam meningkatkan kualitas pendidikan, Apa pendapat Anda?
Saya berpendapat ini sangat baik sekali, karena siswa dididik sejak dini untuk menemukan bakatnya yang sesuai, sehingga bakat ini tidak hilang atau tidak tersalurkan dan bahkan dilanjutkan sampai selesai atau sempurna.
Model sistim ini mungkin ada di tempat lain, namun saya tidak yakin dan yang jelas baru saya temukan penerapannya di Al-Zaytun ini. Dan sejauh saya tabu seperti di negara saya mau¬pun di tempat lain, setelah selesai dari sekolah menengah pare siswa memilih perguruan tinggi sesuai yang mereka minati jadi bebas. Jadi macam sistim ini tidak eksis di Afghanistan.

Bagaimana pendapat Anda tentang motto Al-Zaytun, yaitu pendidikan dan pengembangan bu¬daya toleransi dan perdamaia, se hingga Amerika sekalipun yang dianggap musuh oleh sebagian besar negara-negara Islam merupakan partner dalam pendidikan?
Saya sependapat dengan Al-Zaytun karena memang di dalam Islam tidak pernah menggagap siapapun musuh, bahkan yang memusuhipun dapat berbalik menjadi sahabat yang baik. Kita harus bisa mengambil manfaat dari hubungan baik kite dengan negara manapun juga di bidang pendidikan atau yang lainnya.
Adapun tentang toleransi dan damai telah dicontohkan oleh Rasulullah dalam Piagam Madinah. Ketika itu ada berbagai macam agama, suku dan adat istiadat namun hidup rukun dalam suatu tatanan yang bagus. Jadi saya sangat mendukung apa yang dilakukan oleh Al-Zaytun dengan motto toleransi dan perdamaiannya.

Bagaimana kesan Anda setelah mengikuti peringatan Muharram dan melihat seputar komplek pendidikan Al-Zaytun?
Tentang kesan-kesan saya: Saya benar-benar sangat terkesan dengan Al-Zaytun. Institusi ini benar-benar terorganisasi secara rapi, bahkan cara penggalangan dananya pun benar-benar unik, sangat unik sekali. Saya mendukung dan dengan cara seperti ini Islam cepat berkembang.
Dan saya memerlukan brosur-brosur tentang Al-Zaytun atau CD tentang pertanian, peternakan dan tentang aktifitas-aktifitas di Al-Zaytun, sehingga saya dapat segera menginformasikan atau mempublikasikan kepada masyarakat dan pemerintah Afghanistan.
Tentang partisipasi kami terhadap pembangunan Islam di Al-Zaytun, kami akan transfer setelah kami mene¬rima nomor rekening Al-Zaytun.
(Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 44/2006)
Bacaan Selanjutnya!

Muharammad Jastina, Kuasa Usaha Arab Saudi

Kami sangat berbahagia dapat mengunjungi Ma'had Al-Zaytun, sungguh yang kami lihat saat ini adalah sesuatu yang sangat besar, dan sungguh ini adalah kali pertama kami mehhat dan berdiri di hadapan pertemuan yang seperti ini, dan untuk itu kami bersyukur kepada Allah dan kepada pimpinan Al-Zaytun dan kepada seluruh semuanya, dengan rasa syukur yang sangat besar, dan saya berharap kalian mendapatkan kebaikan sepanjang tahun, dan saya berharap tahun ini menjadi tahun kemenangan dan kekuatan bagi Islam dan muslimin.
Berikut wawancara Tim Al-Zaytun dengan Muharammad Jastina, Kuasa Usaha Saudi Arabia.
Apa kesan bapak terhadap Al-Z aytun?
Saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Ini bukan Ma'had, tapi ini adalah kota terpadu. Seluruh fasilitas, sarana dan prasana tersedia. Menyenangkan bagi yang melihatnya. Semua fasilitasnya bagus. Kami akan berkunjung lagi pada masa-masa yang akan datang. Dan semoga Al-Zaytun selalu berkembang dan berkembang.
Syaykh Al-Zaytun berkata bahwa, AI-Zaytun bukan hanya milik Bangsa Indonesia, tapi milik um-mat seluruh dunia. Bagaimana pendapat Anda?
Itu merupakan ungkapan brilian, gagasan global yang menunjukkan bah¬wa Al-Zaytun milik seluruh penduduk bumi. Kami pun dukung gagasan tersebut.

Untuk menindak lanjuti hari ini, dapatkah kita melakukan kerjasama?
Kerja sama itu pasti ada. Silahkan tulis Surat resmi ke kedutaan, pasti akan kita tinclak lanjuti.

Adanya Universitas Al-Zaytun, dapatkah Anda mengutus tenaga ahli pendidikan yang dapat mengabdikan dirinya di sini?
Sebenarnya tugas kita bukan dalam pendidikan. Tapi kita punya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia – Arab (LIPIA) di Jakarta. Jadi, silahkan saja dari pihak Al-Zaytun untuk berkomunikasi langsung dengan lembaga kami tersebut. Pemerintahan kami menclukung kegiatan-kegiatan keilmuan di negara manapun.

Bagaimana dengan pertukaran pelajar?
Saya tidak tabu persis. Tapi saya yakin semua itu bisa saja dilakukan. Kenapa tidak?
Bagaiamana pendapat anda dengan pengumpulan dana pada saat perayaan 1 muharram di Masjid Rahmatan lil’ alamin?
Itu hal yang baik. Berbuat baik di depan orang akan mendorong orang lain untuk berbuat baik juga. Selama perbuatan itu untuk menolong Allah, itu pasti bagus.
(Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 44/2006)
Bacaan Selanjutnya!

Mr. Azad, Kuasa Usaha Republik Islam Iran

Ada pepata yang bagus di Indonesia yang pernah say pelajari satu dasawarsa yang lalu, yaitu tak kenal maka tak cinta. Oleh karena itu, perkenalan dengan negara saya Republik Islam Iran rasanya sudah cinta, sudah berhasil, tidak perlu menjelaskan mengenai Iran.
Saya mau tanya siapakah yang tidak kenal negara saya boleh mengacungkan tangannya?, ternyata tidak ada. Jadi cinta telah berhasil. Sebenarnya hubungan dua negara atau bilateral, hubungan kami dengan Indonesia eras sekali, telah berkembang dari tahun ke tahun. Dan pada khususnya hal-hal yang terbaru pasti anda telah membaca Surat kabar di Al-Zaytun yang begitu besar dan indah ini. Ada yang mondar-mandir delegasi dari Iran ke Indonesai dan Indonesia ke Iran, dan Alhamdulillah ada kesepakatan dalam urusan bilateral dan internasional.
Saya kagum melihat Al-Zaytun ini, karena saya sudah berkunjung dari Sabang sampai ke Merauke. Saya sudah lihat dari pesantren ke pesantren di Jakarta, tapi kalau dibandingkan dengan Al-Zaytun yang indah ini, dan insya Allah, kami (kedutaan Iran) akan melaporkan keberadaan Al-Zaytun ini ke Iran, dan insya Allah bisa dijalin kerjasama di berbagai bidang.
Berikut wawancara Tim Al-Zaytun dengan Mr. Azad, Kuasa Usaha Re¬publik Islam Iran
Bagaimana perayaan Anda setelah mengikuti perayaan 1 Mu¬haram di Al Zaytun?
Sangat berkesan, ini pertama kalin¬ya saya kesini melihat langsung Al-Zaytun, saya terkesan bagaimana orang¬orang berkumpul disini , Saya pernah melihat beberapa pesantren di Indo nesia dan kalau dibandingkan, saya rasa di sini good management', di sini banyak human resources, dan jika dilihat dari manager's point of view, kalian telah melakukan suatu karya besar, Karya dan usaha keras dalam sebuah management yang bagus itu bisa dilihat dari berbagai bangunan besar disini, berbagai level pendidikan yang ada disini dan juga jika dari segi aktifitas, ternyata tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu tentang Islam raja tetapi juga termasuk hal yang bisa dikatakan berbau `materi', maksud saya kalian juga melakukuan bisnis. Menarik sekali bahwa disini telah mmemadukan 'dunia dan akhirat' dengan baik, sehingga bisa menyediakan dan mencukupi kebutuhan sendiri. Saya sangat berkesan dan saya bisa bahwa hal ini tidak ditemukan di pesantren lain.

Bisa sedikit diceritakan bagaimana negara anda mengada¬kan perayaan 1 Muharam?
Sebetulnya kami merayakan tahun baru pada tanggal 21 maret menurut kebiasaan yang dilakukan orang Iran, kita tidak mempunyaii perayaan seperti yang kalian lakukan di sini. Biasanya dari tanggal 1- 10 muharam kita mengadakan kegiatan lain, yaitu memperingad kematian cucu. nabi. Jadi tidak ada kegiatan khusus dalam waktu itu.
Apa tanggapan anda bahwa dengan moment perayaan 1 muharam ini bisa memberikan semangat dan kekuatan dalam membangun bangsa ini?
Seperti yang disampaikan pimpinan pesantren di sini, saya rasa dengan apa yang telah kalian miliki, gedung¬gedung, semua aktifitas yang dilakukan di sini, kalian telah memiliki semangat itu, dan dengan mengundang kami para. duta besar untuk berkumpul disini, dan juga mengundang banyak orang, ini kegiatan yang bagus sekali, karena berbeda sekali kalau hanya melihat gambar dari buku atau majalah dengan lang¬sung melihatnya sendiri, kita akan mengerti kegiatan yang sedang dilakukan sehingga masing masing negara Islam bisa sating melihat tentang kemampuan masing-masing dan nantinya bisa bekerja sama. Seperti yang disampaikan pimpinan pesantren di sini, pesantren ini tidak lagi berbicara nasional tetapi juga internatsional.

Bagaimana pendapat anda tentang acara pengumpulan dana?
Sejujurnya tidak ada kebiasaan itu bagi kami di Iran, dan sedikit aneh bagi saya, karena biasanya orang dalam menyumbang tidak menyebutkan jumlahnya, bisa dikatakan , tergantung ke ikhlasan masing masing ketika mem¬berikan sedekah, sehingga misalnya bisa dilakukan secara diam-diam saja

Tapi bisa untuk memotivasi yang lain untuk menyumbangkan lebih kan?
Ya, tapi itu kebiasan di sini, anda tadi bertanya tentang kebiasaan kami, ya bisa dikatakan sedikit berbeda, tapi hal tadi menarik juga, bisa mengumpulkan dana yang banyak dalam satu hari, bisa mencapai 1 milyar rupiah ? hebat sekali

Pernah dengar tentang Univer¬sitas Al Zaytun sebelumnya?
Ya, Sebetulnya baru dengar, lalu mendapat undangan, lalu kami datang untuk melihat, yang kami dengar di Jakarta katanya pesantren ini besar karena memiliki 3000 murid, tapi setelah datang dan melihat sendiri, ternyata muridnya lebih dari 7000 kan? Ternyata kabar yang kami dapat di Jakar¬ta berbeda dengan sebenarnya.

Menurut Anda kerja sama apa yang bisa dijalin, khususnya dalam bidang pendidikan?
Sebetulnya kita punya center–center, dan bisa saja dari berbagai level atau bidang, misalnya level universitas, Islamic school, pertanian, pengajaran, atau buku-buku publikasi. Tapi menu-rut saya langkah pertama adalah mengenalkan dulu Al-Zaytun, kita biar kenal dulu Al-Zaytun, bisa juga melalui brosur sehingga bisa banyak kemungkinan diadakan kerja sama.

Apakah ada kemungkinan negara Anda mengirimkan siswa siswanya untuk sekolah di Al-Zaytun atau mungkin dengan memberikan bea siswa?
Ya, seperti yang sudah saya katakan tadi bahwa yang pertama ialah kenal dulu, misalnya mengetahui bagaimana sistem pengajarannya, dan juga dalam hal ini perlu ditinjau dan diketahui oleh menteri pendidikan kami karena berkenaan dengan kebijakan. Yang penting kita tahu dulu, kenal dulu lebih lanjut.

Apakah Anda punya tanggapan lain atau masukan mengenai dari segi apa kiranya bangsa Indonesia yang mayoritas muslim agar menjadi bangsa yang lebih kuat?
Sebetulnya, sebagai mayoritas muslim terbesar, disini sudah mempunyai potensi itu. Kembali kepada diri masing-masing, dimulai dengan bekerja keras, disiplin tinggi, dan yang terpenting adalah dengan merubah pola pikir menanamkan motto pada diri bangsa Indonesia, bahwa bangsa Indonesia bisa!
Tentunya merubah pola pikir melalui pendidikan kan?
YA, dan satu lagi adalah cara memanaje. Ada istilah dalam new management yaitu. 'walking around ' yaitu dimana manager tidak hanya duduk dan berada di dalam kantor saja tapi dia harus terjun ke bawah dan berbicara dengan bawahan, mencari titik lemah dan titik kuat, dan bawahannya akan bekerja keras semaksimal mungkin karana mereka tahu manager mereka bersama-sama mereka. Menurut saya pimpinan disini, sudah melakukan itu dan ini bagus sekali. (Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 44/2006)
Bacaan Selanjutnya!

Mr. Mohamud Olow Barrow, Charge d'Affaires Somalia

Ini pertama kali kami berkunjung ke Al-Zaytun, menurut pandangan saya Al-Zaytun ini merupakan lembaga pendidikan Islam yang modern dan telah disetting untuk menjawab tan¬tangan zaman. Berbagai aspek telah terangkum di Al-Zaytun. Pembangunan jasmani dan rohani telah dijalankan secara terpadu di sini. Saya baru pertama kali melihat pesantren yang ditangani secara terpadu dan modern seperti ini. Ini pesantren paling baik dengan manajemen yang sehat. Berikut wawancara Tim Al-Zaytun dengan H.E. Mr.Mohamud Olow Barrow, d'Affaires Somalia.

Bagaimana pendapat Anda tentang al-Zaytun?
Besar, luas dan benar-benar modern, saya sudah sepuluh tahun tinggal di Indonesia. Saya sudah keliling Indonesia, namun baru pertama kali ini saya menjumpai lembaga pendidi¬kan semodern Al-Zaytun, sistem yang diterapkan di Al-Zaytun benar-benar modern. Saya melihat Indonesia akan lebih maju jika sistem seperti ini diterapkan di seluruh Indonesia, Al-Zaytun merupakan Islamic Modern Production-Karya Modern Islam. Saya mengetahui Al-Zaytun dari televisi dan radio. Saya melihat dengan hal seperti ini siswa-siswa Al-Zaytun bisa belajar mandiri, mereka akan lebih siap kare¬na dibekali berbagai hal, seperti pertanian, peternakan dan lain-lain. Kami mempunyai 15 orang mahasiswa yang sedang belajar di Kalimantan Barat, saya akan informasikan berita ini bila perlu mereka dipindah ke sini.

Al-Zaytun sudah mempunyai jenjang pendidikan mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah sam¬pai Universitas, disini diterapkan pendidikan satu pipa-One pipe Education System atau Nizhomu al Tarbiyyah li Unbubha wahidah, bagaimana pendapat Anda?
Oh itu bagus. Sebuah llembaga pendidikan harus mempunyai pondasi yang kuat dan bersih itu berarti pendidikan berkesinambungan dari A sampai Z. Saya yakin siswa-siswi Al-Zaytun akan lebih siap di luar, mereka tidak akan sekedar lulus, ke¬luar dan hanya mengandalkan dasi.

Tentang peringatan 1 Muharram yang diselenggarakan di Al-Zaytun, bagaimana pendapat Anda?
AI-Zaytun mempunyai menejemen yang sehat dan bagus, yang patut diterapkan di seluruh Indonesia, ibarat sebuah mobil jika mesinnya bagus, bannya juga bagus dan segala sesuatunya bagus, maka is akan sanggup membawa penumpangnya kemana saja.
Bagaimana pendapat Anda tentang pidato Syaykh al-Zaytun?
Beliau merupakan orang yang mempunyai harapan dan cita-cita yang mulia, seorang pemimpin yang harus dicontoh, pemimpin Indonesia kede¬pan harus seperti beliau.
Tentang fenomena penggalangan dana, bagaimana komentar Anda?
Pendidikan harus maju, untuk itu harus ada usaha bersama, peran serta orang tua, dan dana yang berkecukupan, seperti negara-negara di Eropa, mereka bisa maju karena mempunyai kecukupan dana.

Setelah kunjungan ini, apakah Anda melihat adanya kemungki¬nan pemerintah Somalia melaku¬kan kerjasama dengan al-Zaytun dalam bidang pendidikan?
Oh ya pasti. Setelah ini saya akan membuat laporan, bahwa Al-Zaytun merupakan sebuah 'karya modern Islam.' Lembaga pendidikan seharusnya modern seperti ini, saya akan menginformasikan ini dan berusaha membawa pelajar-pelajar Somalia untuk bisa belajar di sini.

Ada saran atau pesan yang in-gin Anda sampaikan untuk al-Zaytun?
Saran saya apa yang saat ini diterapkan di al-Zaytun harus terus ditingkatkan, ditambah dan dikembangkan. (Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 44/2006)
Bacaan Selanjutnya!

Dr. Murat Muhamed Ramadanovic Duta Besar Bosnia Herzegovina

Ketika pemerintah menunjuk saya Sebagai duta besar, yang pertama saya pilih adalah Jakarta, Indonesia. Dan saya sangat puas bisa hadir di Al-Zaytun, karena di sini sangat enak dan sangat bersahabat. Sebagai duta besar target perta¬ma saya adalah menjalin hubungan baik antara Bosnia dan Indonesia.
Keduanya mempunyai kesamaan multikultur dalam kehidupan, mayoritas penduduknya sama-sama muslim. Kami ingin terjalin kerjasama di bidang pendidikan dengan Al-Zaytun ini. Saya kira Syaykh AI-Zaytun mau menerima murid-murid kami untuk belajar di sini. Indonesia adalah negara Islam terbesar, catatan saya tentang rakyat Indo¬nesia adalah sangat exelent dan saya berharap Allah memberkati saudara-saudara sekalian dan menunjuki jalan yang lurus. Berikut wawancara Tim Al-Zaytun dengan Dr.Murat Muhamed Ramadanovic, Dubes Bosnia Herzegovina.

Sudah berapa lama Mr Murat bertugas di Indonesia?
Saya tinggal di Indonesia baru enam bulan bersama istri dan kedua putra saya. Indonesia adalah negara yang indah dan para penduduknya ramah. Sebagai duta besar, saya mulai berusaha bagaimana menjalin hubungan yang saling menghargai dengan pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Bagaimana ceritanya Mr Murat bisa tugas di Indonesia?
Bermula ketika ditawari oleh Presiden kami untuk menjadi duta negara, maka saya memilih Indonesia, karena Indonesia adalah negara yang mayori¬tas penduduknya muslim, saya sangat senang menjadi duta besa.

Kerjasama apa yang bisa dijalin antara Bosnia dan Indonesia, khususnya AI-Zayun?
Saya sangat setuju diadakannya kerjasama antara kedua negara terutama dengan institusi pendidikan seperti Universitas Al-Zaytun dengan universitas di Bosnia. Saya akan membuat program tentang pertukaran pelajar antar kedua negara yang sama–sama mayoritas penduduknya muslim. Hal ini sa¬ngat sesuai karena adanya kesempatan yang besar untuk saling tukar pengalaman, dan apapun demi kemajuan dunia Islam nantinya. Di Bosnia banyak institusi pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam begitu pula dengan di Indonesia. Bosnia terletak di Eropa Tenggara, namun mempu¬nyai penduduk mayoritas muslim, dan di sana pun diadakan perayaan hari-hari besar ke Islam-an, seperti Idul Fitri, Idul Adha dan Tahun Baru Hijriah, seperti di Indonesia. Sebagai negara yang baru merdeka pada tahun 1995, dan memisahkan diri adanya kerjasama pertukaran pelajar sangat bagus efeknya untuk kedua negara, walaupun Bosnia hanya berpenduduk empat juta orang, dan muslimnya satu juta orang. Semua itu memungkinkan untuk bertukar, pengalaman tentang pendidikan, khususnya pendidikan Islam dan upaya itu paling bagus bila bisa diselenggarakan bersama-sama.
Selain itu kerjasama di bidang apa lagi?
Dalam kesempatan yang akan datang kami berjanji akan memberikan segala informasi tentang Bosnia ke Al¬Zaytun dan juga sebaliknya is mem¬butuhkan informasi lebih detail tentang Al-Zaytun, dengan mengirim compac disk (CD), Pamflet, brosur-brosur tentang kedua belch pihak dengan terus melakukan komunikasi baik dengan pesawat telepon maupun surat-menyurat. Kami sangat puas dapat berkunjung ke Al-Zaytun, juga bangga dan memberikan dukungan yang setinggi-tingginya untuk kemajuan institusi pendidikan terbesar di asia tenggara ini, karena pada clasarnya Indonesia me¬miliki potensi yang hebat dan sangat bagus demi mencapai masa depan yang lebih baik karena bangsa Indonesia memiliki pemimpin yang bagus seperti pimpinan di sini.
(Sumber : Majalah Al-Zaytun – 44/2006)

Bacaan Selanjutnya!

Mr. Abdul Djalil Minister Economic, Nigeria

Pada kesempatan ini, kami ingin mengucapkan selamat kepada Al-Zaytun yang mengadakan acara peringatan akbar dan indah ini. Dan saya juga ingin mengucapkan se¬lamat kepada Syaykh Al-Zaytun yang telah memberikan kesempatan yang sangat bagus ini. Dan saya juga me¬manfaatkan kesempatan ini untuk ber¬terima kasih kepada Syaykh Al-Zaytun yang telah menerima anak saya men¬jadi mahasiswa di Universitas Al-Zay¬tun dan ini adalah awal mula hubun¬gan Al-Zaytun dengan Nigeria. Berikut wawancara Tim Al-Zaytun dengan Mr.Abdul Jalil Minister Eco¬nomic, Nigeria.

Bagaimana kesan Mr Abdul Jahl. setelah hadir di Al-Zaytun?
Kami sudah empat kali berkunjung ke AI-Zaytun. Kesan kami bahwa Al¬Zaytun ini merupakan sebuah komplek pendidikan yang sangat indah, lingku ngannya sangat nyaman dan jauh dari polusi. Al¬Zaytun adalah institusi pendidikan yang sangat bagus karena memiliki lahan untuk pendidikan yang cukup luas ditata rapi, fasilitas-fasilitas yang lengkap dan modern, gedung-gedung yang besar dan indah, dan memiliki lahan-lahan pendukung pertanian yang luas. Inilah salah satu yang membuat saya terkesan dan senang dengan Al-Zaytun, di samping ciri khas keung¬gulannya yaitu dengan program-program pendidikan yang sangat comprehensive, jelas, terpadu, dan modern mulai dari elementary school hingga ke universitas yang merupakan ide-ide terobosan baru dii dalam dunia pendidikan.

Pendapat Mr Abdul jalil tentang "boarding school system" yang diterapkan di Al-Zaytun?
Kami sangat setuju, karena dengan adanya "boarding school system" maka dipastikan ada sebuah system pengontrolan yang sangat menyeluruh di dalam berbagai hal. Para pelajar akan dibiasakan untuk mentaati aturan-aturan sejak dini dan itu merupa¬kan sisi yang sangat kita harapkan, agar mereka terbiasa hidup teratur, disiplin, dengan pola hidup yang baik. Para san¬tri juga akan terhindar dari pengaruh akses-akses budaya negatif westernisasi yang tidak baik akibat globalisasi yang sekarang ini sulit dibendung pengaruhnya untuk generasi muda. Dengan adanya boarding school system yang diterapkan di Al-Zaytun menjadi sebuah solusi terutama bagi pendidikan anak saya yang saat ini sedang menuntut ilmu di Fakultas IT Universitas Al¬-Zaytun Indonesia.

Menurut Anda seperti apa figure Syaykh AI-Zaytun, A.S. Panji Gumilang?
Syaykh Panji Gumilang merupa¬kan seorang tokoh yang sangat intelligentclan brilliant. Bayangkan saja, mana ada orang di era-abad 21 inii yang dalam jangka waktu 10 tahun bisa memba¬ngun sebuah komplek pendidikan se¬perti ini. Tidak ada, bahkan sampai 20 tahun pun tidak akan dapat, hanya Syaykh Al-Zaytun yang bisa berbuat seperti ini. Syaykh Panji Gumilang te¬lah memunculkan ide-ide baru di dalam dunia pendidikan kontemporer yang bisa memberikan solusi-solusi inova¬tif menghadapi zaman ini dan masa hadapan, yang kita fahami begitu kom¬pleks dan global.

Kerjasama apa yang bisa dijalin antara Negeria dan Indonesia khususnya AI-Zaytun?
Kita akan terus menjalin kerjasama ini. Sebagai langkah awal saya akan informasikan tentang Al-Zaytun kepada seluruh warga Nigeria, kemudian saya ajak para pelajar Nigeria untuk sekolah di sini. Saya juga akan meng¬hubungi tokoh-tokoh ulama yang sa¬ngat berpengaruh di Nigeria, mengajak mereka menemui Syaykh AI-Zaytun 'dan setelah itu kembali ke sana membawa dan menginformasikan hal-hal positif tentang Al-Zaytun. Yang penting saya akan ajak dulu para pela¬jar Nigeria untuk sekolah di sini seba¬nyak-banyaknya, karena para pelajar di Nigeria itu rata-rata menguasai bidang-¬bidang olahraga. Kami di sana telah membuat kurikulum olahraga yang sangat dini mulai dari tingkat elementary school, kemudian junior high school, senior high school, dan terakhir di tingkat University. Di bidang olahraga kami juga telah menginvestasikan dana yang san¬gat besar. Kami telah menyewa banyak pelatih asing untuk meningkatkan pembinaan olah raga di sana.
(Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 44/2006)
Bacaan Selanjutnya!

Mr. Maher Lukasha, Charge d'Affaires of Jordan

Dari ibukota Yordan, Amman saya datang dengan membawa kebahagiaan pada kesem¬patan tahun barn Hijriyah hari ini. Dan saya sampaikan salam dari rakyat Yor¬dania untuk saudara rakyat Indonesia semuanya.

Kerajaan Yordania menganggap penting menjalin persaudaraan dengan Republik Indonesia. Oleh karena itu negara ini telah memiliki hubungan kenegaraan di segala bidang yang ditan¬dai oleh penandatanganan enam klausal kesepahaman clan kesepakatan dengan pemerintah Indonesia dalam bebera¬pa sektor.

Al-Zaytun adalah pohon yang me¬miliki berkah yang tertulis dalam al-Qur'an, yang minyaknya mampu un¬tuk menerangi, buahnya memberikan manfaat, ia adalah pohon yang mam¬pu memberikan kesejahteraan bagi manusia, dan kami harapkan Univer¬sitas Al-Zaytun dapat menjadi sumber keilmuan yang mampu mengeleminir pemikiran-pemikiran permusuhan bagi generasi bangsa Indonesia pada masa yang akan datang.

Kami bangga menjadi bagian dari forum ilmiah ini walau hanya sesaat, kami berharap agar kita selalu menda¬patkan karunia dan kesuksesan se¬bagaimana dijelaskan oleh seorang pe¬nyair, 'Bersababatlah kamu dengan orang pandai, karena orang pandai bampir menyerupai rasul Kamu harus mempunyai ilmu, dan harus selalu mengadakan pem¬bahasan agar kalian terus maju di negrimu sampai kepada tinkat yang paling finggi. Sebagaimana telah disampaikan oleh yang mulia duta besar Afganistan, bahwa dunia Islam pada era sekarang telah mampu menampilkan potretnya yang bagus dan indah, dan kita harus terus berusaha diberbagai bidang un¬tuk menggantikan gambaran yang bu¬ruk tentang Islam dengan potret yang indah. Insya Allah dengan usaha yang berkesinambungan potret buruk tentang Islam akan berganti dengan po¬tret yang indah. Saya berharap, sukses dan karunia selalu untuk kalian, saya juga berharap, agar dalam keadaan baik sepanjang tahun. (Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 44/2006)
Bacaan Selanjutnya!

Mr. Othman, Atase Politik Malaysia untuk Indonesia

Saya sudah berada di Indonesia ini selama lima tahun bekerja di embassy Malaysia, namun ini perta¬ma kali saya menginjakan kakii saya ke AI-Zaytun. Saya ingin mengatakan bah¬wa saya sangat terkesan begitu saya tiba di Al-Zaytun, terpekur saya dengan ba¬gunannya yang begitu indah, besar, clan juga mahasiswa dan masyarakatnya yang begitu ramai bersemangat ini.

Kami merasa sangat berbangga dan berbahagia bisa bersama di maje¬lis ini. Kami ingin mengucapkan teri¬ma kasih yang setinggi-tingginya ke Al-¬Zaytun, apalagi setelah saya mencle¬ngarkan bahwa ini adalah memasuki tahun yang ke enam. Di mana senan¬tiasa menunjukan perkembangan dari hari ke hari, walau bagaimana pun kepahaman saya di Al-Zaytun ini ter¬dapat banyak sekali pelajar dari nega¬ra Malaysia.
Saya ingin mengambil peluang ini untuk dapat memberi amanat kepada para pelajar Malaysia, termasuk semua mahasiswa-mahasiswa yang her¬ada di sini. Yaitu agar anda da¬pat memanfaatkan segalanya, sementara anda berada disini untuk mendalami ilmu yang di¬pelajari agar dapat memanfaat¬kan bila anda balik ke negara kelak.

Kami juga menghimbau kepada anda semua agar senan¬tiasa menjaga nama baik dan tata susila. Nama baik negara kita sepanjang berada di sini, juga kami ingin mengingatkan kepada anda semua jangan meninggalkan harapan dan cita¬cita ibu bapak yang begitu mur¬ni ketika mereka pertama kali mengantar untuk belajar ke sini.
Semoga anda dapat me¬manfaatkan segala peluang ini. Semasa anda telah di sini, Se¬moga hari-hari mendatang akan mendapatkan restu dan perlin¬dungan dari Allah Swt. Amin. (Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 44/2006)
Bacaan Selanjutnya!

Mr. Khamid Djabbarov, Charge d’Affaires Uzbekistan

Pertama, saya ingin memperkenal kan negara saya,Uzbekistan ada lah bagian dari Uni Soviet, ter¬letak di selatan Asia Tengah, kita pun¬ya sejarah besar terhadap Islam. Pada abad ke tujuh, Islam datang langsung ke Uzbekistan dari negara Arab. Mela¬lui kota Bukhara, kota Bukhara menjadi kota Islam terbesar dunia setelah kekhalifahan Arab. Imam Bukhari ber¬asal dari negara saya, ajarannya sangat terkenal di Indonesia. Dan saya tahu, ajaran Naqsabandiyah banyak pengi¬kutnya di Indonesia, dia juga dari negara saya.

Dan saya harap antara Indonesia dan negara saya, bisa menjalin hubungan di masa yang akan datang, kare¬na perusahaan pariwisata UMBRA, mengadakan kegiatan ziarah ke bebe¬rapa negara setelah pelaksanaan Haji, dari Jeddah, dilanjutkan ke Tazkin, lalu ke Bukhara di Samarkhand di sana ber¬ziarah ke setiap tempat peninggalan se¬jarah Islam.

Uzbekistan seperti Indonesia, 85 hingga 90% penduduknya memeluk agama Islam. Sekarang, setelah kekua¬saan atau peraturan komunis selama 80 tahun, kita mengembalikan Islam ke kehidupan kita, namun kami beri¬tahukan, bahwa sekarang ajaran komu¬nis sudah hilang sampai ke akar-akar¬nya, sekarang kehidupan kita sudah ber¬landaskan pada aturan Islam. Dan sekarang kita sudah membuka kembali sekolah-sekolah, mendirikan universi¬tas Islam, seperti Al-Zaytun ini. Saya kira kita bisa membuat hubungan de¬ngan universitas kami. Oleh karena itu, atas nama negara dan bangsa, saya sangat terkesan dengan Universitas Al¬Zaytun dan saya do'akan semoga menjadi yang terbaik. Dan semoga kita dapat menjalin kerja sama yang lebih dekat lagi.(Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 44/2006)
Bacaan Selanjutnya!

Mr. El-Rayah Abdulrahman, Third Secretary Sudan

Pertama, pada kesempatan tahun baru hijriyah ini saya meng¬ucapkan selamat tahun baru, semoga Allah selalu memberikan kebaikan dan berkah-Nya kepada kita sepanjang tahun, selanjutnya saya akan bercerita tentang Sudan. Sudan ter¬letak di jantung Afrika dengan luas satu juta meter persegi, ba¬hasa resmi di Sudan adalah bahasa Arab.
Saya sangat berbahagia dapat mewakili rakyat, pemerintah dan kedutaan Republik Sudan untuk mengucapkan, selamat tahun baru hijriyah dan saya sangat berbahagia berada bersama saudara-saudara sekalian pada pertemuan yang sangat megah ini. Saya berharap agar perjalanan pendidikan di AI-Zaytun ini lancar sesuai dengan rencana. Dan masjid yang kita tempati ini segera selesai yang terpancar rahmat untuk dunia, seperti namanya.
(Sumber : Majalah Al-Zaytun – 44/2006).
Bacaan Selanjutnya!

Mr. Khalil Ibrahim Abdulla, Sekretaris Tiga Kedubes Irak

Kami atas nama Kedutaan Irak di Jakarta dan rakyat Irak, mengucapkan selamat tahun baru Hijriyah, semoga Allah memberikan berkah bagi kita semua clan bagi ummat Islam. Kami juga sangat berterima kasih kepada Al-Zaytun atas undangan meng¬hadiri acara akbar ini. Acara ini menurut kami mengan¬dung sisi-sisi kebaikan berupa ukhuwah Islamiyah antar¬muslim. Kami sangat ingin shalat di Masjid Rahmatan Lil 'Alamin yang sangat besar ini, dan insya Allah kami di Irak akan selalu mengulurkan tangan untuk selalu memberikan bantuan dan pertolongan karena kita ada¬lah saudara seagama.
(Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 44/2006)
Bacaan Selanjutnya!

Al-Zaytun Perpaduan Harmonis antara Sistim Pendidikan dan Ekonomi

Wawancara dengan H. Irsyad Djuwaeli,
Ketua Umum Mathla'ul Anwar

Al-Zaytun merupakan teladan bagi gerakan pendidikan, disini sumber daya manusia dan sumber daya keuangan terpadu dengan harmonis, sehingga pendidikan dapat menghidupkan kegiatan ekonomi, dan ekonomi bisa menunjang pendidikan.

Tunggu sebentar, saya masih bersemangat, kira-kira itu wawancara tersebut. Selain merasa bangga dengan sistem arti dari kata yang di ucapkan oleh H. Irsyad Djuwaeli, pendidikan yang ditempuh oleh Al-Zaytun, Djuwaeli juga dalam bahasa Sunda khas Banten. la menolak interupsi dari salah seorang stafnya untuk mengakhiri wawancara.

Ketua umum Mathla'ul Anwar dan juga anggota DPR komisi VIII ini, memang sedang terpompa semangatnya dalam wawancara dengan salah seorang reporter AI-Zaytun, 7 Maret 2006 lalu. Banyak hal yang diungkapkan dalam wawancara tersebut. Selain merasa bangga dengan sistem pendidikan yang ditempuh oleh Al-Zaytun, Djuweli juga sangat berapi-api membahas kondisi dan peran lembaga-lembaga pendidikan Islam hari ini yang menurutnya, belum dapat mandiri dalam rangka megelola sumber keuangan dan masih menjadi beban pemerintah dan masyarakat.

Tokoh perjuangan pembentukan Provinsi Banten yang mempunyai peran signifikan dalam lahirnya provinsi baru, pada 4 oktober 2000 yang lalu ini, juga sangat antusias membahas peran pesantren sebagai benteng peradaban dan al-akhlak al-karimah yang hari ini menurutnya mulai mengendur.

la juga berbicara panjang lobar sekitar pencalonan dirinya menjadi gubernur Banten, tentang visi dan misinya bila kelak is menjadi ¬pemimpin Provinsi termuda di Indonesia ini. Berikut reportase lengkapnya.

Ini adalah kunjungan Bapak yang pertama kah ke Al-Zaytun Bagaimana perasaan Bapak?
Ya, kalau saya baru yang perta¬ma, tetapi orang-orang saya dari Matlaul 'Anwar sudah seringkali ke sini. Dalam kunjungan pertama saya ini, saya mendapat jawa¬ban dari apa yang sebelumnya hanya menjadi dugaan saya, dan jawabannya adalah bahwa Al-Zaytun merupakan te¬ladan bagi gerakan pendidikan, di sini sumber daya manusia dan sumber daya keuangan terpadu dengan harmonis, seh¬ingga pendidikan dapat menghidupkan kegiatan ekonomi, clan ekonomi bisa menunjang pendidikan. Setelah saya diba¬wa oleh Pak Abdul Halim ke areal-areal yang merupakan sumber daya ekonomi, misalnya ke peternakan, ke kultur jaringan, wartel, dan yang lainya, dihitung secara ekonomis semua sarana pendukung tersebut merupakan kekuatan yang cukup besar untuk menggerakkan pendidikan.

Di samping memang pendidikan di sini sudah termasuk cukup mahal karena saya dengar ada 3.500 dolar selama enam tahun. Kalau di bagi-bagi oleh kita, dikurskan termasuk pendidikan yang tinggi nilai ekonominya. Akan tetapi itu dibarengi dengan kualitas, di sini siswa bisa membaca dan menghafal Al-Qur'an, dapat bercakap dengan bahasa Inggris, bahasa Arab, mampu berbahasa Berman, Cina clan bahasa-bahasa asing lainnya yang merupakan bahasa-bahasa internasional, dan ini merupakan aset bagi peserta didik agar mampu bergaul secara internasional. Sistim pendidikan disini sangat terpadu, di satu sisi ada kontribusi besar dari siswa, di sisi lain untuk mengembangkan infrastruktur itu di ambil dari dunia bisnis. jadi tidak membebani masyarakat, tidak membebani pemerintah, sistim pendidikan seperti inilah yang seyogyanya dijadikan contoh oleh lembaga-lembaga pendidikan yang lainnya.

Tapi umumnya, lembaga-lembaga pendidikan yang ada di lingkungan kita ini selalu menjadi beban, beban masyarakat dan juga beban pemerintah. Kalau pemerintah tidak memberikan bantuan tidak bisa membangun, tidak diberikan bantuan untuk merehab tidak bisa memperbaiki sarana yang ada. Berbeda dengan yang saya lihat di Al-Zaytun, disini sangat luar biasa, salah satu contohnya adalah hotel yang ada disini, hotel ini kan setara bintang lima?, subhanallah, biasanya orang tua murid, orang tua santri datang ke pondok tidur di pondok anaknya kan? Di sini kan tidak, wall santri bisa menginap di hotel, jadi dia lihat anaknya, juga ikut rekreasi, dan juga berwisata budaya, sehingga hotel dapat memberikan kontribusi dalam pendanaan pendidikan, ini jarang terjadi, barangkali barn pertama kali ini pendidikan yang clikaitkan dengan gerakan ekonomi, clan menghasilkan in put dan out put yang cukup seimbang. Di satu sisi, kewajiban siswa harus dipenuhi, akan tetapi disini tidak ada tunjangan untuk biaya-biaya pembangunan segala macam, bangunan disiapakan oleh yayasan. Tidak ada sum¬ber dana yayasan dari luar, sumber dananya dikelola dari potensi yang dirniliki oleh yayasan. Saya melihat contoh lain, yaitu dengan merekayasa bangunan dari konstruksi yang sumbernya dibuat sendiri, itu mengurangi biaya 30 persen, kemudian menggunakan teknologi, walaupun teknologinya sudah tinggi, tetapi direkayasa oleh internal yayasan, clan juga tidak ada kontraktor, sehingga keuntungan yang bi¬asanya dinikmati oleh pemborong dapat dinikmati sendiri oleh yayasan, begitu juga dengan kultur jaringan yang dapat memproduksi berbagai pepohonan, jati emas contohnya, jati disini tidak dipotong untuk diambil kayunya, tapi disini memproduksi pohon jad yang dijual pohonnya. Sate pohon bisa menjadi seribu bibit, berapa duit itu?, sedang kalau kayunya yang dijual, paling-paling nunggu lima sepuluh tahun lagi bare bisa dipotong lagi. Dengan demikian disini ada multiple efec, yaitu mendidik manusia secara lugs dan kom¬prehensif, di samping siswa mempunyai pengetahuan, dia juga mampu untuk mempraktikkan ilmu yang ia miliki. Misalnya, insinyur bangunan bisa langsung praktik. jadi efisiensi juga kan?.

Jadi yang saya banggakan dari Pak Panji, sekolah bisnisnya tidak kita dengar, di Matla'ul Anwar beliau menjadi kepala sekolah Aliyah Matla’ull Anwar. Tapi ternyata beliau mampu menjadi ulama yang intelek, dan intelek yang Ulama, sehingga terjadilah komunitas yang ada, yang kemudi¬an bisa bermanfaat.

Bapak katakan bahwa saat ini lembaga-lembaga pendidikan Islam termasuk pesantren-pesantren hanya menjadi beban pemerintah atau beban masyarakat dalam, segi Finansial, belum mandiri. Apa solusi agar pesantren dapat keluar dari kondisi tersebut?
Pertama kita harus mengubah kurikulum. Kurikulum yang kita anut hari ini merupakan kurikulum hafalan, satu arah. jadi hafalan itu belum tentu bisa menerjemahkan, hanya hafalan, ngerti juga tidak. Semestinya selain menghafal, siswa juga dapat memahami makna dari Al-Qur'an, lalu dia mampu untuk menterjemahkan di lapangan untuk dipresentasikan bagi kepentingan umum atau masyarakat. Ini yang belum kita miliki. Yang terjadi sekarang ini adalah, orang¬tua sudah merasa bangga apabila anaknya masuk pesantren dan mampu menghafal Al-Qur'an walau tidak mengerti maknanya, karena target menyekolahkan anak dipesantren sangat sederhana, yaitu bisa ngimam, bisa ngadoa, bisa nyolatin orang mati, itu saja. Akhirnya kan terbatas, sedangkan ngimam atau shalat itu kan memerlukan dana juga. Tidak Mungkin kita shalat tanpa busana, busana tidak mugkin ada kalau kita tidak beli, tidak bisa dibeli kalau kita tidak memiliki sumber penghasilan. Kalau Anda misalnya menjadi guru, gaji guru sekarang kan bisa dihitung, kalau mengandalkan gaji guru saja, sekarang berapa duit? Ekonominya tinggi, pendapatan rendah, akhirnya utang yang menumpuk, tiap bulan kena potong koperasi, sumber lain nggak ada, ini berdampak kepada rendahnya kualitas guru yang secara oto-matis kualitas muridpun nggak bisa terjamin, kenapa? Karena guru tidak lagi memikirkan bagaimana caranya mentransfer ilmu pengetahuan dalam masyarakat, karena dia sendiri dikejar oleh kebutuhan hidup, akhirnya ngojek dan segala macam lainnya.

Dari sistem pendidikan saja saya sudah salut dengan Al-Zaytun. Artinya tidak ada guru yang di luar, berarti hidupnya dijamin. Jadi bila ada anggapan tentang sumber dana yang tidak kita ketahui. Ternyata setelah saya pelajari, saya ini orang bisnis Pak, saya pedagang, saya mempunyai perusahaan sebelum saya menjadi anggota DPR. dari kultur jaringan saja, bisa memperbanyak bibit yang ada, dari satu pohon saja, memang kalau ditebang habis, ya cuma itu saja hasilnya, tetapi kalau tiap pohon menghasilkan seribu, ada berapa pohon? Dijual, sudah menghasilkan jutaan dolar, dari itu saja sudah cukup membangun masjid. Belem lagi peternakan yang tanpa perkawinan alami, hanya satu bibit saja tanpa lalakina, bisa ngeluarkan atau melahirkan anak, itu kan proses, teknologi, itu duit juga, ekonomis.

Kalau dilihat memang kecil, tetapi di dalamnya besar. Saya bisa katakan ini sudah tingkat konglomerasi, bukan tingkat pedagang kecil, uang berputar miliyaran. Saya belum ngobrol banyak dengan Syaykh Panji, tetapi saya lihat ini potensi besar. Orang kan heran membangun gedung bertingkat-tingkat seperti ini. Ini tentu memerlukan modal dasar untuk bisa mencapainya, ada peternakan, ada perikanan, ada siswa, tentu ada infrastruktrur yang dibuat dulu, asra¬ma, gedung sekolah. Itu semua memerlukan modal dasar, dan itu tidak perlu kita tanya dari mana. Yang penting pengembangannya, modal dasar di mana pun memang diper¬lukan. Ingin menjadi guru misalnya, harus memiliki modal dasar pengetahuan, etos kerja, kedisiplinan Berta prestasi.

Disisi lain, di sini ada kombinasi, ada keterpaduan sistem, sehingga sistem nilai moral dengan nilai agama sekaligus dengan bisnis dipadukan menjadi satu, mencapai puncak, mencapai Rahmatan lil 'almin, mencapai puncak masyarakat yang sejahtera karena ada ilmu pengetahuan, ada bisnis, ada computerize, segala macam. Saya alhamdulilah tadi bilang ke Pak Panji, kakak saya ini, beliau juga guru saya, saya sudah ke Jakarta jadi ketua KAPPI beliau jadi kepala sekolah aliyah. Saya juga nggak tahu beliau pergi dari Menes, tahu-tahu sudah begini. Wong saya nggak tahu urusannya, tahu-tahu hasilnya saja kita lihat. Itulah kira-kira pendapat kami dari MA, dan mulai kita jalin kerja sama sekarang, selain juga alumni-alumni Al-Zaytun atau pun barisan-barisan kader masa lalu, yang dari PII, GPI, yang ada terkait dengan komunitas kita itu bisa menyebarkan, mendorong MA, ber¬gabunglah, agar syariat Islam ini bukan menjadi dasar negara, tetapi syariat Islam ini menjadi dasar keimanan seseorang, harus berani kita menekannya.
Bila saya menjadi gubernur Banten akan saya perjuangkan syariat Islam, asal tidak mengubah Pancasila sebagai persatuan negara atau harus mengubah NKRI, sebab itu sudah final. Yang belum final itu adalah bagaimana syariat Islam itu diakui kebenaranya, dipahami, dikerjakan oleh umat Islam, menjadi contoh bagi agama lain. Artinya jan¬gan sampai orang Islam yang jadi panutan justru korupsi. Kalau kita tidak korupsi kan jadi contoh orang lain, oh hebat orang Islam. jadi, saya tidak ada cita-cita untuk mendirikan Negara Islam, saya punya cita-cita bagaimana syariat Islam itu bukan hanya dihormati oleh semua orang, tetapi paling tidak dilaksanakan, diamalkan oleh orang Islam. Banten kan 98 persen umat Islam.

Syaykh, dalam sambutannya mengajak untuk menata pesantren dengan sistem yang modern, atau menata modern sistem dalam kehidupan pesantren, artinya pesantren spirit but modem system?
Oh ya, itu harus kita padukan. Artinya malam ada pengajian agama, siang pengajian umum, harus ada keterpaduan antara kurikulum agama dan kurikulum umum. Kita menganut paham yang mengacu ke Diknas dan ke Departemen Agama kan. Malam harus bisa mentransformas, ilmu agama, ada nahwu sharaf, ada tajwid Al-Qur'an. Itu namanya keterpaduan antara kurikulum Depag dengan kurikulum Diknas. Itu nanti akan melahirkan ulama yang intelek, intelek yang ulama. Ini yang namanya perubahan-perubahan dari yang konvensional ke yang modern. Modernisasi yang ada adalah perubahan sistem pendidikan, adapun nilai-nilai pendidikanya sama, kalau dulu kitab kaum salaf adalah kitab gundul, sekarang kitab itu sudah ada terjemahannya semua. Bedanya cuma itu saja, kalau dulu sekolah¬nya pakai kain dan sarung, dan ngedapang, kalau sekarang duduk pakai kursi. Sekarang gurunya pakai dasi, kalau dulu guru pakai dasi itu haram, kafir, karena pemikiranya belum modern. Di Menes, dulu khotbah ngegundulan nggak pakai peci dianggap tidak syah.
Di Menes, sekarang shalat sudah boleh pakai pantalon, pakai celana panjang. Dulu Syaykh Panji di usir kalau datang nggak pakai peci ke Menes, sekarang sudah bebas. Ketua Umum saja juga karena man ke sini saja pakai peci, hari-hari mah biasa. Jadi, perpaduan, kitab-kitab salafi yang diterjemahkan, oleh kita yang paham modern ini terns digunakan, sebab yang tidak bisa dimodernkan itu. akidah. Yang namanya sifat ibadah amaliah itu dimodernkan boleh, tetapi ka¬lau akidah tidak bisa dimodernkan. Rukun iman ada enam, nggak bisa itu dikatakan rukun iman ada empat. Jadi, kalau ingin membuka pencerahan kepada masyarakat yang masyarakat sendiri bisa menerima dengan asumsi-asumsi baru, atau gaya-gaya baru, atau model-model baru, karena tidak bertentangan dengan Islam, tetapi hanya cara yang beda. Nah Al-Zaytun dan MA ini punya peranan yang cukup signifikan untuk itu. Itu yang saya bilang tadi, Al-Zaytun adalah MA clan MA adalah Al-Zaytun.

Dulu pesantren mampu menjadi benteng peradaban, kebudayaan, moralitas dan akhlak bagi bang¬sa Indonesia. Sekarang Komisi Delapan pusing-pusing membuat RUU Pornografi dan sebagainya, apakah fungsi pesantren yang hari ini mulai pudar atau bagaimana menurut pendapat Bapak?
Ya, sekarang pesantrennya juga sudah terkontaminasi dengan nilai-nilai dari luar, karena gurunya, kiainya yang biasanya menekuni pendidikan sudah menjadi orang politik, ingin menjadi anggota DPR, ingin ini, ingin itu. Ini sudah meninggalkan basis, akhirnya bukan alat budaya lagi, bukan alat pembangunan mental spiritual, tetapi hanya sekum¬pulan santri yang mentalitasnya kendor. Nah, dengan adanya hal ini mestinya kiai-kiai kembali ke barak, tidak usah main politiklah, kembali ke asal, tatalah pendidikan dengan baik, kaitkan pendidikan dengan ekonomi, seperti Pak Syaykh Panji Gumilang ini.
(Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 44/2006)

Bacaan Selanjutnya!

Tuesday, May 01, 2007

Hubungan Baik Barat dan Timur

Wawancara dengan Richard W. Baker,
Speciali Assistant to the President of East West Center (EWC).

Apa yang dimaksud dengan East West Center?
East West Center merupakan organisasi kependidikan yang tidak berorientasi pada keuntungan semata. Didirikan di USA pada tahun 1960 dengan sebuah misi “Menyatukan Persepsi antara masyarakat Asia Pasifik dan USA.“

Dalam mencapai tujuan tersebut kita melakukan research-research, training dan program-program pendidikan lainnya. Adapun program utama dari EWC adalah membentuk jalinan kerjasama antara Asia dan Amerika dalam bidang pendidikan. Hal tersebut ditempuh agar kita dapat membicarakan berbagai permasalah bersama. Satu di antara program pendidikan yang kami canangkan adalah pendidikan jurnalistik, program ini telah kami laksanakan kurang lebih selama 30 tahun. Selain jurnalistik kami juga aktif mengadakan training-training kepemimpinan, khususnya training kepemimpinan yang ditujukan bagi para pemimpin muda di Asia dan Amerika, hal ini kami lakukan demi mencari solusi atas berbagai permasalahan yang terjadi. Kunjungan ke Al-Zaytun merupakan acara khusus yang diadakan dalam rangka mengenal lebih baik tentang institusi-institusi Islam di negara-negara Islam Asia pada umumnya.

Apa usaha EWC untuk menjembantani Barat dan Timur?
Saya menekankan ini karena jurnalis memiliki peran yang sangat signifikan dalam menjalin komunikasi di segala lapisan masyarakat dunia, kami melakukan kerjasama dengan guru, karena guru mempunyai peran dalam mendidik masyarakat secara luas, dan kita juga bekerja-sama dengan kelompok ketiga yaitu para pemimpin politik yang mempunyai andil sebagai komunikator di kalangan konstituen mereka. Dengan begini kami berusaha membantu mereka untuk memahami kelompok masyarakat lainnya secara luas, dan kami berharap, mereka mampu menjadi pioneer yang memancarkan sinar saling pengertian dikalangan masyarakat internasional. Hal ini kami tempuh karena kami asdar bahwa kami tidak mungkin untuk berdialog secara langsung kepada orang-perorang di muka bumi ini, maka kita berusaha untuk mengadakan dialog kepada orang-orang yang kami yakin dapat meberikan pelayanan kepada publik.

Apa usaha yang dilakukan oleh EWC dalam membentuk jalinan persahabatan antara Timur dan Barat?
Mereka seluruh program EWC dirancang untuk meningkatkan persamaan persepsi dan menjalin persahabatan serta membuat jembatan antara Timur dan Barat. Kunjungan kami ke Al-Zaytun adalah merupakan usaha untuk membentuk jembatan yang mampu menjembatani gap antara Timur dan Barat, khususnya umat Islam bangsa Indonesia dengan masyarakat Amerika.

Ada persepsi dalam benak sebagain masyarakat Amerika atau setidaknya dalam benak berbbagai kalangan masyarakat, terutama setelah kejadian 911 WTC, bahwa umat Islam adalah teroris, sementara umat Islam, terutama umat Islam di Asia beranggapan bahwa Amerika adalah penyebab berkobarnya perang melawan Islam. Mereka memandang bahwa segala aktivitas Amerika di Irak dan Afganistan merupakan perang Amerika melawan Irak dan Afganistan. Maka kita berperan untuk memperkenalkan jurnalis Amerika dengan jurnalis Asia dan mengajak mereka untuk berdiskusi dengan kami tentang sikap kedua belah pihak. Ini akan membantu para jurnalis untuk bisa menjelaskan kenyataan yang sebenarnya kepada masyarakat internasional, sehingga dapat menghilangkan atau paling tidak mengurangi kesalahan persepsi, sehingga terbentuk persamaan pandangan yang lebih baik lagi. Kami yakin bahwa pengertian akan dapat dihasilkan dengan persahabatan dan tidak saling mencurigai. Sebagaimana Al-Zaytun telah berusaha membangun perdamaian, kami juga harus membangun jembatan-jembatan perdamaian, menghilangkan kesalah-pahaman, salah pandang yang dapat ditemukan dalam masyarakat yang majemuk. Dengan begitu masyarakat dunia dapat membangun hubungan yang lebih baik. Ini memang sulit dilakukan namun tahap demi tahap ini adalah satu yang sangat penting kita lakukan. Kita harus bekerja segiat mungkin dalam mewujudkan ini semua. Kami wartawan Amerika datang ke Indonesia untuk melihat pesantren, kami ingin mengenalkan kepada wartawan Amerika tentang aktivitas yang sesungguhnya dilakukan oleh pesantren, sehingga mereka mendapat gambaran yang benar tentang pesantren, bahwa pesantren bukan tempat tumbuhnya teroris. Sebagai contoh adalah Al-Zaytun yang merupakan pesantren terbesar di Indonesia.

Apa yang akan EWC lakukan setelah berkunjung ke Al-Zaytun?
Kunjungan ke Al-Zaytun merupakan kunjungan terakhir kami di Indonesia dan besok kami akan terbang ke Bangladesh. Kami berharap minggu depan kami juga dapat berdiskusi dengan para pemimpin keagamaan, politik dan yang lainnnya tentang masalah-masalah yang sedang terjadi, terutama salah-paham dan salah-pandang umat Islam di Timur terhadap dunia Barat, dan sebaliknya salah persepsi Barat terhadap dunia Islam. Kami harap kunjungan yang kami lakukan dapat membuahkan pengertian antara jurnalis Asia dan Amerika yang mempunyai karakter yang berbeda serta hidup dalam situasi yang tidak sama. Menurut kami, ini adalah cara terbaik untuk saling memberikan gambaran dan pemahaman yang sesungguhnya tentang negeri mereka, dan selanjutnya sesuai dengan kapasitas mereka sebagai jurnalis, mereka mampu mempublikasikan gambaran dan pemahaman yang sesungguhnya tentang dunia Barat dan Timur kepada masyarakat luas.

Apa usaha kongkret yang akan ditempuh EWC dalam menyamakan persepsi, setelah mendapatkan gambaran tentang dunia Islam, terutama di Indonesia?
Program ini akan berakhir di Daka pada 7 Juli yang akan datang, kemudian kita kita pulang ke rumah masing-masing di USA. Para wartawan yang ikut bersama rombongan berasal dari seluruh negara bagian, mereka datang dari Washington DC, Carla Washington, Minneaplus, Minishorter, Sinteenade Ohayo dan Dallas, mereka akan berbagi pengalaman yang mereka dapat dengan masyarakat negeri asal mereka.

Pengalaman atas kunjungan kami ke Indonesia, terutama ke Al-Zaytun kami harap menjadi pencerahan terhadap persepsi negatif dunia Barat terhadap Islam,. Dan kami berharap Al-Zaytun menjadi satu di antara banyak pesantren di Indonesia yang mampu menjadi jendela pencerahan hubungan baik antara dunia Islam dan Barat.

Apakah sebelumnya para jurnalis juga mempunyai persepsi negatif terhadap Islam?
Ya, namun terjadinya miss understanding lebih disebabkan oleh gerakan-gerakan terorisme yang mengatas-namakan Islam, sebagaimana yang terjadi di Ukraina. Ada kecenderungan untuk melihat keterkaitan Islam dengan terorisme, namun setelah kami mengunjungi berbagai tempat-tempat peribadatan umat Islam di Indonesia dan Bangladesh, serta berdialog dengan mereka, para wartawan mendapat contoh yang spesifik dari sikap muslim di Asia bahwa sebenarnya Islam tidaklah terkait dengan aksi terorisme.

Secara fakta ada blok-blok di antara para jurnalis, bagaimana menurut pendapat anda?
Saya kira tidak begitu sesungguhnya, karena hampir seluruh jurnalis itu sangat pandai. Masalahnya adalah berita yang disampaikan oleh mass media yang tidak berimbang, sebagai contoh di Amerika sering diberitakan di media Amerika tengang bom-bom bunuh diri atau tentang pertikaian, sehingga menciptakan gambaran negatif tentang Islam dalam benak para pembaca. Demikian sebaliknya media membentuk opini negatif tentang Amerika, mereka memberitakan seakan Amerika melakukan pembunuhan terhadap warga Irak, Afganistan ataupun Pelestina, sehingga masyarakat Islam menyimpulkan bahwa USA memerangi Islam. Inilah yang mendorong kita untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Media Amrika perlu memberitakan sesuatu yang lebih baik dan lebih banyak tengang Islam, bahwa Islam merupakan agama yang damai, mereka juga perlu memberitakan usaha-usaha umat Islam dalam mewujudkan perdamaian, seperti Al-Zaytun dan institusi-institusi Islam lainnya ayng sedang berusaha membangun perdamaian dan persahabatan.

Di sisi lain terkadang orang hanya memandang dari sudut pandang mereka saja. Padahal masyarakat Amerika banyak yang simpati terhadap terjadinya bencana Tsunami di Aceh. Ketika seseorang tidak melihat dari kedua sisi secara fair maka mereka hanya melihat bahwa Amerika memusuhi Islam, Amerika membunuh Islam.

Jadi dimana letak kesalahannya? Orang Islam berkata bahwa Amerika memusuhi Islam, demikian pula Amerika mengatakan bahwa Islam memerangi Amerika, terutama setelah terjadinya Aksi bom di WTC?
Letak kesalahan adalah pada suatu fakta kecil yang mengindikasikan perselisihan, dan fakta tersebut terjadi secara berulang, yang sebenarnya, bila disikapi secara cermat bukan merupakan kontroversi, namun demi memperoleh sensasi media massa menggambarkan dan menyiarkan bahwa fakta tersebut sebagai sebuah kontroversi, sehingga masyarakat mendapatkan gambaran yang negatif tentang peristiwa yang terjadi. Berdasarkan hal tersebut kami ingin agar orang bisa melihat gambaran secara lengkap apa yang sesungguhnya terjadi. Bukan hanya dari satu sudut pandang yang menggambarkan bahwa Amerika membunuh masyarakat Irak secara brutal.

Menurut Anda siapa yang membuat gambaran negatif tentang Amerika maupun Islam?
Penyebabnya bahwa memang orang-orang Islam Indonesia sering mendapat gambaran dari surat kabar atau berita tentang pembunuhan Amerika terhadap Irak, Palestina atau yang lainnya. Namun saya juga tidak bisa mengatakan bahwa media membuat suatu kesalahan, karena memang media biasanya membuat sesuatu menjadi lebih sensasional dan kontroversial. Maka perlu bagi masyarakat Indonesia untuk mengetahui juga gambaran media yang berasal dari luar Indonesia sebagai penyeimbang. Kalau tidak demikian maka orang mudah terpancing untuk perang, marah atau tindakan yang lainnya.

Bagaimana pandangan Anda setelah melihat Islam Indonesia khususnya setelah ke Al-Zaytun?
Saya sudah cukup mengenal Indonesia, masyarakat Islam Indonesia begitu ramah, terbuka dan cinta damai serta menerima orang lain. Walaupun ada sebagian kelompok kecil yang mengatas-namakan Islam yang berusaha menciptakan permusuhan, seperti pengeboman di Bali atau Hotel Mariot.

Al-Zaytun merupakan contoh yang sangat baik bagi suatu gambaran umat Islam bangsa Indonesia, Al-Zaytun merupakan suatu institusi pendidikan Islam yang sedang membangun dan menciptakan perdamaian dan persahabatan.
(Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 45/2006 – halaman 32-35)

Berita Terkait :
  • Wawancara dengan Richard W. Baker, Special Assistant to the President of East West Center (ECW).
  • Wawancara dengan Ms. Susan Kreifeis, Media Activities coordinator EWC.
  • Wawancara dengan Tim Connolly, Internasional Editor the Dallas Morning News, Dallas, Texas, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan David, Pengamat Hal Ikhwal ke Islaman dan Editor Harian Detroit, Michigan, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan Mr. Larry Johnson Foreign Desk Editor Seattle Post Intelligencer.
  • Wawancara dengan Wiliam J.Dobson Managing Editor, Foreign Policy Washington DC.
  • Wawancara dengan David Hage, Editor Writer Minneapolis Star Tribune.
  • Wawancara dengan Arif Suditomo, News Production Manager, RCTI Jakarta.
  • Wawancara dengan Sunandar Ibn Nur, Executive Editor, Gontor Magazine, Indonesia.
  • Wawancara Wartawan Amerika dengan Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang.
Bacaan Selanjutnya!

Ingin Menulis Tentang Al-Zaytun dan Visinya

Wawancara dengan Ms. Susan Kreifeis,
Media Activities coordinator ECW.


Apa yang melatar belakangi kunjungan Anda ke Al-Zaytun?
Kunjungan kami ini sebetulnya merupakan rangkaian dari beberapa kunjungan yang kami telah lakukan di Indonesia. Ini semua kami lakukan dengan tujuan untuk dapat menciptakan hubungan baik atau persahabatan antara masyarakat Barat dan Timur sehingga tidak terjadi kesalah-pahaman.

Kami mendengar bahwa para jurnalis/wartawan dari EWC telah mengunjungi banyak tempat seperti tempat-tempat ibadah, museum, institusi pendidikan dan yang lainnya. Apa sebenarnya tujuan utama dari kujungan tersebut?
Seperti apa yang telah saya sampaikan tadi bahwa kunjungan-kunjungan tersebut dilakukan berlatar belakang yang sama dengan kunjungan kami ke Al-Zaytun. Bahwasanya banyak orang dari berbagai negara menafsirkan lain terhadap Barat maupun USA, demikian juga orang menafsirkan lain terhadap masyarakat Asia atau Timur, sehingga terjadi kesalah-pahaman yang menimbulkan konflik seperti yang tersebar di berbagai media massa atau cetak. Jadi tujuan kami adalah agar penafsiran yang salah dari kedua belahan dunia yaitu Barat dan Timur maupun penafsiran yang salah terhadap keduanya ini mendapatkan pencerahan. Sehingga orang mampu melihat secara obyektif dan fair. Dan juga kami datang untuk menjalin hubungan baik atau persahabatan dan lebih tepatnya adalah menjembatani Barat dan Timur sehingga terciptalah perdamaian dunia seperti yang sedang dilaksanakan oleh pesantren Al-Zaytun.

Sampai detik ini kami lihat jurnalistik di TV hampir seluruh fungsinya adalah untuk infotainment, sejauh mana jurnalistik berperan dalam pendidikan?
Jurnalistik berperan cukup besar dalam pendidikan, karena informasi yang akurat yang diberikan merupakan pencerahan yang mampu membuka wawasan pendidikan dan transfer ilmu atau informasi dapat disumbangkan melalui jurnalistik sehingga diakui atau tidak jurnalistik berperan cukup besar dalam pendidikan.

Al-Zaytun telah memulakan pelajaran jurnalistik semenjak SMP, bagaimana pendapat Anda?
Saya rasa itu baik sekali, sangat baik sekali karena kemahiran menulis sejak dini mampu menunjang pengembangan keilmuannya. Di USA ada suatu sekolah yang sejak dini namun difokuskan pelajarannya hanya pada jurnalistik. Namun di sisi lain. Semua ilmu dipelajari termasuk jurnalistik. “Escellent“

Bagaimana pendapat Anda menanggapi motto Al-Zaytun (Pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi serta pengem-bangan budaya perdamaian) ?
Motto ini benar-benar bagus, saya sangat setuju, sehingga kalau kita semua bermotto seperti ini, saya yakin dunia akan damai. Dan ini bisa saya rasakan ketika saya pergi ke masjid tadi dan bertemu dengan anak-anak, mereka sangat ramah dan menghormati kepada kami walau mereka tahu kami bukan seagama. Mereka terlihat gembira di masjid menikmati hafalan kita suci, walaupun mereka jauh dari negeri asal mereka. Berbagai suku bangsa berkumpul di sini dan rukun dan damai dengan menjunjung tinggi toleransi.

Apa pesan dan kesan Anda setelah mengunjungi seluruh tempat yang ada di Al-Zaytun?
Saya benar-benar takjub, nun jauh dari kota namun nampak seperti kota bahkan lebih teratur dan bersih. Gedung-gedung megah, kultur jaringan, peternakan, workshop, baching plant dan yang lainnya merupakan karya besar. Ini semua bagaimanapun juga sulit dipercaya jika tidak menyaksikan sendiri. Inilah yang membuat semua orang selalu bertanya tentang pendanaan, walaupun Al-Zaytun punya berbagai baidang bisnis namun ini semua semua juga memerlukan biaya yang benar-benar sangat besar. Saya berharap kai bisa menulis artikel tentang pesantren Al-Zaytun dengan segala visi dan misinya yang benar-benar akan menggerakkkan umat manusia untuk hidup dalam toleransi dan damai.
(Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 45/2006 – halaman 35-36)

Berita Terkait :
  • Wawancara dengan Richard W. Baker, Special Assistant to the President of East West Center (ECW).
  • Wawancara dengan Ms. Susan Kreifeis, Media Activities coordinator EWC.
  • Wawancara dengan Tim Connolly, Internasional Editor the Dallas Morning News, Dallas, Texas, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan David, Pengamat Hal Ikhwal ke Islaman dan Editor Harian Detroit, Michigan, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan Mr. Larry Johnson Foreign Desk Editor Seattle Post Intelligencer.
  • Wawancara dengan Wiliam J.Dobson Managing Editor, Foreign Policy Washington DC.
  • Wawancara dengan David Hage, Editor Writer Minneapolis Star Tribune.
  • Wawancara dengan Arif Suditomo, News Production Manager, RCTI Jakarta.
  • Wawancara dengan Sunandar Ibn Nur, Executive Editor, Gontor Magazine, Indonesia.
  • Wawancara Wartawan Amerika dengan Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang.
Bacaan Selanjutnya!

Meningkatkan Pengertian Tentang Islam

Wawancara dengan Tim Connolly, Internasional Editor
The Dallas Morning News, Dalas, Texas, Amerika Serikat.

Mengapa pilihan Anda Al-Zaytun?
Saya percaya dengan informasi orang yang telah berkujung ke Al-Zaytun dan menyarankan kami untuk mengunjugi Al-Zaytun karena Al-Zaytun merupakan sekolah yang tidak biasa bangunannya megah, lahannya luas dan modern. Bagi kami Al-Zaytun ini juga tidak terlalu jauh dari Jakarta inilah alasan kami memilih kunjungan ke Al-Zaytun.

Bisa diceritakan tentang rencana Seminar International for Senior Journalis?
Oh ya bisa. Seminar itu mempunyai dua bagian. Bagian pertama adalah sekelompok jurnalis Asia mengadakan perjalanan ke Amerika dan bagian kedua adalah para jurnalis Amerika mengadakan perjalanan ke Asia kemudian kami bertemu di tengah-tengah ketika para jurnalis Asia menyelesaikan perjalanan mereka ke Amerika dan sebelum para jurnalis Amerika pergi ke Asia, kami bertemu di Hawai dan saling kenal dan berbicara. Mereka memberitahu kami tentang orang-orang di negera mereka termasuk Indonesia dan Malaysia , Singapura dan India yang tidak percaya dengan negara Amerika dan mempunyai kecurigaan, bahwa kami akan memberantas dengan motif mengadakan perang dan teror, mereka akan menjelaskan bagaimana perasaan rakyat mereka terhadap Amerika. Kami membicarakan bagaimana negara kami tidak begitu paham tentang Islam dan persepsi dan kelakuan yang dipengaruhi oleh berberapa teroris pada kejadian 11 September 2001 yang dilakukan oleh orang –orang yang katanya mengatas-namakan Islam. Jadi, terdapat rasa ketidak-percayaan di USA dan ketakutan akan Islam. Tujuan kami dalam perjalanan ini adalah untuk mendapatkan pengertian yang lebih baik tentang Islam dan negara-negara dimana Islam merupakan agama yang penting.

Apa yang bisa diambil dari kunjungan ke Al-Zaytun?
Kunjungan ke Al-Zaytun sangat membantu kami, karena hal ini menunjukkan kepada kami beberapa hal dan bagaimana sekolah muslim merupakan suatu misi pendidikan. Dan Al-Zaytun merupakan tempat yang mempunyai pendekatan modern dan itu mendorong para pelajar untuk mengikuti hal-hal yang menarik seperti musik, seni, olahraga, sebaik mereka mempelajari Fisika, Kimia, bahasa Inggris dan bahasa lain, dan pelajaran-pelajaran tentang agama yang penting bagi kita semua. Tapi saya pikir penting juga untuk memasukkan banyak pelajaran muatan lokal di dalam kurikulum. Itulah yang saya banggakan dari Al-Zaytun.

Apa pandangan Anda tentang Islam setelah berkunjungan ke Al-Zaytun?
Saya pikir perjalanan ini membuka wawasan baru bagi kami dan membantu kami untuk meningkatkan pengertian pemahaman tentang Islam dan kami semakin mengerti bahwa orang-orang Al-Zaytun sama seperti kami di Amerika dan kami mencoba mempelajari untuk meningkatkan pengertian dan saling mengerti. Dan saya pikir itu merupakan kunci menghilangkan rasa curiga dan ketidak-percayaan.

Menurut Anda, seharusnya memposisikannya seperti apa jurnalis itu ketika mengangkat suatu masalah di masyarakat?
Kita tidak selalu bisa menyelesaikan masalah. Apa yang bisa para jurnalis lakukan adalah meberikan pengertian kepada orang-orang tentang suatu masalah. Dengan cara seperti itu. Hanya dengan memberikan kuasa kepada orang-orang dengan pengertian yang lebih baik akan situasi ini. Saya pikir hal ini akan membantu orang-orang untuk meraih penyelesaian.

Bagaimana semestinya peranan jurnalisme dalam mengangkat suatu masalah dalam masyarakat?
Pertama-tama peranan jurnalisme adalah melihat tempat-tempat yang berbeda dan pelajari tentang situasi. Itu adalah langkah pertama karena kita semua mempunyai batasan pengertian dan kita bisa mengetahui tentang banyak tempat dan segala hal. Itu penting untuk mendidik kita sendiri, jadi kita bisa memulai membantu orang lain yang membaca surat kabar dan mendengar berita dan membantu mereka untuk mengerti situasi tempat yang jauh.

Bagaimana peranan EWC untuk menyatukan berbagai bangsa di dunia ini melalui jurnalisme?
East West Center
adalah organisasi yang bertujuan menyatukan perubahan. Sudah lama menjalankan hal seperti ini secara spesifik untuk meningkatkan pengertian di antara negara0negara di daerah Asia Pasifik. Beberapa dari rombongan kami berkata bahwa suatu hal yang disayangkan karena kita tidak mempunyai jenis organisasi yang sama di USA yang menyelesaikan masalah-masalah di Timur Tengah, padahal begitu banyaknya masalah di sana East West Center benar membantu untuk meningkatkan pengertian. Jadi, benar suatu peran penting bagi media untuk mencoba memberikan informasi kepada masyarakat dengan lebih baik.

Bagaimana peranan jurnalisme dalam kehidupan pluralisme sekarang?
Saya pikir jurnalisme mempunyai peranan penting dalam kehidupan pluralisme karena kehidupan pluralisme adalah salah satu dari banyak perbedaan partai dan pandangan menyangkut jurnalisme yang merupakan sarana bagi partai dan masyarakat yang berbeda untuk bertukar pikiran dan saling kenal. Dengan cara itulah kita menyelesaikan perbedaan yang bisa menyebabkan persoalan.

Menurut Anda, sebenarnya seperti apa jurnalisme yang objektif itu?
Saya pikir tujuan jurnalisme yang objektif itu adalah tidak membiarkan pendapatan pribadi kita merubah apa yang kita bicarakan. Kita semua mempunyai perasaan tentang masalah di kemudian hari tapi kita sebagai jurnalis mencoba untuk tidak membiarkan opini kita mengubah apa yang kita jelaskan kepada masyarakat.

Seberapa besar peranan jurnalis dalam menciptakan perdamaian dunia?
Peranan jurnalis sangat penting, jurnalis bisa menciptakan perdamaian dunia karena damai bisa ditegakkan dengan memahami apa yang terjadi. Sehingga mereka bisa meraih suatu keputusan yang bijak dan tahu apa yang harus dilakukan.

Dalam pidatonya Syaykh Al-Zaytun mengatakan bahwa kedatangan para jurnalis dari Amerika ini adalah sebuah persahabatan dalam kemanusiaan. Apa pendapat Anda?
Saya pikir ketika kita mengetahui bahwa kita merupakan bagian dari kemanusian adalah kunci untuk saling mengenal dan menyelesaikan masalah tentang tentang batasan-batasan nasional atau perbedaan agama, ras yang berbeda. Karena kita merupakan bagian dari kemanusiaan dan kita mempunyai hal yang sama daripada perbedaan-perbedaan yang memisahkan kita.

Apa pendapat Anda tentang moto Univesitas Al-Zaytun bahwa ajaran Ilahi untuk semua?
Hal mengingatkan kita semua bahwa ajaran Ilahi sangat berguna bagi kehidupan manusia.

Pendapat Anda tentang program pendidikan yang dilaksanakan di Al-Zaytun?
Bagi saya hal ini terlihat sangat kaya dan berkurikulum. Hal lain bahwa saya pikir sangat menarik dan sekolah yang komprehensif. Saya pikir penting bagi anak-anak untuk belajar dalam lingkungan yang baik. Begitu juga dengan para mahasiswanya. Jadi, saya sangat tertarik dengan program Al-Zaytun.

Apa yang akan Anda lakukan setelah kunjungan ini?
Kami akan berdiskusi tentang hasil temuan-temuan yang kami dapat dari Indonesia dan kami akan bicarakan peranan agama di masyarakat. Aoa yang kami temukan adalah banyak suara yang bicara tentang masalah di Indonesia sekarang yang merupakan kontroversi pornografi bagi organisasi Islam di Jakarta. Banyak hal yang akan kami diskusikan. Dan saya akan coba menulis untuk media yang ada di Amerika.

Komentar Anda tentang Indonesia?
Apa yang saya suka tentang Indonesia adalah penduduknya ramah, baik, lembut, meskipun saya tidak paham akan bahasa mereka, namun kami merasa akrab seperti di negara sendiri.

Apa pandangan Anda terhadap pelajaran jurnalistik di Al-Zaytun?
Ide pengajaran jurnalistik yang di tingkat menengah, sungguh merupakan ide yang cemerlang. Jurnalistik adalah mempelajari sesuatu dan kemudian memberitahukan kepada khalayak ramai. Saya pikir hal tersebut merupakan langkah maju. Menandakan bahwa penghuni Al-Zaytun orang yang paham globalisasi dan mempunyai pandangan terbuka tentang dunia.

Kesan Anda tentang Al-Zaytun?
Saya terteraik Al-Zaytun. Kami semua tertarik kemegahan gedung-gedungnya dan besar kampusnya. Sekolah yang baru dibangun pada 1999 perkembangannya sudah secepat ini. Dan sangat menyenangkan melihat sekolah yang memadukan segala aktivitas ekonomi sperti pertanian, kehutanan, peternakan, perikanan, water treatment dengan teknologi yang cukup mumpuni. Simpulnya saya sangat terkesan.
(Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 45/2006 – halaman 36-38)

Berita Terkait :
  • Wawancara dengan Richard W. Baker, Special Assistant to the President of East West Center (ECW).
  • Wawancara dengan Ms. Susan Kreifeis, Media Activities coordinator EWC.
  • Wawancara dengan Tim Connolly, Internasional Editor the Dallas Morning News, Dallas, Texas, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan David, Pengamat Hal Ikhwal ke Islaman dan Editor Harian Detroit, Michigan, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan Mr. Larry Johnson Foreign Desk Editor Seattle Post Intelligencer.
  • Wawancara dengan Wiliam J.Dobson Managing Editor, Foreign Policy Washington DC.
  • Wawancara dengan David Hage, Editor Writer Minneapolis Star Tribune.
  • Wawancara dengan Arif Suditomo, News Production Manager, RCTI Jakarta.
  • Wawancara dengan Sunandar Ibn Nur, Executive Editor, Gontor Magazine, Indonesia.
  • Wawancara Wartawan Amerika dengan Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang.
Bacaan Selanjutnya!

Menjembatani Perbedaan Melalui Jurnalisme

Wawancara denganDavid Crumm, Pengamat Hal Ikhwal Keislaman
dan Editor Harian Detroit, Michigan, Amerika Serikat.


Usaha apa saja yang dilakukan oleh East West Center selama ini. Dan bagaimana hasilnya?
Kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk mengetahui dan mengunjungi berbagai negara belahan dunia yang belum kami kunjungi sebelumnya. Dan kami telah mengadakan kunjungan ke Indonesia selama lima hari untuk melihat keadaan orang Islam dari berbagai organisasi massa dan institusi Islam. Ini merupakan perjalanan yang cukup sukses. Ini adalah bahan yang sangat mengesankan bagi saya terutama di Al-Zaytun, kami sangat terkesan dengan institusi ini. Di antara program yang dilaksanakan oleh East West Center adalah mengunjungi lembaga-lembaga pendidikan, museum-museum dan tempat-tempat peribadatan.

Apa saja manfaat kunjungan Anda tersebut?
Saya adalah salah satu penulis di Detroit, Michigan. Michigan adalah salah satu wilayah besar di Amerika Serikat. Maka, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menulis segala hal yang saya dapatkan di sini.

Berbicara tentang seminar internasional untuk wartawan senior yang Anda ikuti, apakah seminar internasional tersebut dilaksanakan secara reguler?
Ya,benar. Seminar tersebut dilaksanakan setiap tahun. Saya mengikuti seminar tersebut dua tahun lalu yang diadakan di Washington DC. Saya kembali mengikuti seminar untuk tahun ini yang dilaksanakan di Indonesia dan Bangladesh.

Bagaimana cara jurnalisme, khususnya East West Center merespon problematika yang timbul di masyarakat?
Kami akan berusaha keras untuk menulis dengan tepat dan akurat. Ini semua membutuhkan banyak riset dan interview serta banyak kunjungan-kunjungan. Dan semoga, kunjungan ini akan menambah akurasi pemberitaan kami terhadap Islam dan dunia Barat.

Apakah jurnalisme memilki peran penting dalam menciptakan toleransi dan perdamaian antar umat manusia?
Ya, saya yakin sekali itu. Bahwa jurnalisme memiliki peran penting dalam menciptakan toleransi, perdamaian dan kemanusiaan antar umat di dunia. Tapi, kita tidak bisa bekerja sendirian, kita butuh keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Bagaimana caranya?
Yang pertama kami lakukan adalah menulis sebanyaknya untuk meluruskan kesalah-pahaman antara Timur dan Barat. Termasuk di Amerika. Terutama setelah terjadinya peristiwa 11 September 2001, kami menulis secara akurat dan memberikan gambaran yang sebenarnya kepada publik.

Sebagaimana kita hidup di era plural ini, adakah jurnalisme berperan dalam era tersebut?
Banyak perbedaan yang ada saat ini, kultur, budaya, agama, etnis dan lain sebagainya. Maka dengan perbedaan tersebut mesti dijadikan satu bentuk kemanusiaan yang saling menghormati satu dengan lainnya. Kami sebagai jurnalis, akan menjembatani perbedaan dan persepsi tersebut.

Berbicara tentang jurnalisme, Al-Zaytun telah mengajarkan pelajaran Jurnalistik pada santri yang dimulai dari kelas tiga sekolah menengah. Bagaimana opini Anda?
Ada beberapa sekolah jurnalistik favorit di Amerika Serikat. Menurut pendapat saya, jurnalisme itu adalah berusaha keras untuk mendapatkan fakta atau kebenaran. Menurut orang Islam kebenaran itu sebagaimana yang diwahyukan Tuhan dalam Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam mencari kebenaran bagi jurnalis.

Moto Al-Zaytun adalah mengembangkan budaya toleransi dan budaya perdamaian. Apa pendapat Anda?
Itu adalah tujuan yang sangat mengagumkan. Setelah saya memasuki kampus ini, saya merasakan moto tersebut, seluruh penghuninya menyambut kami dengan ramah dan bijaksana, itu merupakan hal yang sangat-sangat menakjubkan. Sangat tepat sekali bila moto tersebut menjadi moto Al-Zaytun. Kalian menunjukkan semua yang ada pada kami. Ini merupakan hal yang luar biasa.

Bagaimana dengan sistem pendidikan satu pipa (one pipe education system), yang diterapkan Al-Zaytun?
Sistem yang luar biasa. Satu hal penting yang patut dibanggakan oleh orang Islam. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Syaykh Al-Zaytun, bahwa pendidikan sangat penting dan pendidikan itu membutuhkan waktu panjang. Penyelenggara pendidikan yang tak terputus dan dengan menggabungkan antara pria dan wanita adalah sangat bijaksana.

Syaykh mengetengahkan wacana tentang kemanusian. Bahwa tidak ada perbedaan antara Timur dan Barat. Bagaimana menurut Anda?
Al-qur’an sendiri mengatakan : “Allah menciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kalian saling kenal mengenal“. Dengan perbedaan itulah mereka mengenal satu dengan lainnya, maka tercipta satu kemanusiaan, satu persaudaraan. Apa yang dikatakan oleh Syaykh Al-Zaytun adalah sama dengan apa yang ada dalam Al-qur’an.

Apa yang akan anda lakukan setelah kunjungan ini?
Ketika saya pulang nanti, saya akan menulis semua tentang perjalanan selama di Al-Zaytun, tempat yang luar biasa ini.

Bagaimana perkembangan jurnalisme di kota Anda?
Saya adalah penulis di salah satu harian di Detroit, Michigan. Setiap hari kami mencetak kurang lebih empat ratus ribu eksemplar dan untuk hari Ahad mencetak sembilan ratus eksemplar. Kota Michigan sendiri adalah kota yang berpenduduk muslim terbesar di Amerika.

Bagaimana keadaan komunitas muslim di sana?
Pada umumnya, mereka memiliki rasa hormat yang tinggi, mereka profesional. Ada yang menjadi insinyur, dokter, guru dan lainnya. Mereka sangat dermawan. Kita berusaha semaksimal mungkin untuk membangun sikap toleran dan membangun hubungan yang baik satu dengan yang lainnya.

Bagaimana pendapat Anda tentang Syaykh Al-Zaytun?
Bila seseorang memiliki kemampuan memimpin dan bervisi, serta mampu membangun sebuah institusi dengan cepat, tentunya itu adalah pemimpin yang luar biasa. Saya buktikan dengan melihat dan mengamati seluruh yang ada di Al-Zaytun ini.

Apa intisari yang dapat Anda ambil dari pidato Syaykh Al-Zaytun?
Saya sangat setuju dengan wacana “satu kemanusiaan“ yang digulirkan oleh Syaykh. Pendidik dan jurnalis mestilah bekerja bersama secara stimultan untuk membangun kemanusian. Pendidikan mendidik generasi untuk membuka jendela dunia, dan jurnalis juga demikian.
(Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 45/2006 – halaman 39-40)

Berita Terkait :

  • Wawancara dengan Richard W. Baker, Special Assistant to the President of East West Center (ECW).
  • Wawancara dengan Ms. Susan Kreifeis, Media Activities coordinator EWC.
  • Wawancara dengan Tim Connolly, Internasional Editor the Dallas Morning News, Dallas, Texas, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan David, Pengamat Hal Ikhwal ke Islaman dan Editor Harian Detroit, Michigan, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan Mr. Larry Johnson Foreign Desk Editor Seattle Post Intelligencer.
  • Wawancara dengan Wiliam J.Dobson Managing Editor, Foreign Policy Washington DC.
  • Wawancara dengan David Hage, Editor Writer Minneapolis Star Tribune.
  • Wawancara dengan Arif Suditomo, News Production Manager, RCTI Jakarta.
  • Wawancara dengan Sunandar Ibn Nur, Executive Editor, Gontor Magazine, Indonesia.
  • Wawancara Wartawan Amerika dengan Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang.
Bacaan Selanjutnya!

Terkesan Visi Kemanusiaan Syaykh AS Panji Gumilang

Wawancara dengan Mr. Larry Johnson
Foreign Desk Editor Seattle Post Intelligencer
Bagaimana dengan penampilan kesenian tadi?
Bagus sekali, saya baru kali ini melihat pertunjukan kesenian Indonesia. Penarinya, penyanyinya, bagus sekali, menarik.

Jadi ini pertama kalinya Anda ke Indonesia?
Ya, ini pertama kali saya ke Indonesia.

Bagaimana dengan pidato Syaykh Al-Zaytun tadi?
Saya sangat terkesan dengan Grand Chancelier Anda, ide-ide beliau tentang kemanusiaan betul-betul ide universal.


Bagaimana usaha East West Center (EWC) sendiri untuk menentukan persahabatan, khususnya dalam kehidupan pluralisme?
Saya pikir semua orang saling kenal seperti yang disampaikan oleh David Crumm, bahwa dia akan merubah cara menulis kalau sudah kembali ke USA, akan lebih menggambarkan secara jelas tentang apa yang terjadi sebenarnya. Dan saya juga mempunyai sirkulasi sebanyak 50.000 exemplar untuk membukukan yang sebenarnya sehingga orang akan tahu dan akan mengikuti tentang apa yang terjadi.

Dan kedatangan Anda ini sehubungan dengan diadakannya seminar untuk para jurnalis. Apa tujuannya?
Ya, kami telah mengadakan seminar di Hawaii yang dihadiri lima jurnalis dari Asia, dari negara-negara Islam di Asia, dari Jakarta juga ada. Berbicara satu sama lain agar saling lebih memahami.

Kami juga mendengar EWC mengadakan kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat religius, museum, dan institusi pendidikan. Apa tujuannya?
Ya, untuk melihat dan mengetahui apa dan bagaimana tentang kebudayaan lain, atau jika ada pendekatan kami bisa memahaminya yang intinya ke depan untuk mempererat hubungan antara Barat dan Timur, khususnya Asia Pasific.

Termasuk Anda, berkunjung ke Al-Zaytun ini?
Ya, dari sini sangat mengesankan, semuanya telah dilaksanakan dengan baik di sini, pertaniannya berjalan dengan baik, penerapan ilmu pengetahuan, pendidikan juga bagus.

Pernah menemukan tempat lain, seperti ini?
Tidak, asya baru menemukannya di sini.

Termasuk di negara Anda?
Ya, di sana ada juga boarding school, tapi tidak seperti di sini, berbeda sekali di mana anak-anak pergi ke sekolah untuk beberapa jam belajar tapi mereka kembali lagi ke rumah.

Apa peran jurnalistik khususnya dalam menentukan kehidupan yang toleran antar umat manusia?
Sebetulnya kami telah melakukan kesalahan-kesalahan khususnya di USA. Hal itu mempunyai andil terhadap permasalahan-permasalahan yang kami miliki saat ini. Jadi penting sekali tentang pengadaan berita yang sebenarnya atau pengklarifikasian. Beberapa media memberi berita bagi orang-orang Amerika dan pemerintahannya dan di situlah jurnalistik berperan besar.

Misalnya setelah Anda tahu sesuatu yang sebenarnya, langkah Anda adalah memperbaikinya?
Ya, tentu saja dan itu akan saya lakukan untuk selalu memberikan penilaian yang sebenarnya, sehingga tercipta understanding satu sama lain, di situ akan tercipta saling menghormati dan toleransi.

Sekarang ini porsi di media, infotainment sangat besar dibandingkan berita, menurut Anda bagaimana tentang hal ini?
Ya, bisa dikatakan hal itu buruk sekali, makanya saya tidak suka bekerja untuk hal-hal yang hanya mencari berita tentang selelbritis saya hanya ingin menyajikan berita-berita yang betul-betul informatif, tidak hanya menghibur.

Untuk Anda ketahui, di sini pelajaran jurnalistik telah diajarkan di kelas 3 SMP, bagaimana menurut Anda?
Bagus, dan yang terpenting tidak harus menjadi wartawan. Hal itu akan membangkitkan pikiran/pandangan yang kritis, baik tentang masalah-masalah politik, pemerintahan dan lain-lain. Dan hal itu sangat baik, menjadi kritis dalam cara yang positif. Hal ini yang seharusnya dimiliki oleh sebuah surat kabar dan ini harus dilakukan untuk membuat negaranya lebih baik, membuat hubungan antara sesama yang lebih baik.

Anda pernah mendengan tentang Al-Zaytun, khususnya tentang Syaykh, sebelumnya di mana?
Ketika dalam perjalanan ke sini saja, makanya saya sangat terkesan dengan ide-ide beliau, juga dalam pidatonya, tentang kemanusian, persamaan, bahwa kita semua adalah sama.

Ya, kita bersaudara?
Betul, apapun agama kita, kita adalah saudara dan hal ini bagus sekali.

Anda mempunyai masukan tentang institusi kami?
Tidak, saya rasa saya tidak berada dalam chancily posisition yang berhak untuk itu. Di sini sudah bagus dan Anda punya grander yang hebat.

Tidak apa-apa, mungkin ada pendapat lain?
Tidak.

Anda akan kembali berkunjung ke sini?
Ya, saya ingin sekali, tapi saya harus meyakinkan dulu atasan saya bahwa kita harus kembali mengujungi tempat ini, suatu saat.

Jika anak Anda diskolahkan pada sistem pendidikan seperti ini bagaimana?
Saya punya anak laki-laki 17 tahun dan anak perempuan 13 tahun, saya rasa hal itu berbeda dengan kebiasaan di Amerika untuk mengirim anaknya di boarding school, saya rasa saya belum siap berpisah dengan anak saya, berpergian lama seperti ini pun saya sudah sangat merindukan mereka.

Tadi Anda berbincang dengan beberapa anak-anak (santri) di sini, bagaimana menurut Anda tentang mereka?
Mereka ramah-ramah dan berani, pasti hal yang sulit berpisah dengan orang tua mereka saat-saat pertama mereka di sini. Tapi saya salut, mereka jadi terbiasa.
(Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 45/2006 – halaman 40-41)

Berita Terkait :
- Wawancara dengan Richard W. Baker, Special Assistant to the President of East West Center
(ECW).
- Wawancara dengan Ms. Susan Kreifeis, Media Activities coordinator EWC.
- Wawancara dengan Tim Connolly, Internasional Editor the Dallas Morning News,
Dallas, Texas, Amerika Serikat.
- Wawancara dengan David, Pengamat Hal Ikhwal ke Islaman dan Editor Harian Detroit,
Michigan, Amerika Serikat.
- Wawancara dengan Mr. Larry Johnson Foreign Desk Editor Seattle Post Intelligencer.
- Wawancara dengan Wiliam J.Dobson Managing Editor, Foreign Policy Washington DC.
- Wawancara dengan David Hage, Editor Writer Minneapolis Star Tribune.
- Wawancara dengan Arif Suditomo, News Production Manager, RCTI Jakarta.
- Wawancara dengan Sunandar Ibn Nur, Executive Editor, Gontor Magazine, Indonesia.
- Wawancara Wartawan Amerika dengan Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang.
Bacaan Selanjutnya!

Kader Cinta Disiplin

Wawancara dengan J. Dobson
Managing Editor, Foreign Policy Washington DC.


Bagaimana kesan Anda setelah jalan-jalan tadi?.
Mengagumkan, sangat berkesan, tempat ini sangat besar, untuk ukuran pesantren, juga tempat pendidikan dan sangat berbeda dengan tempat lain.

Pernah mengunjungi masjid sebelumnya?
Ya, pernah waktu di Cairo, Mesir.

Masuk ke masjid dan berbincang-bincang dengan beberapa santri. Bagaimana pendapat Anda tentang mereka?
Mereka berani untuk bertanya, saya tanya mereka kenapa sekolah di sini. Ada yang mengatakan mereka ingin membuat orang-tuanya bahagia, hal ini jarang ditemukan di USA, mereka tidak peduli tentang hal itu. Ada lagi yang membuat saya terkejut, mereka sekolah di sini karena suka dengan kedisiplinan, padahal seusia mereka kan sedang ingin bebas.

(Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 45/2006 – halaman 41)

Berita Terkait :

  • Wawancara dengan Richard W. Baker, Special Assistant to the President of East West Center (ECW).
  • Wawancara dengan Ms. Susan Kreifeis, Media Activities coordinator EWC.
  • Wawancara dengan Tim Connolly, Internasional Editor the Dallas Morning News, Dallas, Texas, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan David, Pengamat Hal Ikhwal ke Islaman dan Editor Harian Detroit, Michigan, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan Mr. Larry Johnson Foreign Desk Editor Seattle Post Intelligencer.
  • Wawancara dengan Wiliam J.Dobson Managing Editor, Foreign Policy Washington DC.
  • Wawancara dengan David Hage, Editor Writer Minneapolis Star Tribune.
  • Wawancara dengan Arif Suditomo, News Production Manager, RCTI Jakarta.
  • Wawancara dengan Sunandar Ibn Nur, Executive Editor, Gontor Magazine, Indonesia.
  • Wawancara Wartawan Amerika dengan Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang.
Bacaan Selanjutnya!

Amerika Belajar Toleransi dan Damai dari sini

Wawancara dengan David Hage,
Editor Writer Minneapolis Star Tribune

Kami dengar bahwa EWC mengagendakan kunuungan ke berbagai tempat seperti tempat ibadah, museum, lembaga pendidikan dan lain-lain. Sebenarnya apa yang akan Anda angkat dari agenda atau kunjungan tersebut?
Gagasan dari perjalanan ini adalah untuk mempromosikan pemahaman antar bangsa Amerika dan bangsa Asia Pasifik. Khususnya untuk memperkenalkan kepada bangsa Amerika tentang orang Islam khususnya muslim bangsa Asia. Enam jurnalis Amerika bertemu dengan enam jurnalis Indonesia, Pakistan, Bangladesh dan Malaysia. Mereka mengadakan perjalanan ke Amerika dan kami bertemu di Hawai dalam dua hari. Mereka mengutarakan kesan tentang Amerika dan kami pun menyampaikan apa yang akan kami pelajari dari Indonesia. Mereka kembali ke Pakistan, Bangladesh. Kami datang kemari. Kami ke Jakarta selama empat hari. Kami bertemu dengan Menteri Pertahanan, bertemu dengan Gus Dur, dan beberapa Jurnalis. Poin yang akan saya bawakan nanti pulang adalah bahwa Indonesia itu nampak sama seperti Amerika.

Ketika Anda datang ke mari Anda seperti melihat Amerika, maksudnya apa?
Keduannya adalah negara yang besar dari Los Angeles ke New York, di sini dari Aceh ke Papua New Guinea, 3000 mil. Indonesia adalah negara yang beragam seperti : orang Sumatera, orang Jawa, orang Bali. Di Amerika pun adalah negara yang beragam, kita pun memiliki orang Amerika berbangsa Afrika, Amerika berbangsa Irish, Amerika berbangsa Italia, Amerika berbangsa Norwegia seperti saya. Itulah yang dikatakan negara yang beragam.

Siapakah yang memprakarsai EWC?
Saya tidak tahu yang lebih tahu adalah Mr. Richard W Baker. Ini adalah perjalanan pertama yang saya lakukan bersama mereka. Sya tidak paham, saya tidak tahu saiap yang memprakarsai pertama kali. Tapi ide ini adala untuk memberikan pemahaman antara Amerika dan Asia. Amerika adalah negara yang beragam dan begitu pula Indonesia, dan saya menghormati dan mengagumi bahwa Indonesia itu toleran, saling memahami, hidup bersama-sama, dan saya pikir kami (Amerika) dapa belajar dari Anda tentang toleransi dan hidup bersama.

Dari pidato tadi teman Anda mengatakan bahwa EWC akan mengadakan persahabatan antara Amerika dan Indonesia terutama Al-Zaytun. Usaha apa yang akan anda lakukan?
Saya akan menulis pengalaman kami di sini. Saya pikir bahwa saya akan menulis dua poin dalam koran. Pertama, karena orang Amerika itu pada umumnya tidak menghiraukan Islam. Mereka pikir Islam itu adalah Arab, dan mereka pun akan mengabaikan dengan orang Islam Indonesia, Malaysia, Pakistan. Maka itu kami ingin menyampaikan pada dunia tentang Islam. Kedua, adalah bangsa Indonesia memiliki suatu kesetiaan yang besar dan juga memiliki rasa toleransi yang besar dan itulah yang akan saya sampaikan pada pembaca bahwa bangsa Indonesia yang kami temuai adalah orang yang menyampaikan pesan perdamaian dan kemanusiaan yang tidak ditemukan di Amerika tentang Islam. Inilah pesan-pesan yang akan saya sampaikan, dan diharapkan ada persahabatan antara Amerika dengan Indonesia. Di Amerika beberapa orang memiliki satu pemikiran yang jahat atau pemikiran yang menuju pada suatu kekerasan, tapi dapa umumnya orang Amerika itu tidak menginginkan, dan saya yakin Indonesia juga sama. Karena itu akan membuat satu kerusakan pada dunia.

Al-Zaytun memiliki moto sebagai pusat toleransi dan perdamaian bagaimana menurut Anda?
Saya sangat mengagumi. Ketika orang Amerika datang ke Indonesia dia berpendapat bahwa Indonesia memiliki suatu kerumitan kemudian dia berpikir lagi kemudian dia temukan bahwa Indonesia adalah bangsa yang toleran, mengagumkan.

Apakah Anda mengetahui Al-Zaytun sebelumnya?
Tidak. Dan sayapun ptidak mengetahui adanya pesantren seperti ini. Yang saya ketahui adalah madrasah-madrasah.

Lalu siapakah yang memberitahukan Al-Zaytun kepada Anda?
Seorang bangsa Indonesia yang memperkenalkan Al-Zaytun melalui majalah yang saya pantau dan saya meyakininya. Majalah itulah yang merekomendasikan kami untuk datang ke Al-Zaytun.

Al-Zaytun memberikan pembelajaran jurnalistik pada tahun pertama SMP. Bagaimana menurut Anda?
Itu adalah suatu ide yang bagus. Satu, jurnalisme itu adalah suatu hal yang sangat penting. Jurnalisme yang bagus akan meberikan kontribusi pada nilai-nilai demokrasi yang tinggi, menuju pada masyarakat berpendidikan. Kedua, di Amerika itu pelatihan jurnalistik kurang bagus, kurang baik, malah dimanfaatkan untuk sekedar bisnis. Kami harus mencari bentuk pelatihan yang lebih baik.

Bagaimana pendapat Anda tentang Syaykh?
Saya pengagumnya, saya sangat terkesan dengan sekolah ini. Saya pikir sekolah Amerika harus belajar dari Syaykh, yang para pelajarnya terbiasa dengan kedisiplinan, sekolah yang terorganisasikan. Para pelajar membersihkan kamarnya, mereka bekerja keras, memperhatikan makanan higienis dan mengajarkan untuk menghormati alam. Sisitem ini sangat luar biasa. Saya harapkan Amerika bisa belajar dari sini.
(Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 45/2006 – halaman 42-43)

Berita Terkait :
  • Wawancara dengan Richard W. Baker, Special Assistant to the President of East West Center (ECW).
  • Wawancara dengan Ms. Susan Kreifeis, Media Activities coordinator EWC.
  • Wawancara dengan Tim Connolly, Internasional Editor the Dallas Morning News, Dallas, Texas, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan David, Pengamat Hal Ikhwal ke Islaman dan Editor Harian Detroit, Michigan, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan Mr. Larry Johnson Foreign Desk Editor Seattle Post Intelligencer.
  • Wawancara dengan Wiliam J.Dobson Managing Editor, Foreign Policy Washington DC.
  • Wawancara dengan David Hage, Editor Writer Minneapolis Star Tribune.
  • Wawancara dengan Arif Suditomo, News Production Manager, RCTI Jakarta.
  • Wawancara dengan Sunandar Ibn Nur, Executive Editor, Gontor Magazine, Indonesia.
  • Wawancara Wartawan Amerika dengan Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang.
Bacaan Selanjutnya!

Jurnalis Jangan hanya Berorientasi Market dan Trust

Wawancara dengan Arif Suditomo,
News Production Manager, RCTI Jakarta.


Bisa ceritakan tentang tujuan perjalanan EWC?
Saya almuni dari East West Center di Washington DC. Kita bicara banyak hal tentang globalisasi, tentang interaksi antara berbagai macam lapisan masyarakat dan berbagai macam agama dan tata sosial kehidupan di dunia. Apa yang menjadi tantangan kita selama ini dan bagaimana kita bisa membuat interaksi yang jauh lebih baik. Itu saja yang kita perbincangkan. Karena ini kita datang dari berbagai macam kalangan, agama dan juga kewarga-negaraan.

Jadi membicarakan tentang pluralisme?
Ya, pluralisme singkatnya.

Tapi melihat kenyataan, jurnalisme sekarang belum mampu bergaul secara plural? Kenyataaanya ada blok Barat dan ada blok Timur?
Saya melihat, saya tidak bisa menyalahkan editorial content berdasarkan blok Barat atau Timur. Bagaimanapun apa yang kita lakukan adalah untuk menghargai pasar masing-masing. Tidak mungkin dong CNN tiba-tiba menurunkan sebuah editorial issue yang pada akhirnya bertentangan dengan apa yang market mereka ingin dengan. Mereka akan tutup, gulung tikar. Jadi, saya melihat bagaimana kita mengolah kapitalnya saja. Kita juga sebagai pers Indonesia tidak mungkin menyajikan sesuatu yang publik kita tidak mau lihat, tidak mau dengar, atau tidak mau baca. Jadi, kembali kepada karakteristik market-nya masing-masing. Nah, iotu yang menjadi salah satu tantangan bagaimana kita ini sama-sama melakukan pendekatan terhadap market. Nah, ini maknanya butuh pucuk-pucuk orang yang mempunyai akses kepada publik, pembuat policy publik itu bisa ketemu, bisa ngobrol, bisa mengerti perbedaan untuk tidak saling mencaci atau membenci, tetapi mengerti perbedaan untuk bisa saling mengeri, yang pada akhirnya dia asma dengan kita so what? Itu yang menjadi main massage-nya kenapa pluralisme itu harus dikampanyekan.

Artinya kepentingan market lebih dominan?
Oh iya, itu pasti tetapi sekarang tantangannya adalah bagaimana kita juga tetap mengampanyekan kepentingan kita, melakukan market dan trust tetapi juga tidak berbenturan dengan kebutuhan pluralisme, itu kan tantangannya, seperti sekarang memang belum terjadi seperti kata Mas.

Peran jurnalistik terhadap pendidikan sendiri bagaimana menurut Mas Arif?
Tergantung. Itu tergantung semuanya kepada misi editorialnya masing-masing. Biasanya lembaga-lembaga swasta itu kan cari uang. Kita taidak menikmati uang APBN. Kalau misalnya ada kewajiban untuk melakukan pencerahan kita juga punya kewajiban untuk melakukan pencerahan, hanya saja porsinya. Lembaga penyiaran pemerintah harus mempunyai porsi yang lebih banyak dibanding lembaga penyiaran swasta, tetapi semuanya harus mempunyai kewajiban untuk melakukan pencerahan dalam hal pendidikan, dalam hal pluralisme, agama, moral, harus sama-sama ditegakkan. Nah, kalau di tempat saya bekerja, swasta. Kita terus melakukan apapun itu yang pada dasarnya mem-promote nilai-nilai di mana orang itu harus dididik dan dicerahkan. Tidak selalu lewat membuat kelas terbuka, tetapi ya dengan contoh, dengan kritik, dengan berita, dengan berbagai macam.

Apakah itu yang Anda maksudkan peranan jurnalistik dalam pendidikan?
Ya, peranan jurnalistik dalam pendidikan khususnya.

Mengapa ke pesantren dan tempat-tempat ibadah?
Karena pesantren seringkali menjadi sebuah institusi yang sering di salah-artikan. Dalam beberapa diskusi kami di Amerika waktu itu, muncul apa yang menjadi root atau akar terorisme? Kita menemukan bahwa ketidak-seimbangan distribusi kekayaan, mis understanding dan segala macam. Dan salah satunya adalah pesantren. Kalau kita tidak saling mengenal bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan baik? Maka mereka mendekatkan diri untuk mencari seperti apa pesantren itu dan Indonesia bilang pesantren yang mana? Karena banyak pesantren di Indonesia, ya kita pilih beberapa, salah satunya Al-Zaytun ini. Basic ini yang ingin saya garis bawahi, selama ini pesantren merupakan institusi yang sering disalah-artikan, jadi kita ingin lihat sendiri apa kegiatannya? Apa yang dilaksanakan di sana, dan pada akhirnya mereka harus bisa mengerti, dan pada akhirnya mereka harus bisa menyimpulkan sesuatu dan bisa mengerti sesuatu.

Apa alasan Anda memilih Al-Zaytun?
Ya, ini adalah salah satu pesantren yang besar, kita kan harus melihat yang well faunded.

Anda sendiri setelah ke Al-Zaytun, dan setelah berbicara dengan Syaykh, apa kesan Anda?
Megah ya, besar, megah, satu kalimat too good too be true.

Tadi Syaykh Al-Zaytun juga mengungkapkan bahwa nanti di Al-Zaytun boleh saja orang Islam yang sekolah di sini, boleh juga orang Kristen dan penganut agama-agama lainnya, bagaimana?
Saya dukung sekali, bahwa ada sebuah pesantren yang opening up sama apa pun itu, itu merupakan salah astu kemajuan yang harus jadi contoh di saat kita sekarang sedang menghadapi banya seserongan yang suka memaksakan kehendak, kalau tidak sama dengan mereka hancurkan gedung, tidak sama dengan mereka bakar kedutaan orang, itu sebenarnya bukan hal yang kita ingin proyeksikan, khususnya terhadap Islam, kita tidak ingin itu. Nah, bagaimana caranya agar sedikit demi sedikit kita perangi itu bukan dengan kekuatan, tapi dengan pengertian. Ya pengertian adalah dengan membuka diri, menyambut orang lain dengan tangan terbuka, kemudian orang lain mengenal kita dengan ketulusan, tanpa ide, atau tanpa hidden agenda dan macam-macam, ya pada akhirnya it’s speak for slelf lah, kalau Al-Zaytun ini benar-benar terbuka, ada alumninya, ya mereka akan bicara ke mana-mana.

Tentang kurikulum Al-Zaytun, Al-Zaytun memulai pendidikan jurnalistik dari kelas 3 SMP, bagaimana menurut Anda?
3 SMP? Saya kira baguslah, pada dasarnya jurnalistik itu kan salah satu medium atau alat untuk bisa kita controling the forth state, kita menjadi forth state. Kalau pernah tahu forth state. Jadi kalau Montesque bilang ada the three state, Eksekutif, Yudikatif, sama legislatif. Nah, di dunia Modern ada the Forth State, apa forth state itu? Pres, free pres. Nah, kalau prinsip-prinsip free pres ini sudah dikenalkan sejak dini itu akan menanamkan banyak hal, keberanian, rasa kritis, ketulusan, fokus terhadap berbagai macam isu, dan pada akhirnya adalah sangat mulialah memperkenalkan nilai-nilai jurnalistik pada anak-anak.
(Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 45/2006 – halaman 43-44)

Berita Terkait :

  • Wawancara dengan Richard W. Baker, Special Assistant to the President of East West Center (ECW).
  • Wawancara dengan Ms. Susan Kreifeis, Media Activities coordinator EWC.
  • Wawancara dengan Tim Connolly, Internasional Editor the Dallas Morning News, Dallas, Texas, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan David, Pengamat Hal Ikhwal ke Islaman dan Editor Harian Detroit, Michigan, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan Mr. Larry Johnson Foreign Desk Editor Seattle Post Intelligencer.
  • Wawancara dengan Wiliam J.Dobson Managing Editor, Foreign Policy Washington DC.
  • Wawancara dengan David Hage, Editor Writer Minneapolis Star Tribune.
  • Wawancara dengan Arif Suditomo, News Production Manager, RCTI Jakarta.
  • Wawancara dengan Sunandar Ibn Nur, Executive Editor, Gontor Magazine, Indonesia.
  • Wawancara Wartawan Amerika dengan Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang.
Bacaan Selanjutnya!

Al-Zaytun Ubah Image Negatif Amerika terhadap Islam

Wawancara dengan Sunandar Ibnu Nur,
Executive Editor, Gontor Magazine, Indonesia.

Sudah berapa kali Anda berkunjung ke Al-Zaytun?
Sudah empat kali. Pertama kali datang saat peresmian kampus ini oleh presiden BJ. Habibie, 27 Agustus 1999. Ia datang sebagai wartawan ANTV. Acara dilaksanakan Jum’at, tetapi saya datang hari Kamis dan malamnya wawancara ekslusif dengan Syaykh Al-Zaytun dan paginya saat perasmian saya menanyakan tentang konsep pendidikan yang dikembangkan Al-Zaytun. Syaykh memiliki pandangan yang luas tentang generasi-generasi muslim yang unggulan, baik fisik maupun mental spiritual. Kunjungan kedua saat digelar Pospenas tahun 2001, sejak pembukaan sampai penutupan. Karenanya saya dapat menjawab masyarakat tentang berbagai isu yang menghangat ketika itu, karena saya dapat menyaksikan sendiri. Sebagai alumni Gontor, saya bangga dengan konsep-konsep Syaykh Al-Zaytun karena yang ada di Gontor diambil dan ditambah lebih baik lagi. Tugas saya ketika itu hanya membuat dokumentasi dari Departemen Agama pusat. Ketiga kalinya, aya ke Al-Zaytun, ketika perasmian menara Masjid Rahmatan Lil Alamin, dengan rombongan Jusuf Kalla. Ketika itu pak Abdurrahman Partosentono masi ada dan ia dosen saya di UIN Jakarta.

Apa motivasi kunjungan ini, sehingga Anda sampai empat kali datang ke Al-Zaytun?
Saya, dalam berbagai kesempatan dialog, baik langsung maupun melalui e-mail, diminta oleh East West Center (EWC) untuk mencarikan tempat kunjungan pesantren. Mereka anggota EWC tahu tentang pesantren, tetapi tidak tahu persis seperti apa, di mana dan bagaimana situasi dan kondisinya. Saya merekomendasikan Al-Zaytun. Mereka ahnya mengenal pesantren Ngruki, karena terkait alumninya ada yang menjadi teroris. Mereka juga mengenal Gontor tetapi tidak mungkin untuk ke sana karena mereka mempunyai waktu yang sangat terbatas, maka Al-Zaytun menjadi pilihan yang bisa ditempuh karena hanya dengan empat jam dari Jakarta. Berdasarkan info itu, mereka ingin mengetahui banyak tentang Al-Zaytun. Saya menyampaikan sesuai yang saya ketahui tentang Al-Zaytun. Mereka sepakat, Al-Zaytun menjadi tempat kunjungan dalam dialog wartawan (jurnalis). Kami mengirim faksimile meminta untuk dijadikan kunjungan, dan alhamdulillah direspon positif. Al-Zaytun dipilih dari 13.000 pesantren yang ada di Indonesia untuk dijadikan objek kunjungan bagi mereka. Saya berharap, dari kunjungan ini mereka akan memperbaiki citra / image tentang pesantren di Indonesia di mata dunia khususnya Amerika. Karena yang saya tahu Richard Baker dan Miss Susan sebagai orang EWC, mungkin mereka sudah memiliki cara pandang yang moderat, tetapi bagi wartawan yang lain, mereka tidak tahu pesantren dan kalaupun tahu dalam pandangan mereka pesantren identik dengan teroris dan memang opini yang beredar di Amerika bahwa muslim itu teroris atau fundamentalis. Indonesia mayoritas muslim, dengan mereka datang ke sini, ada wacana dan wawasan baru, kemudian terjadi sebuah perubahan perspektif mereka tentang pesantren di Indonesia, yang kemudian justru Al-Zaytun menjadi jendela bagi isu positif tentang pesantren di Indonesia. Saya yakin betul akan ada sebuah perubahan persepsi mereka tentang pesantren di Indonesia.

Bisa diceritakan tentang seminar yang diadakan oleh EWC?
Satu pekan di Washington DC, sepekan di Atlanta dan sepekan di Los Angeles. Programnya simpel saja. Mereka memilih utusan dari negara-negara ASEAN, dari Pakistan untuk mengirim wartawan. Mereka meminta lewat kedutaan Amerika di Indonesia. Waktu itu saya sebagai Eksekutif Editor untuk majalah Gontor, selain sebagai presenter di TVRI. Acaranya adalah dialog antar wartawan, masing-masing peserta mempresentasikan tentang negaranya dalam bahasa Inggris. Kemudian mengadakan kunjungan ke sarana ibadah dan pesantren yang dibiayai oleh EWC. Peserta dapat akomodasi dan konsumsi selama pelaksanaan. Semoga ke depan ada jurnalis Al-Zaytun yang diundang untuk ikut menjadi peserta EWC. Masing-masing yang hadir ke Al-Zaytun ini memiliki media di negaranya dan mereka wartawan senior yang produktif dan berpengaruh di medianya. Mereka aka menulis apa yang mereka amati langsung di Al-Zaytun ini, tentu saja dengantokoh politik, tokoh muslim dan tokoh masyarakat. Sebelum kunjungan ke Al-Zaytun, kami telah berdialog dengan tokoh-tokoh Indonesia, seperti Gus Dur, Tifakul Sembiring (presiden PKS), dan Azyumardi Azra (Rektor UIN). Ternyata masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim tidak memiliki pandangan sempit, seperti yang mereka bayangkan atau yang seperti hari ini diopinikan masyarakat Amerika.
(Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 45/2006 – halaman 45)

Berita Terkait :

  • Wawancara dengan Richard W. Baker, Special Assistant to the President of East West Center (ECW).
  • Wawancara dengan Ms. Susan Kreifeis, Media Activities coordinator EWC.
  • Wawancara dengan Tim Connolly, Internasional Editor the Dallas Morning News, Dallas, Texas, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan David, Pengamat Hal Ikhwal ke Islaman dan Editor Harian Detroit, Michigan, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan Mr. Larry Johnson Foreign Desk Editor Seattle Post Intelligencer.
  • Wawancara dengan Wiliam J.Dobson Managing Editor, Foreign Policy Washington DC.
  • Wawancara dengan David Hage, Editor Writer Minneapolis Star Tribune.
  • Wawancara dengan Arif Suditomo, News Production Manager, RCTI Jakarta.
  • Wawancara dengan Sunandar Ibn Nur, Executive Editor, Gontor Magazine, Indonesia.
  • Wawancara Wartawan Amerika dengan Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang.
Bacaan Selanjutnya!

Pesantren Love of Peace

Wawancara Wartawan Amerika(EWC) dengan
Syaykh AS Panji Gumilang

Pesantren Al-Zaytun sangat megah lokasinya kenapa berada sangat jauh dari kota?
Kualitas pendidikan desa dan kota belum terjembatani. Pendidikan Indonesia selama ini yang maju ada di kota, desa menjadi kurang maju. Kami mewakili yang kurang maju itu untuk memilih tempat nun jauh dari kota. Kmai ingin tampil sebagai Jan Pieter Zoen Coen, jauh dari Belanda membangun kota yang namanya Batavia yang sekarang terkenal dengan Jakarta yang awalnya adalah kota rawa-rawa. Tidak siapapun yang sanggup hidup di situ. Mengapa Jan Pieter Zoen Coen sanggup membuat Betawi (Batavia), sedangkan kami, bangsa Indonesia, juga harus mampu membuat yang jauh dari kota sehingga terjembatani kualitas pendidikan desa dengan kota. Jadi, latar belakangnya hanya untuk menjembatani kota dan desa supaya tidak terlalu jauh, sehingga nanti Indonesia ini akan menjadi negara kota seperti halnya Singapura, entah kapan itu terjadi. Kami memiliki cita-cita seperti itu, supaya orang desa tidak lari ke kota. Budaya kehidupan di desa itu terbatas, masuk ke kota membawa budaya desa, sehingga kotanya tidak menjadi desa dan desanya pun tidak menjadi kota. Terjadilah berbagai macam case kebudayaan. Nah, untuk itu kami awali dari desa, supaya nanti orang kota masuk ke desa, “Oh, di sini juga ada seperti Jakarta !“ Di tempat-tempat lain terjadi, akhirnya Indonesia ini tidak dibatasi kota dan desa, desa bisa seperti kota dan jangan kota seperti desa.

Berapa biaya sekolah di sini?
Biaya untuk sekolah di Al-Zaytun sangat mahal bagi bangsa Indonesia karena ditentukan untuk enam tahun sejumlah US$ 3.500. Mereka mendapatkan segala macam keperluan hidup seperti tinggal di asrama, makan tiga kali sehari, ditambah snack tiga kali sehari, ditambah air minum free dari pagi sampai malam. Semuanya kami anggap seperti mengasuh anak kami sendiri. Mereka mendapatkan buku teks book, mendapatkan seragam setahun sekali berarti enam kali ganti. Kata orang Indonesia, itu mahal, padahal kalau dihitung sesungguhnya biaya US$ 3.500 hanya cukup untuk enam bulan. Namun kami dari yayasan ingin mendharma-baktikan diri kami dan usaha kami memberi jasa-jasa baik kepada umat manusia yang mau masuk pendidikan di sini.

Siapa yang menyubsidi Al-Zaytun?
Yang menyubsidi adalah yayasan, dan yayasan kami bergerak di berbagai bidang ekonomi. Utamanya kami menanam produk-produk pertanian dan kehutanan, kami persiapkan sejak awal. Kami menanam pohon-pohon di samping untuk meneduhkan lingkungan. Siapa tahu dua puluh tahun yang akan datang satu pohon itu mamapu bernilai seribu dollar. Perbedaan kehutanan di Al-Zaytun dengan usaha kehutanan yang diberikan oleh negara, jauh berbeda. Kalau kehutanan yang diberikan hak pengelolaan hutan negara kepada perorangan mapun sarikat itu, itu adalah menghabiskan hutan, memotong hutan. Perbedaannya adalah kami menanam sebanyak-banyaknya, kami ingin dunia ini menjadi hijau kembali. Kami tidak ingin memotong kayu, karena dengan oksigen kami bisa hidup, tetapi dengan kayu kami bisa mati. Seperti Indonesia hari ini banyak kematian karena pohon banyak ditebang. Kami tidak mau itu terulang, dan kami menanam sperti orang-orang tua dahulu menanam.

Tapi ada berita dari majalah luar negeri bahwa Al-Zaytun dibiayai oleh yayasan tertentu?
Ya betul Al-Zaytun dibiayai oleh Yayasan Pesantren Indonesia. Al-Zaytun ini milik umat manusia, adanya di tempat yang kecil seperti ini, jadi kalau datang dari Jakarta kami istilahkan dari luar. Kalau datang dari Singapura kami istilahkan dari luar. Itu makna dari luar sebab Al-Zaytun lokasinya Cuma 1.200 hektar saja.

Ide pendidikan ini tumbuh dari mana?
Ide-ide ini tumbuh dari umat manusia, karena umat manusia menginginkan kesejukan hidup, kesempurnaan ilmu, kemajuan teknologi. Itulah ide-ide besar umat manusia yang kami adopsi, meski dimulai dari sekecil apapun. Jadi di sini berjalan “kebersamaan“ tidak “aku“ yang tampil, karena “aku“ itu sangat sedikit dan kekuatannya sangat lemah. Maka, kami berjalan di sini dengan “kita“ bukan “aku“, karena kalau “aku“ bisa patah sendirian tapi kalau “kita“ tidak bisa patah, karena “kita“ berisi umat manusia sedunia.

Jadi memang ada yang datang dari luar?
Sangat banyak, santri atau pelajar yang datang dari Malaysia banyak, dari Singapura banyak, dari Afrika Selatan banyak, dari Somalia banyak.

Dari Singapura banyak?
Ada dari Singapura dan Malaysia bergabung menjadi 200 lebih. Bukankah itu banyak?

Maksud saya sumbangan yang diberikan lembaga-lembaga tertentu?
Itulah yang belum pernah ada. Andainya ada kami terima, tetapi karena belum ada kami tidak menerima.

Ada sumber yang disebut-sebut misalnya dari Cendana?
Kalau dari Cendana, bukan Cendananya yang ngasih, tapi kami mengasih Cendana, karena tatkala bangsa ini sangat benci kepada Cendana, kami kasih sebuah nama di sini. Pak Harta tatkala dibenci bangsanya kami ajak ke mari, “Pak Harto namamu kami ambil,“ maka kami mengasih Pak Harto. Hidup ini take and give, terkadang mengasih terkadang menerima. Tatkala Pak Harto datang kemari melihat ada gedung Soeharto dan senag hati, “Oh ku kasihlah kau.“

Apa yang diharapkan lulusan dari Al-Zaytun?
Kami berharap lulusan-lulusan kami ini bermanfaat bagi umat manusia. Lebih spesifik lagi lulusan Al-Zaytun akan mampu meletakkan diri pada zamannya, sehingga tidak menjadi orang yang ditinggal oleh zamannya. Kami mengharapkan santri-santri ini mampu hidup pada zamannya dengan penuh persiapan. Karena kehidupan ini tantangannya bermacam-macam maka kami persiapkan kehidupan dan kemampuan hidup untuk membekali diri mereka masing-masing, sehingga mereka mampu mandiri dalam kehidupannya. Ini ada satu cerita kecil; Di Indonesia hampir semua pelajar setelah tamat belajar mereka menginginkan menjadi pegawai negeri, itu catatan kecil bagi bangsa Indonesia. Kami ingin mengantarkan anak-anak kami di sini untuk tidak seperti itu. Sebaliknya, kiranya mereka mampu mempunyai pegawai sebanyak-banyaknya.

Kami sangat kagum dengan Al-Zaytun. Ini adalah pesantren satu-satunya yang kami kunjungi. Dibandingkan dengan pesantren lain bagaimana menurut Syaykh?
Kami sebagai pendidik tidak boleh membandingkan dengan tempat-tempat lain. Karena seorang pendidik harus selalu berinovasi termasuk pendidikan pesantren ini. Jadi pesantren Al-Zaytun ini diciptakan dengan spirit pesantren namun bersistem modern.

Apa yang membuat modern?
Modern adalah sistem yang setiap bertindak harus berdasar ilmu. Kemudian yang kedua, memiliki organisasi yang kuat. Yang ketiga, mempunyai etos kerja yang tangguh dan berpandangan masa depan yang jauh. Itu modern yang kami maksudkan.

Hari ini ada perubahan besar dalam masyarakat Amerika dan Asia. Bagaimana sikap santri-santri di Al-Zaytun terhadap perubahan tantangan dalam satu dua tahun ini?
Masyarakat Al-Zaytun termasuk seluruh guru, murid, dan penghuni di Al-Zaytun ini mempunyai padangan bahwa kebebasan manusia, baik itu di Indonesia maupun di negara-negara lain adalah satu kenikmatan, satu keharusan. Maka apa yang dilihat dalam kejadian belakangan ini khususnya setelah kejadian 11 September 2001, itu memang ada pandangan-pandangan khusus. Namun, kekhususan itu dicerna oleh pelajar, guru, sebagai hal yang wajar. Maka pandangan anak-anak kita di sini atau masyarakat Indonesia di sini terhadap Amerika terkadang bertanya, “Mengapa harus terjadi peperangan dalam meyelesaikan perkara di permukaan bumi ini?“

Bagaimana perasaan masyarakat Indonesia terhadap kebijakan Amerika?
Kalau masyarakat Indonesia ini bermacam-macam perasaannya mereka terhadap kebijakan Amerika belakangan ini, namun semuanya itu menunjukkan partisipasi mereka terhadap perdamaian dunia.

Belakangan ini terjadi perubahan politik yang sangat besar di Indonesia dari sentralisasi menjadi desentralisasi, beberapa provinsi bahkan mengkaji penerapan syariah. Apakah Al-Zaytun ikut dalam hal ini atau bagaimana respon tentang hal itu?
Kami Al-Zaytun dan bangsa Indonesia secara keseluruhan merasa sangat bersyukur karena mempunyai kesempatan untuk memasukkan kehidupan demokrasi sebagai amalan hidup. Maka apa yang terjadi di Indonesia ini, apa saja, adalah proses menjuju demokrasi yang progresif. Karenanya, apa yang terjadi belakangan ini kehendak-kehendak tertentu untuk menciptakan aturan-aturan dan sebagainya itu tidak dapat ditanyakan kepada satu orang karena bangsa Indonesia ini yakni mempunyai sistem demokrasi yang sudah jelas.

Syaykh menerima demokrasi tetapi tidak dengan sistem syariah?
Demokrasi itu akan menentukan berbagai macam, namun Indonesia telah memiliki basis ideologi, yaitu kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kerakyatan, kemanusiaan, kemudian yang lain-lain terdiri dari lima prinsip itu, membimbing bangsa Indonesia untuk mengisi demokrasi di dalam negaranya.

Sebagai pesantren besar apakah Anda punya referensi khusus tentang syariah?
Syariah adalah jalan untuk masuk dalam kehidupan dengan sistem. Syariah adalah sebuah cara, sebuah sistem, maka syariah tidak bisa berhenti dengan syariah saja. Jadi kalau dikatakan syariah, tentu ada syariah Islam seperti yang Anda maksudkan.

Apakah mungkin untuk menjadikan syariah Islam sebagai bagian dari aturan yang bisa diikuti oleh masyarakat Indonesia?
Masyarakat Indonesia ini masyarakat majemuk terdiri dari berbagai agama, terdiri dari berbagai suku bangsa, mereka memilki aturan yang sudah jelas. Keagamaan adalah bagi mereka masing-masing Aturan kenegaraan yang telah diciptakan itulah yang akan dipegang oleh bangsa Indonesia.

Apakah ada tokoh-tokoh dunia yang dibanggakan oleh Syaykh?
Kami di dalam memandang tokoh-tokoh di dunia ini tidak ada tokoh yang sempurna. Kami memandang tokoh-tokoh dunia yang baik yang kami contoh. Terkadang kami datang ke sebuah tempat melihat tokoh di sana. Sebagai contoh kami mengagumi Lee Kuan Yew; Mengapa kami kagum kepadanya? Beliau mampu membangun sebuah tempat yang sangat kecil menjadi tempat yang dijadikan tujuan oleh banyak negara. Satu contoh itulah kekaguman terhadap tokoh-tokoh di dunia. Namun bukan berarti siapa yang kami kagumi itu manusia yang sempurna.

Kami mendengar bahwa Al-Zaytun menerima mahasiswa non-muslim, bagaimana bisa membuat kebijakan tersebut?
Ini kebijakan yang sangat wajar saja bukan sesuatu yang mengherankan, tetapi ini kebijakan yang biasa. Kami seorang muslim harus bersahabat dengan siapa saja, maka kami buka pendidikan ini untuk siapa saja, sebagaimana sahabat-sahabat kami membuka sekolah. Katakan, orang Kristen banyak membuka sekolah, orang muslim banyak juga yang ikut bersekolah di dalamnya.

Sebagai lulusan IAIN Jakarta sekarang sedang mengembangkan perguruan tinggi. Apakah kelas-kelas atau subjek yang akan dikembangkan di sini meniru atau mengadopsi dari sana atau mengembangkan hal yang baru dan bagaimana pandangan Syaykh melihat IAIN yang telah berkembang sekarang?
Kami sangat bergembira melihat perkembangan UIN hari ini. Tatkala UIN masih menjadi IAIN (Institut Agama Islam Negeri) dan ingin berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), kami memberikan pandangan-pandangan, “Hendaknya IAIN yang akan menjadi universitas negeri tidak hanya mempelajari pelajaran-pelajaran yang dinamakan oleh banyak orang sebagai pelajaran agama, tetapi harus masuk kepada fakultas-fakultas yang non agama atau bukan agama“. Kami mengusulkan waktu itu harus dibuka Fakultas Kedokteran, Fakultas Ekonomi, Teknik, Pertanian dan lain sebagainya. Kami bergembira karena banyak ide-ide yang kami sampaikan sekarang telah berdiri di UIN.

Bagaimana padangan Syaykh tentang globalisasi?
Globalisasi adalah ciptaan manusia, hasil kerja manusia sehingga tercipta kehidupan global seperti sekarang ini. Ini hal yang wajar dan kita harus berada di dalamnya bersama masyarakat yang sudah hidup dalam globalisasi ini.

Kami kagum dengan Al-Zaytun karena itu banyak hal yang kami ingin tahu. Ada hal-hal yang mungkin orang-orang belum paham bagaimana Al-Zaytun bisa tercipta seperti ini?
Kalau Al-Zaytun tampil seperti ini ada orang yang ragu itu hal yang wajar. Karena setiap perubahan atau yang dianggap suatu perubahan itu banyak orang yang ragu dan ada juga yang setuju. Dua-duanya harus dihimpun supaya terus berimbang. Kita tidak boleh menentang kepada orang yang ragu dan tidak boleh terlalu bangga kepada orang yang menyetujui perjalan ini. Antara setuju dan tidak setuju dua-duanya kita hadapi dengan bijak.

Mengapa banyak pertanyaan tantang Al-Zaytun bahwa Al-Zaytun merupakan misteri?
Ini sebaiknya ditanyakan kepada siapa orang yang ragu kepada Al-Zaytun. Kalau ditanyakan kepada kami, kami sedang membangun kebaikan. Tapi kalau ada yang ragu, mestinya ditanya kepadd orang yang ragu itu, jangan ditanya kepada kami yang sedang membangun kebaikan ini.

Di Indonesia banyak pemimpin pesantren dan mereka juga melahirkan banyak kerusakan seperti Abu Bakar Baasyir karena dia mempunyai pandangan politik tertentu. Bagaimana sebenarnya menyikapi tokoh-tokoh pesantren itu?
Kami rasa sebuah pesantren bisa saja menghasilkan Ustad Abu Bakar Baasyir, tetapi tidak semua seperti beliau. Ada seperti saudara kita (Sunandar Ibnu Nur) ini juga dari pesantren yang sama. Seperti halnya kebijakan Amerika, tatkala menentang Uni Soviet di Afghanistan beberapa puluh tahun yang lalu menghasilkan Osama Bin Laden. Kemudian Osama Bin Laden dijadikan musuh Amerika sampai dengan hari ini. Jadi, hal yang wajar saja setiap sebuah pendidikan menghasilkan orang-orang yang kata sebagian orang tidak dikehendaki, tetapi kata sebagian orang lgai dikehendaki. Jadi kalau kita mencontohkan figur Ustadz Abu Bakar Baasyir sebagai hasil dari pesantren itu sesungguhnya tidak terlalu bijaksana.

Ada pandangan beberapa orang berkaitan atau sengaja menghubung-hubungkan diri dengan beberapa komunitas seperti kelompok-kelompok teroris. Bagaimana menyikapi teroris?
Kalau itu sikap Amerika yang menghubung-hubungkan pesantren dengan teroris, maka melalui Anda semua sebagai wartawan tolong sampaikan kepada mereka, sama sekali tidak ada hubungan antara teroris dengan pesantren. Tolong sampaikan saudara-saudaraku semua sebagai jurnalis, sampaikan kepada Amerika atau bangsa-bangsa di dunia, bahwa pesantren adalah tempat pendidikan yang baik seperti universitas-universitas yang baik di Amerika atau di negara-negara Barat lainnya. Kami ingin menjadi manusia terdidik. Jadi sekali lagi tolong sampaikan bahwa pesantren tidak ada hubungan dengan teroris.

Dewasa ini ada perdebatan sengit tentang Islam liberal dengan Islam konservatif, bagaimana Syaykh menyikapi?
Setiap manusia memiliki pandangan masing-masing yang dipercayai, dan di dalam agama Islam fatwa, orang per orang atau majelis tidak mengikat sama sekali. Oleh sebab itu, bangsa Indonesia tidak khawatir sama sekali, beribu-ribu fatwa yang turun tidak akan menajdikan bangsa Indonesia ini kacau balau. Jadi, silahkan berfatwa, yang ingin ikut boleh, yang tidak ingin ikut pun tidak apa-apa, karena agama itu bukan fatwa. Itu pandangan orang di Indonesia, ada yang setuju dengan fatwa ada yang tidak. Yang setuju juga tidak jaminan masuk surga, yang tidak setuju juga tidak jaminan masuk neraka.

Konflik antara Israel dan Palestina merupakan isu yang sangat sensitif, dan kalau kami bertanya kepada beberapa orang Islam yang kami temui membuat mereka sangat tidak enak. Apakah isu konflik Palestina-Israel juga diajarkan di Al-Zaytun, dan bagaimana memberikan pemahaman kepada para santri di sini?
Isu Pelestina bukan sesuatu isu yang sangat spesifik. Di Al-Zaytun diajarkan sejarah, kalau berbicara tetang sejarah akan masuk kepada contoh-contoh seperti itu. Di Al-Zaytun, anak-anak diajarkan geografi mempelajari negara-negara maka akn berbicara tentang Palestina. Kita tidak mengambil terlalu jauh tentang Palestina karena Palestina sendiri, presidennya sudah menyepakati Israel, Israel menyetujui berdirinya negara Palestina. Mengapa kita yang di Indonesia harus berdebat tentang kemauan orang Palestina terhadap Israel? Presiden Palestina mengakui berdirinya Israel, Israel menyetujui berdirinya negara Palestina. Sekarang tinggal menentukan batas-batasnya. Mengapa kita harus berdebat di tempat yang begini jauh sedangkan konflik sudah mengambil kesepakatan. Maka itu nanti “arang habis besi binasa“ bagi kita yang ada di tempat nun jauh ini.

Kami mengucapkan terima kasih atas perlakuan penghuni Al-Zaytun yang sangat baik.
Kami juga terima kasih kepada seluruhnya atas kedatangan Anda ke tempat pendidikan ini. Ini merupakan satu kerhormatan bagi kami karena Anda semua mau berkunjung ke tempat pendidikan Al-Zaytun ini.

Ini untuk Syaykh saya berikan brosur tentang program East West Center (EWC) supaya bila santri Al-Zaytun lulus pendidikan jurnalistik nanti bisa mengikuti program ini (EWC).
Terima kasih. Sekali lagi : “Pesantren cinta perdamaian, pesantren love of peace, pesantren punya sikap toleransi, mari kita hidup dalam toleransi dan damai, dunia akan aman sentosa.“
(Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 45/2006 – halaman 46-49)

Berita Terkait :
  • Wawancara dengan Richard W. Baker, Special Assistant to the President of East West Center (ECW).
  • Wawancara dengan Ms. Susan Kreifeis, Media Activities coordinator EWC.
  • Wawancara dengan Tim Connolly, Internasional Editor the Dallas Morning News, Dallas, Texas, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan David, Pengamat Hal Ikhwal ke Islaman dan Editor Harian Detroit, Michigan, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan Mr. Larry Johnson Foreign Desk Editor Seattle Post Intelligencer.
  • Wawancara dengan Wiliam J.Dobson Managing Editor, Foreign Policy Washington DC.
  • Wawancara dengan David Hage, Editor Writer Minneapolis Star Tribune.
  • Wawancara dengan Arif Suditomo, News Production Manager, RCTI Jakarta.
  • Wawancara dengan Sunandar Ibn Nur, Executive Editor, Gontor Magazine, Indonesia.
  • Wawancara Wartawan Amerika dengan Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang.
Bacaan Selanjutnya!