Tuesday, May 01, 2007

Hubungan Baik Barat dan Timur

Wawancara dengan Richard W. Baker,
Speciali Assistant to the President of East West Center (EWC).

Apa yang dimaksud dengan East West Center?
East West Center merupakan organisasi kependidikan yang tidak berorientasi pada keuntungan semata. Didirikan di USA pada tahun 1960 dengan sebuah misi “Menyatukan Persepsi antara masyarakat Asia Pasifik dan USA.“

Dalam mencapai tujuan tersebut kita melakukan research-research, training dan program-program pendidikan lainnya. Adapun program utama dari EWC adalah membentuk jalinan kerjasama antara Asia dan Amerika dalam bidang pendidikan. Hal tersebut ditempuh agar kita dapat membicarakan berbagai permasalah bersama. Satu di antara program pendidikan yang kami canangkan adalah pendidikan jurnalistik, program ini telah kami laksanakan kurang lebih selama 30 tahun. Selain jurnalistik kami juga aktif mengadakan training-training kepemimpinan, khususnya training kepemimpinan yang ditujukan bagi para pemimpin muda di Asia dan Amerika, hal ini kami lakukan demi mencari solusi atas berbagai permasalahan yang terjadi. Kunjungan ke Al-Zaytun merupakan acara khusus yang diadakan dalam rangka mengenal lebih baik tentang institusi-institusi Islam di negara-negara Islam Asia pada umumnya.

Apa usaha EWC untuk menjembantani Barat dan Timur?
Saya menekankan ini karena jurnalis memiliki peran yang sangat signifikan dalam menjalin komunikasi di segala lapisan masyarakat dunia, kami melakukan kerjasama dengan guru, karena guru mempunyai peran dalam mendidik masyarakat secara luas, dan kita juga bekerja-sama dengan kelompok ketiga yaitu para pemimpin politik yang mempunyai andil sebagai komunikator di kalangan konstituen mereka. Dengan begini kami berusaha membantu mereka untuk memahami kelompok masyarakat lainnya secara luas, dan kami berharap, mereka mampu menjadi pioneer yang memancarkan sinar saling pengertian dikalangan masyarakat internasional. Hal ini kami tempuh karena kami asdar bahwa kami tidak mungkin untuk berdialog secara langsung kepada orang-perorang di muka bumi ini, maka kita berusaha untuk mengadakan dialog kepada orang-orang yang kami yakin dapat meberikan pelayanan kepada publik.

Apa usaha yang dilakukan oleh EWC dalam membentuk jalinan persahabatan antara Timur dan Barat?
Mereka seluruh program EWC dirancang untuk meningkatkan persamaan persepsi dan menjalin persahabatan serta membuat jembatan antara Timur dan Barat. Kunjungan kami ke Al-Zaytun adalah merupakan usaha untuk membentuk jembatan yang mampu menjembatani gap antara Timur dan Barat, khususnya umat Islam bangsa Indonesia dengan masyarakat Amerika.

Ada persepsi dalam benak sebagain masyarakat Amerika atau setidaknya dalam benak berbbagai kalangan masyarakat, terutama setelah kejadian 911 WTC, bahwa umat Islam adalah teroris, sementara umat Islam, terutama umat Islam di Asia beranggapan bahwa Amerika adalah penyebab berkobarnya perang melawan Islam. Mereka memandang bahwa segala aktivitas Amerika di Irak dan Afganistan merupakan perang Amerika melawan Irak dan Afganistan. Maka kita berperan untuk memperkenalkan jurnalis Amerika dengan jurnalis Asia dan mengajak mereka untuk berdiskusi dengan kami tentang sikap kedua belah pihak. Ini akan membantu para jurnalis untuk bisa menjelaskan kenyataan yang sebenarnya kepada masyarakat internasional, sehingga dapat menghilangkan atau paling tidak mengurangi kesalahan persepsi, sehingga terbentuk persamaan pandangan yang lebih baik lagi. Kami yakin bahwa pengertian akan dapat dihasilkan dengan persahabatan dan tidak saling mencurigai. Sebagaimana Al-Zaytun telah berusaha membangun perdamaian, kami juga harus membangun jembatan-jembatan perdamaian, menghilangkan kesalah-pahaman, salah pandang yang dapat ditemukan dalam masyarakat yang majemuk. Dengan begitu masyarakat dunia dapat membangun hubungan yang lebih baik. Ini memang sulit dilakukan namun tahap demi tahap ini adalah satu yang sangat penting kita lakukan. Kita harus bekerja segiat mungkin dalam mewujudkan ini semua. Kami wartawan Amerika datang ke Indonesia untuk melihat pesantren, kami ingin mengenalkan kepada wartawan Amerika tentang aktivitas yang sesungguhnya dilakukan oleh pesantren, sehingga mereka mendapat gambaran yang benar tentang pesantren, bahwa pesantren bukan tempat tumbuhnya teroris. Sebagai contoh adalah Al-Zaytun yang merupakan pesantren terbesar di Indonesia.

Apa yang akan EWC lakukan setelah berkunjung ke Al-Zaytun?
Kunjungan ke Al-Zaytun merupakan kunjungan terakhir kami di Indonesia dan besok kami akan terbang ke Bangladesh. Kami berharap minggu depan kami juga dapat berdiskusi dengan para pemimpin keagamaan, politik dan yang lainnnya tentang masalah-masalah yang sedang terjadi, terutama salah-paham dan salah-pandang umat Islam di Timur terhadap dunia Barat, dan sebaliknya salah persepsi Barat terhadap dunia Islam. Kami harap kunjungan yang kami lakukan dapat membuahkan pengertian antara jurnalis Asia dan Amerika yang mempunyai karakter yang berbeda serta hidup dalam situasi yang tidak sama. Menurut kami, ini adalah cara terbaik untuk saling memberikan gambaran dan pemahaman yang sesungguhnya tentang negeri mereka, dan selanjutnya sesuai dengan kapasitas mereka sebagai jurnalis, mereka mampu mempublikasikan gambaran dan pemahaman yang sesungguhnya tentang dunia Barat dan Timur kepada masyarakat luas.

Apa usaha kongkret yang akan ditempuh EWC dalam menyamakan persepsi, setelah mendapatkan gambaran tentang dunia Islam, terutama di Indonesia?
Program ini akan berakhir di Daka pada 7 Juli yang akan datang, kemudian kita kita pulang ke rumah masing-masing di USA. Para wartawan yang ikut bersama rombongan berasal dari seluruh negara bagian, mereka datang dari Washington DC, Carla Washington, Minneaplus, Minishorter, Sinteenade Ohayo dan Dallas, mereka akan berbagi pengalaman yang mereka dapat dengan masyarakat negeri asal mereka.

Pengalaman atas kunjungan kami ke Indonesia, terutama ke Al-Zaytun kami harap menjadi pencerahan terhadap persepsi negatif dunia Barat terhadap Islam,. Dan kami berharap Al-Zaytun menjadi satu di antara banyak pesantren di Indonesia yang mampu menjadi jendela pencerahan hubungan baik antara dunia Islam dan Barat.

Apakah sebelumnya para jurnalis juga mempunyai persepsi negatif terhadap Islam?
Ya, namun terjadinya miss understanding lebih disebabkan oleh gerakan-gerakan terorisme yang mengatas-namakan Islam, sebagaimana yang terjadi di Ukraina. Ada kecenderungan untuk melihat keterkaitan Islam dengan terorisme, namun setelah kami mengunjungi berbagai tempat-tempat peribadatan umat Islam di Indonesia dan Bangladesh, serta berdialog dengan mereka, para wartawan mendapat contoh yang spesifik dari sikap muslim di Asia bahwa sebenarnya Islam tidaklah terkait dengan aksi terorisme.

Secara fakta ada blok-blok di antara para jurnalis, bagaimana menurut pendapat anda?
Saya kira tidak begitu sesungguhnya, karena hampir seluruh jurnalis itu sangat pandai. Masalahnya adalah berita yang disampaikan oleh mass media yang tidak berimbang, sebagai contoh di Amerika sering diberitakan di media Amerika tengang bom-bom bunuh diri atau tentang pertikaian, sehingga menciptakan gambaran negatif tentang Islam dalam benak para pembaca. Demikian sebaliknya media membentuk opini negatif tentang Amerika, mereka memberitakan seakan Amerika melakukan pembunuhan terhadap warga Irak, Afganistan ataupun Pelestina, sehingga masyarakat Islam menyimpulkan bahwa USA memerangi Islam. Inilah yang mendorong kita untuk mendapatkan gambaran yang lebih luas tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Media Amrika perlu memberitakan sesuatu yang lebih baik dan lebih banyak tengang Islam, bahwa Islam merupakan agama yang damai, mereka juga perlu memberitakan usaha-usaha umat Islam dalam mewujudkan perdamaian, seperti Al-Zaytun dan institusi-institusi Islam lainnya ayng sedang berusaha membangun perdamaian dan persahabatan.

Di sisi lain terkadang orang hanya memandang dari sudut pandang mereka saja. Padahal masyarakat Amerika banyak yang simpati terhadap terjadinya bencana Tsunami di Aceh. Ketika seseorang tidak melihat dari kedua sisi secara fair maka mereka hanya melihat bahwa Amerika memusuhi Islam, Amerika membunuh Islam.

Jadi dimana letak kesalahannya? Orang Islam berkata bahwa Amerika memusuhi Islam, demikian pula Amerika mengatakan bahwa Islam memerangi Amerika, terutama setelah terjadinya Aksi bom di WTC?
Letak kesalahan adalah pada suatu fakta kecil yang mengindikasikan perselisihan, dan fakta tersebut terjadi secara berulang, yang sebenarnya, bila disikapi secara cermat bukan merupakan kontroversi, namun demi memperoleh sensasi media massa menggambarkan dan menyiarkan bahwa fakta tersebut sebagai sebuah kontroversi, sehingga masyarakat mendapatkan gambaran yang negatif tentang peristiwa yang terjadi. Berdasarkan hal tersebut kami ingin agar orang bisa melihat gambaran secara lengkap apa yang sesungguhnya terjadi. Bukan hanya dari satu sudut pandang yang menggambarkan bahwa Amerika membunuh masyarakat Irak secara brutal.

Menurut Anda siapa yang membuat gambaran negatif tentang Amerika maupun Islam?
Penyebabnya bahwa memang orang-orang Islam Indonesia sering mendapat gambaran dari surat kabar atau berita tentang pembunuhan Amerika terhadap Irak, Palestina atau yang lainnya. Namun saya juga tidak bisa mengatakan bahwa media membuat suatu kesalahan, karena memang media biasanya membuat sesuatu menjadi lebih sensasional dan kontroversial. Maka perlu bagi masyarakat Indonesia untuk mengetahui juga gambaran media yang berasal dari luar Indonesia sebagai penyeimbang. Kalau tidak demikian maka orang mudah terpancing untuk perang, marah atau tindakan yang lainnya.

Bagaimana pandangan Anda setelah melihat Islam Indonesia khususnya setelah ke Al-Zaytun?
Saya sudah cukup mengenal Indonesia, masyarakat Islam Indonesia begitu ramah, terbuka dan cinta damai serta menerima orang lain. Walaupun ada sebagian kelompok kecil yang mengatas-namakan Islam yang berusaha menciptakan permusuhan, seperti pengeboman di Bali atau Hotel Mariot.

Al-Zaytun merupakan contoh yang sangat baik bagi suatu gambaran umat Islam bangsa Indonesia, Al-Zaytun merupakan suatu institusi pendidikan Islam yang sedang membangun dan menciptakan perdamaian dan persahabatan.
(Sumber : Majalah Al-Zaytun – Edisi 45/2006 – halaman 32-35)

Berita Terkait :
  • Wawancara dengan Richard W. Baker, Special Assistant to the President of East West Center (ECW).
  • Wawancara dengan Ms. Susan Kreifeis, Media Activities coordinator EWC.
  • Wawancara dengan Tim Connolly, Internasional Editor the Dallas Morning News, Dallas, Texas, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan David, Pengamat Hal Ikhwal ke Islaman dan Editor Harian Detroit, Michigan, Amerika Serikat.
  • Wawancara dengan Mr. Larry Johnson Foreign Desk Editor Seattle Post Intelligencer.
  • Wawancara dengan Wiliam J.Dobson Managing Editor, Foreign Policy Washington DC.
  • Wawancara dengan David Hage, Editor Writer Minneapolis Star Tribune.
  • Wawancara dengan Arif Suditomo, News Production Manager, RCTI Jakarta.
  • Wawancara dengan Sunandar Ibn Nur, Executive Editor, Gontor Magazine, Indonesia.
  • Wawancara Wartawan Amerika dengan Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home