Wednesday, April 18, 2007

Tirta Sangga Jaya, Nama Yang Bagus

Wawancara Syaykh AS Panji Gumilang

Pemimpin Kampus Al-Zaytun, Syaykh AS Panji Gumilang memiliki mimpi yang besar tentang pengendalian air di Ibukota Negara, dengan berpijak pada proyek Waduk Windu Kencana yang sedang dikerjakan Al-Zaytun siang malam. Ia mengambil contoh pembangunan bendungan Azwan, di Mesir, yang berhasil mengendalikan kota Kairo dari ancaman air bah Sungai Nil dan serangan buaya-buayanya.

Berikut petikan wawancara mimpi Syaykh tentang Jakarta, di sampaikan kepada Robin Simanullang dan Haposan Tampubolon, serta fotografer Wilson Edward.

Ibukota Negara selalu mengalami banjir berulang-ulang. Barangkali, Syaykh bisa memberikan sumbang-saran cara terbaik mengatasinya?

Kalau sumbang saran itu terlalu besar. Tapi, ada mimpi untuk Jakarta. Jakarta itu dikepung dan dialiri oleh berbelas-belas sungai yang besar maupun kecil. Selam itu sungai pasti dilalui air. Kalau tidak ter-manage, ya, menjadi melimpah dan bukan rizki.

Kalau kita ambil titik, Jakarta dari Monas, sampai ke Cibinong, atau lebih sedikit, kemudian kita tarik dari Cibinong, atau lebih ke selatan sedikit kira-kira 60 kilometer dari titik Monas, di sana kita membuat sungai baru atau kanal.

Kanalnya jangan terlalu kecil, katakan 100 meter lebar, kemudian di kanan kiri ada 50 meter yang nantinya menjadi jalan raya di tebing atau bantaran sungai. Kemudian kedalaman disesuaikan dengan kontur tanahnya.

Kanal membentang ke barat, sampai lebih barat dari kota Tanggerang. Katakanlah kalau diukur sampai ke Kresek, ditarik garis lurus mungkin sampai Cikupa. Itu kita buat lagi (kanal) yang sama 100 (meter), kanan-kiri ada jalan 50-50 meter.

Kemudian ke timur, kanal sampai ke Karawang yang lurusannya nanti Rengas-dengklok. Keluar dari sana ada yang namanya Tanjung Jaya. Kalau di Tanggerang sana ada Tanjung Kait.

Kalau itu dibuat maka terjadi, Ibukota Jakarta itu luasannya dari titik Monas 60 kilometer ke selatan. Kemudian dari titik Monas ke utara 30 atau kurang lebih 20 kilometer. Berarti hampir 80 atau 100 kilometer.

Kemudian timur-barat (dari Monas) sampai ke lurusan Kresek sana 60 kilometer, dari Kresek itu mungkin juga sampai lurusan Batu Jaya 60. Berarti nanti akan ada sungai “letter U“ 60-60-60-60, yang totalnya menjadi 240 kilometer mengitari Ibukota.

Kitaran yang “Letter U“ sudah barang pasti mencegat perjalanan aliran air yang 13-15 sungai itu. Dan yang terkenal kalau di tengah Ciliwung, di timur Citarum, dan di barat Cisadane sungai raksasa semua. Itu sudah terbendung dulu. Bukan berarti tidak boleh mengalir (tapi) ada paras kontrol.

Dengan adanya yang 240 kilomter ada penanggulangan lalulintas. Ada orang kurang senang jalan di darat, dia jalan di air. Sebab ada jalan yang mendukung kanan-kiri tadi, 240 kilo kali dua.

Sudah, manfaatnya besar bisa untuk rekreasi, bisa menghasilkan uang, secara estetika indah, arsitekturnya mendukung.

Mengapa sungai Nil bisa seperti sekarang itu, kita tidak bisa buat? Dulu sungai Nil kalau banjir bukan banjir air tetapi banjir buaya. Manusia Kairo banyak yang mati bukan tenggelam tapi dimakan buaya. Kalau Jakarta, banyak yang sengsara karena air.

Kemudian (sungai-sungai) yang masuk dalam kota dinormalisir. Tidak usah mengusir penduduk tetap saja di situ. Perumahannya tidak boleh horisontal mulailah vertikal.

Sehingga disisi-sisi sungai ada lahan yang luas. Katakan, Ciliwung yang dekat Tebet, nanti di pengkolannya, kampungnya masih Kampung Tebet, Kelurahannya masih Kelurahan Tebet, kecamatannya masih Kecamatan Tebet. Mereka tidak usah diusir karena sumber budaya ada di kampung-kampung itu.

Baru dibuat perumahan ke atas. Ada 1.000 kepala keluarga (KK) daslam satu rumah vertikal yang tadinya mendiami 200 meter lahan. Maka lahan yang ditinggalkan, 200 meter kali 1.000 KK sama dengan 200.000 meter persegi itu dijadikan halaman, tempat sekolah, tempat olah raga, tempat rekreasi, tempat penghijauan lingkungan. Rumah cukup naik ke atas untuk 1.000 KK. Untuk pengontrolan kependudukan lebih aman dan lebih terkontrol.

Jadi andainya seperti itu maka di dalam kota ada pilihan jalan. Ah, saya mau lewat Ciliwung saja, oh, saya mau lewat Ciliwung, pinggiran kanan atau kiri. Maka tidak ada kesulitan jalan raya. Jadi bukan karena banyaknya kendaraan Jakarta macet, tapi manajemennya yang kurang tertata.

“Oh, biayanya maha“ (kata orang), oh memang mahal. Tapi lebih mahal jiwa satu orang yang terendam air, daripada kita menata seperti itu.

Katakan, “diperlukan puluhan miliar dollar“, oh sekali hutang saja 40 miliar (dollar), nah mengapa bukan itu. “Oh, darimana dananya“, oang Indonesia kaya. Karena jumlah penduduknya 240 juta. Ambil 10 persen yang punya uang diam, masing-masing 100 ribu dollar. Juallah obligasi kepada bangsa jangan ke luar negeri. Jangan pula mencetak obligasi yang cincai-cincai satu dollar dua dollar. Paling murah 1.000 dollar satu surat berharga, banyak orang yang bisa membelinya.

Lha, sejumlah itu apakah mungkin mengumpulkan 100 milar dollar AS. Sangat mungkin. Bisakah kembali dengan tempo cepat? Sangat bisa, mengapa tidak? Sebab air berjalan. Ada transportasi air, ada wisata air, kemudian ada ketenangan jiwa. Terjadilah Ibukota menjadi tenang.

Kemudian tidak usah digembar-gemborkan istilah megapolitan dan sebagainya. Setelah dibuat seperti itu maka diputuskanlah oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat, Ibukota Negara Indonesia adalah Jakarta yang dibatasi oleh sungai baru “Letter U“. Selesai. Rakyat tidak berdebat.

Gubenur Jawa Barat tidak akan melawan, Gubernur Banten tidak akan melawan. Gubernur Jakarta tidak akan bangga la wong keputusan, menjadilah Ibukota Negara Republik Indonesia.

Jakarta perbatasannya sungai yang baru dibuat, katakanlah “Tirta Sangga Jaya“ atau “Air Yang Menyangga Jakarta Raya“.

Tirta Sangga Jaya bermanfaat untuk Jakarta?
Bermanfaat sebagai Ibukota Negara.

Hiterland-nya turut memperoleh manfaat, untuk wisata misalnya?

Untuk wisata, kemudian air untuk pertanian diambil oleh Jawa Barat dan oleh Banten. Kan, asyik. Di sungai Nil ada wisata air tengah malam sambil menari-nari, di sungai Tirta Sangga Jaya pun bisa nanti keliling.

Sungai Nil Cuma beberapa kilo, ini 240 kilometer. Sedangkan, satu malam Cuma 12 jam nggak cukup, “ah, besok lagi“, datang lagi, karcis lagi, masuk retribusi.

Nanti orang tidak hanya datang ke Bali. Ke Bali suatu waktu tapi Tirta Sangga Jaya tidak boleh dilupakan, kan begitu nanti. Kemana wisatanya, “Ke Tirta Sangga Jaya“.

Pendanaan, apakah lewat APBN?

Ya, APBN dong. Kalalu nanti non-budgeter jadi rusak negara. Ditetapkan bahwa akan membuat obligasi jumlahnya sekian, masukkan anggaran belanja negara dan pendapatan, dikontrol, kalau tidak nanti ko and rup and si.

Dan untuk pembuatan itu jangan ditenderkan. Buakan keputusan tertentu ditunjuk ataupun dilaksanakan oleh negara, dikontrol oleh masyarakat, negara luar pun menghormati, “oh, putusan Majelis.“

Perlu dibentuk semacam Otorita?

Ya, otorita khusus supaya ter-manage apa saja bentuknya. Integrated nanti dengan hiterland-nya. Dilindungi oleh payung yang sangat kuat yaitu keputusan Majelis sebagai keputusan politik. Kalau tidak, saling berkuasa nanti. Kata Jakarta, “Oh, ini milik saya“. Kata Jawa Barat, “Milik Saya“, kata Banten “Milik saya“.

Berapa lama mewujudkannya sejak pelaksanaan?

Ah, kalau negara satu dua tahun selesai asal pendekatannya bagus. Sekarang rakyat tidak mau karena mereka memang tinggal di situ. Nanti, mereka tetap tinggal di situ.

Dikasih ganti untung?

Bukan dikasih ganti, disediakan. Rumahmu tetap ini, tapi dinaikkan, lebih bagus, bisa tahu bulan lebih dekat. Kalau dari bumi kan jauh. Mungkin tingkat 30, “Lebih dekat kamu ke bulan“. Jadi kalau angin lebih dekat ke angin yang lebih segar.

Pembebasan lahannya mungkin yang sulit?

Jangan pernah dibebaskan lahan itu. Kalau dibebaskan tidak mau orang, bertahan. Ini dibuat sungai, rumahmu tetap disini, lebih bagus, kampungmu tetap di sini, karena, Indonesia tanah airku / tanah tumpah darahku. (Syaykh nyanyi dengan suara merdu).

Lah tanah tumpah darahnya dibuang, nanti ditanya dimana, “itu sungai“. Tanah tumpah darahku di kampung ini, bercerita, dulu kampung saya di sini, yang sekarang dibuat sungai. “Lho, kok namanya tetap“. Iya, namanya tetap, nggak boleh dirubah.

Jadi, kalau dia orang di Tebet ya tetap di Tebet. Cuma dulu Tebetnya sini, sekarang Tebet sini (rumah vertikal). Jadi KTPnya enak. Ngontrolnya enak. Yang punya KTP jelas. Yang tidak punya KTP-pun jelas. Budaya bisa ditata dengan baik. Bhineka Tunggal Ika bisa dimasukkan di situ. Jadi bukan hanya simbol, tapi ilmunya dan amalnya.

Bagaimana dengan Banjir Kanal Timur atau Kanal Barat yang sedang dikerjakan?

Itu tidak memadai, sama saja dengan ini ada kudis, tet, dipencet terus keluar, pindah ke sini, tet, keluar. Kalau ini nggak. Kasih jalan air, “kamu“ lewat sini. Oh terlalu melimpah, buka sedikit pintunya masuk, dalam kota. Kotanya sudah lurus, air sungainya bisa disambung dengan sungai Cikeas, bisa disambug dengan sungai Ciliwung, interdependen. Nanti dibuat interdependen. Kan asyik dalam kota ada perahu, ada boat seperti di negara-negara besar lainnya.

Mimpi yang sangat orisinil dari Syaykh?
Ya, Tidak tahu, namanya juga mimpi.

Konsep Belanda dulu, masih konsep feodal Bajir Kanal Barat di bangun untuk melindungi Menteng saja?

Karena dulu batasannya kecil maka dikatakan orang kampung Kali Deres. “Deres“ itu cepat larinya. Begitu masuk Banjir Kanal Timur sekarang dinamakan Kali Malang. Dinamakan Kali Malang karena melintang masuk kota. Mestinya utara-selatan, ini lari ke barat menjadi timur-barat malang-melintang, Kali Malang.

Di mana-mana sungai itu ke timur, ini ke barat. “Ah, sudah, kali malang-melintang“, gampang saja orang Indonesia kasih nama.

Sekarang ada nama bagus Tirta Sangga Jaya?

Kalau Tirta Sangga Jaya aga sedikit pantas daripada Kali Deres atau Kali Malang. Masak orang segar-segar dikatakan Malang. Pantas banjir terus sebab kalinya malang. Coba kalau kalinya mujur.

Waduk Windu Kencana mungkin bisa menjadi wujud awal Tirta Sangga Jaya?

Itu, aplikasi mimpi. Sebelum yang besar kan yang kecil dulu,

Waduk Windu Kencana akan menjadi objek wisata juga?

Ya. Pembangunan itu harus punya nilai ekonomi, nilai hiburan, nilai rekreasi, nilai arsitektur, nilai kelestarian, baru namanya sustainable. Kalau Cuma air, kaku.

Selain menyangkut ketahanan terpadu pertanian, ada manfaat Waduk Windu Kencana untuk masyarakat sekitar?

Oh, pasti. Kalau Al-Zaytun tinggal di belantara padang pasir Azwan sana ya nggak ada (manfaatnya). Ini kan tinggal di masyarakat. Kalau berbicara Al-Zaytun bicara masyarakat sekalipun agak jauh letaknya. Sungai itu kan air, tidak diam, dia merambat. Setiap yang dirambati air pasti bagus karena air itu sumber kehidupan.

Tirta Sangga Jaya sepertinya bukan mimpi sebab miniaturnya Windu Kencana sudah ada?

Yah, kalau bagi saya itu mimpi. Karena kita di sini.

Jakarta akan mengadakan Pilkada pada Agustus 2007. Tirta Sangga Jaya mestinya bisa menjadi isu andalan setiap kandidat?

Kalau sekedar oleh gubenur juga kurang. Harus oleh negara. Karena harus ada political will dari atas, kokoh sebagai payung yaitu MPR.

Secara politis Al-Zaytun bisa berperan mendorong political will dari atas tadi?

Oh, kalau peranan, semua bangsa. Al-Zaytun kan sebagian kecil dari warga bangsa.

Paling tidak calon gubenur Jakarta datang ke sini memperoleh masukan konsep membangun Jakarta?

Biasanya kalau datang ke sini, “Oh ini kan tempat kecil, jadi gampang. Jakarta itu besar, jadi susah“. Selalu mengedepankan susah.

Kalau kita selalu mengedepankan, semua tidak ada yang susah kalau dikerjakan. Dan tidak ada besar tidak ada kecil pekerjaan itu. Karena nilainya sama. Kecil tidak selesai ya tambah rusak. Besar tidak dikerjakan juga susah.

Tahun ini Al-Zaytun genap berusia sewindu. Syaykh bisa mengukur persentase pencapaian mimpinya, sudah berapa besar?

Kalau dipersentase kecil, wong mimpi itu besar. Kalau mimpi kecil ya sudah selesai.

Mimpi kita kan besar. Dari pada mimpi kecil meding mimpi besar. Tercapai sudutnya, lumayan. Jadi jangan pernah memprosentase pekerjaan. Lepaskan saja prosentase itu tapi terus perbesar mimpinya.

Karena mimpi besar belum terlaksana pun sudah gembira, “Ah, saya tadi malam mimpi,“ Ya, itu (Syaykh kembali bernyanyi merdu). Waktu semalam bung aku bermimpi / Ketemu ular bung besar sekali / Ular menggigit jari kakiku / Aku menjerit aduh / Kenapa kok aduh / Mimpi. Jadi asyik, mimpi itu bisa jadi obat.


Visi Pendidikan Al-Zaytun 2020 juga mimpi yang mengasyikkan?

Oh, iya. Harus mimpi 2020. Jangan lama-lama, 2030 kelamaan. Bangsa ini kuat kok. (Tahun) 2030 lama belum tentu itu dipimpin oleh yang mimpi.

Kalau mimpi ciptakan yang riil dalam konsep yang bisa dilaksanakan. Kalau suatu negara mimpinya tuangkan dalam keputusan majelis yang tertinggi. Kalau (diputuskan) oleh Presiden yang berjalan itu kan terbatas cuma lima tahun belum tentu dipilih lagi.

Itu (Visi 2030) sebetulnya kampanye. Kampanye kan bisa saja ngomong setumpuk pelaksanaannya belum ada.
(Sumber :Lentera - Majalah Berita Indonesia – Edisi 36/2007)

Berita Terkait :
- Waduk Windu Kencana
Bacaan Selanjutnya!

Tuesday, April 10, 2007

Konsisten Memajukan Pendidikan

Wawancara dengan Ace Suryadi

Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Ace Suryadi menyebutkan Kampus Al-Zaytun adalah sebuah pusat pendidikan yang sudah berstandar internasional.

Ace Suryadi memiliki pemikiran brilian melapaui banyak orang tentang cara bagaimana memajukan dunia pendidikan di Indonesia, khususnya pendidikan non formal sebagai alternatif yang sejajar dengan pendidikan formal. Boleh dikata, ia memiliki andil besar dalam pengambilan keputusan politik yang mensyaratkan minimal 20 persen anggaran tahunan dalam APBN harus dialkokasikan untuk sektor pendidikan. Ace-lah yang pertama kali menggagas ide ini, lewat sebuah tulisan artikel di media massa, yang lalu menjadi rujukan para pengambil keputusan. Padahal saat itu ida sedang non-job bahkan menjadi “anak jalanan“.

Ace menghabiskan masa kecil yang kenangan di Cipamekan, jauh di pelosok Kecamatan Congeang, Sumedang, Jawa Barat. Ia lahir sebagai anak tertua dari empat bersaudara terdiri dua laki-laki dan dua perempuan. Mereka hidup benar-benar sebagai orang kampung.

Ace memilki seorang Ayah berotak pintar tetapi secara formal hanya lulusan kelas lima SD. Demikian pula Ibunya lulusan kelas tiga SD yang nyaris buta huruf, sebab bisanya menulis huruf sambung terus seperti tanpa putus.

Walau berpendidikan rendah Sang Ayah memiliki posisi terhormat di lingkungan sekitar sebagai “Menteri Agama“. Ayahnya menjabat Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), sehari-hari menjadi imam, menikahkan orang, menyolatkan jenazah, menyunatkan anak dan sebagainya.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari Sang Ayah membuka usaha mebel. Untuk ukuran kampung usaha ini tergolong maju sebab mampu menyediakan kebutuhan di atas rata-rata. Tetapi kehidupan tetap tak beranjak dari kemiskinan, apalagi untuk menyekolahkan anak tinggi-tinggi. Buktinya Ace Suryadi dapat melanjutkan sekolah ke SMP dengan mengorbankan sekolah adik perempuannya, yang sesungguhnya jauh lebih pintar.

Dididik Keras

Ace dididik dengan sangat ketat menjurus keras. “Keras tapi benar,“ itulah pemahaman Ace tentang didikan Ayahnya. Rendahnya pendidikan orang tua tak berarti lemah dalam mengasuh anak. Ace Suryadi merasa beruntung memiliki Ayah-Ibu berotak brilian. Bibit itu adalah potensi besar untuk juga melahirkan anak yang sama briliannya.

Sang Ayah mengarahkan anaknya ke hal-hal yang positif. Ace, misalnya, tak diizinkan bermain-main. “Pokoknya harus sembahyang, mengaji, belajar. Bermain dibatasi. Saya juga begitu,“ kata Ace.

Bila Ace malas sekolah, Ayah segera menyiapkan lidi untuk dilibaskan ke betis. Lidi masih terus diacung-acungkan saat Ace sudah mau masuk ke pintu sekolah. “Saya kan jadi takut. Sampai begitu, saking kerasnya. Tapi tetap miskin,“ katanya.

Kerasnya didikan masih ditambah sikap Ibu yang cerewet segera terlihat hasilnya. Adik perempuan Ace menjadi murid yang paling pandai di sekolahnya. Tetapi karena dia perempuan, kedua orangtua memutuskan hanya Ace yang dapat melanjutkan ke SMP.

“Kita tidak punya banyak duit. Walaupun kita harus menyekolahkan, satu saja,“ Ace hafal betul isi pembicaraan kedua orangtua yang memutuskan nama Ace sekolah. “Jadi adik saya tidak sekolah. Karena tidak cukup biayanya. Walaupun menyekolahkan saya itu kebanyakan jual sawah, jual kebun. kadang-kadang jual mebel pun tidak cukup,“ kata Ace.

Ace sekolah di sebuah SMP di Sumedang. Jarak dari rumahnya sekitar 15 kilometer. Mulanya ditempuh menumpang oplet atau angkutan umum bolak balik setiap hari. Ace sengsara sekali jadinya, terlebih kondisi jalan sangat buruk. Muncul keinginan dalam diri Ace untuk memiliki sepeda. Tetapi permintaan ini tak diluluskan. Lagi-lagi karena tak memilki uang. “Sudahlah, cari sendiri duit,“ kata Sang Ayah.

Menginjak SMA, Ace mulai indekos di Sumedang. Prestasi Ace masih lumayan bagus walau ada sedikit penurunan. Maklum, usianya sedang memasuki masa pancaroba. Dengan prestasi yang anjlok dan tertatih-tatih Ace menamatkan pendidikan SMA, bahkan diterima kuliah di IKIP Bandung.

Prestasi ke IKIP diraih secara diam-diam tanpa sepengetahuan Ayah-Ibu. Bahkan, Ace harus meminjam uang seseorang untuk biaya mendaftar.

Sebelum menamatkan sarjana tahun 1981 Ace Suryadi sudah “diijon“ sebagai karyawan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang), Depdikbud. Harsja W. Bachtiar, Kepala Balitbang pada tahun 1983 mengirim Ace kuliah program master S-2 ke Amerika Serikat, mengambil jurusan ekonomi pendidikan. Setahun selesai, karena kepandaiannya pihak universitas merekomendasikan Ace untuk melanjutkan lagi ke S-3.

Dalam usia relati muda sekitar 30-an tahun. Ace berhasil menggondol gelar S-3 dalam tempo 3,7 tahun saja.

Pada tahun 1987 Ace kembali ke Indonesia. Karirnya meroket cepat. Sebagai doktor yang masih berusia muda, memilki kecerdasan di atas rata-rata tergolong brilian, dua setengah tahun berada di Indonesia Ace memperoleh promosi menjabat Kepala Bidang.

Dua tahun kemudian saat usia mulai mengijak 38 tahun, walau dengan pangkat masih 3-C Ace dipromosikan sebagai Kepala Pusat Pendataan, di Balitbang Depdikbud. Bintang Ace sebagai pejabat eselon dua betul-betul sedang bersinar.

Ketika Depdiknas dipimpin Menteri Wardiman Djojonegoro (1993-1998) Ace semakin memperoleh tempat. Ia selalu diberi banyak tugas membuatnya harus bekerja siang malam.

Tetapi karir Ace sempat mengalami hambatan tatkala muncul Kepala Balitbang baru di era Wiranto. Ace selama setahun berusaha bertahan dengannya. Ace kemudian digeser menjadi tidak apa-apa. Ketika pimpinan di tangan Juwono Sudarsono Ace malah menjadi bawahan bagi seorang Kepala Bidang, yang sebelumnya justru merupakan bawahan Ace. Ace tak lagi memiliki jabatan kecuali hanya sebagai staf biasa. Ace menjadi Kepala Pusat antara tahun 1992-2000.

Ace mengikhlaskan diri menjadi staf biasa. Seorang doktor berotak cerdas, brilian, yang beasiswanya dibiayai oleh pemerintah, itu telah disia-siakan dan Ace pun benar-benar menjadi anak jalanan. Ia tidak bersedia lagi masuk kantor.

Ia menumpahkan amarah dan unek-unek dengan rajin menulis buku, artikel di koran, atau berbicara ke koran. Ia mengeluarkan semua kemampuan akademis yang dimiliki lewat media tulis-menulis.

Ia terjun sebagai konsultan bagi Canadian Development International Agency (CDIA), membuatnya mampu membeli mobil sekelas Honda CR-V. Ace juga bersedia dipanggil oleh Wardiman Djojonegoro membantu di Media Center-Nya Habibie, hingga diangkat menjadi Kepala Sekretariat Habibie Center.

Mengalami Titik Balik

Sebagai orang pendidikan, hati Ace sesungguhnya tertaut ke Depdikbud. Ia ingin lebih diggest di situ. Ace berusaha memotivasi dan menggugah diri sendiri.

Kemarahannya yang terlampiaskan lewat tulisan akhirnya sampai pula ke telinga petinggi Depdiknas, mulai Yahya Muhaimin hingga Malik Fajar. Ace mengalami titik balik. Sebab sesungguhnya ia adalah ibarat mutiara yang kalau diletakkan di tempat yang semestinya akan memancarkan kilaunya yang bercahaya.

Certa bermula dari tulisan Ace yang berhasil memenangkan lomba penulisan terbaik bidang pendidikan. Figur Ace yang sering menulis tentang kurikulum, ujian, birokrasi, profesionalisme, anggaran pendidikan, economic of education dan macam-macam menarik perhatian Mendiknas Malik Fajar.

Khusus tentang tulisan anggaran pendidikan, yang berhasil menjadi juara, Ace dengan tegas menyatakan Indonesia belum memiliki komitmen yang jelas terhadap pendidikan. Anggarannya masih di bawah satu persen jauh dari Malaysia yang lima persen.

Tulisan ini berhasil mencelikkan mata para pemangku kepentingan. Isunya dibicarakan di mana-mana. Ace menjadi pionir dengan mangatakan pemerintah harus menaikkan anggaran pendidikan.

Dampaknya terasakan anggaran pendidikan mendekati 20 persen. Salah satunya dipengaruhi tulisan Ace. “Karena itu mempengaruhi mereka yang ada di legislatif, terus dia melahirkan UU dan segala macam. Saya kira saya ikut andil di sana,“ kata Ace.

Malik Fajar mengajak Ace menjadi pembantunya sebagai pejabat eselon satu. Bahkan Malik harus membuat jabatan baru Staf Ahli Menteri Bidang Desentralisasi Pendidikan, yang sebelumnya tak pernah ada, demi memberi tempat kepada Ace untuk berkiprah.

Jabatan ini Ace memanfaatkan betul berbuat yang terbaik mengabdi kepada bangsa, dengan berkarya dan memperlihatkan kinerja yang maksimal. Ace membangun jaringan dan hubungan kemana-mana. Iapun berhasil menerlurkan Peraturan Menteri (Permen) Pendidikan Nasional tentang Standar Pelayanan Minimum (SPM).

Informasi keberhasilan sebagai Staf Ahli Menteri Bidang Desentralisasi kesampaian pula rupanya ke Menteri yang sekarang, Bambang Sudibyo (2004-2009). Sejak Mei 2005 Ace Suryadi dipromosikan menjadi Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah (PLS).

“Saya akhirnya dimasukkan oleh Pak Menteri jadi Dirjen. Saya kira, bagi saya itu perjuanganlah. Perjuangan yang menurut saya pahit sekali. Pada saat saya tidak memperoleh jabatan, saya boleh dikatakan tidak dianggap apa-apa. Tapi asya dianggap lagi oleh Pak Malik lebih lagi oleh Pak Bambang supaya saya boleh berkarya,“ jelas Ace.

“Dan akhrinya, dalam jabatan ini saya mulai memikirkan karya-karya saya apa yang harus diberikan.“ Untuk mengetahui pandangannya tentang Al-Zaytun, serta visinya mengenai pendidikan non formal di Indonesia berikut petikan wawancara Pemimpin Redaksi Majalah Berita Indonesia CH. Robin Simanullang dengan Ace Suryadi.

Sebagai Dirjen PLS tentu mempunyai penilaian tersendiri tentang Al-Zaytun. Setelah melihat proses pendidikan di sini, apa yang menarik menurut Anda?

Saya melihat proses pendidikan di sini persis seperti yang saya impikan sejak lama. Saya belum pernah melihat sekolah-sekolah biasa, apa yang di sini terjadi. Mungkin juga belum pada sekolah-sekolah berasrama (boarding) seperti Al-Zaytun ini.

Al-Zaytun ini lebih. Dalam artian lebih universal, Dia tidak hanya Islami tetapi juga nasionalis, profesionalis, dan universal. Itu yang saya tandai.

Dalam kaitan dengan pendidikan, saya kira ini merupakan suatu model, karena yang dikembangkan di sini holistik sifatnya. Bukan hanya murid diberikan pembelajaran, tetapi juga penataan lingkungan fisik, lingkungan sosial, pergaulan, disiplin dan sebagainya.

Semua penataan tersebut bersifat total, holistik, dan masih ditambah dengan manajemen air. Manajemen air bukan main di sini, sebagai bagian manajemen lingkungan.

Demikian juga pembiasaan anak-anak di luar kelas, di luar sistem belajar mengajar. Selama proses pendidikan tidak boleh dipisahkan antara apa yang berlangsung di dalam kelas, dengan apa yang terjadi di lingkungan. Kalaupun pendidikan di kelasnya bermutu, kalau di lingkungan acak-acakan, itu tidak akan dapat membentuk suatu keperbadian yang kita harapkan. Tapi di sini terjadi.

Saya kira, harusnya, dari segi holistik dan integrasi pendidikan yang diterapkan, Al-Zaytun bisa menjadi model buat pembinaan atau pembanguan pendidikan lainnnya. Di sini sudah ditemukan metodologinya, penataan kampusnya, penataan disipilin anak-anaknya, pergaulannya, sampai kehidupan asrama dan manajemen air semua ada di sini. Desainnya bukan main !

Sifat holistik lainnya adalah pendidikan luar sekolah (PLS). Di sini ada kelas untuk orang dewasa, Universitas Terbuka (UT), dan sejenisnya. Terus Syaykh masih akan mendirikan lagi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Jadi saya sangat setuju sekali dengan Syaykh, yang membuat Al-Zaytun menjadi terang bagi lingkungan sekitarnya. Jangan hanya Al-Zaytun yang bagus tetapi masyarakat sekitarnya tetap miskin dan bodoh.

Maka itulah saya mau bekerja-sama dengan Syaykh untuk mendirikan PKBM-PKBM di sekitar Al-Zaytun. Bahklan, pendirian PKBM ini akan terus kita perluas. Misalnya, PKBM untuk pemberantasan buta aksara, mengasah keterampilan, pendidikan, kecakapan hidup semuanya akan kita coba. Termasuk nantinya saya akan menyumbangkan mobil perpustakaan keliling sebagai Taman Bacaan Keliling, supaya Al-Zaytun bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat tentang peningkatan budaya baca.

Indramayu tergolong tinggi angka buta aksaranya untuk tingkat Jawa Barat. Saya merasa tertantang untuk itu. Demikian pula dengan Syaykh merasakan hal yang sama.

Setelah mengamati sistem pendidikan, metodologi, dan hal-hal lainnya, dipandang dari segi standar pendidikan nasional bagaimana kondisi Al-Zaytun?

Untuk ujian nasional di sini menggunakan standar yang sama dengan standar nasional. Sama dengan sekolah-sekolah lain yang sudah tinggi.

Tetapi standar itu masih harus ditingkatkan. Malah, saya ingin sekali kalau Al-Zaytun menggunakan saja standar internasional. Sebab daripada menggunakan standar lokal, sayang karena penataan sistemnya di sini sudah baik.

Apabila dilihat kapasitas dan sarana pendidikannya , apakah Al-Zaytun memang sudah cukup untuk memenuhi standar internasional?

Ya, memenuhi syarat untuk standar internasional.

Bisa dijelaskan apa saja yang menjadi syarat standar internasional itu?

Dalam berbagai hal. Misalnya untuk standar matematika internasional, standar gurunya juga harus internasional. Semua yang diujikan di ujian akhir sekolah harus menggunakan standar internasional.

Sekarang, menurut UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), setiap kabupaten diharuskan memiliki minimal satu sekolah berstandar internasioanl. Baik itu SD, SMP, SMK, SMU masing-masing minimal satu.

Al-Zaytun memenuhi syarat untuk itu?

Ya. Al-Zaytun sudah bertaraf internasional.

Secara riil bagaimana bentuk dukungan pemerintah kepada pusat pendidikan yang sudah berstandar internasional, seperti Al-Zaytun ini?

Pemerintah akan sangat mendukung Al-Zaytun karena tidak ada sesuatu yang salah di sini. Bahkan Al-Zaytun sudah bisa membangun sesuatu yang positif di sini.

Pemerintah akan tetap mendukung sepenuhnya agar Al-Zaytun berfungsi sebagai lembaga pendidikan bagi masyarakat. Apakah berbentuk pendidikan sekolah umum atau pendidikan luar sekolah. Saya sangat mendukung program pendidikan luar sekolah yang ada di sini.

Program apa saja yang segera bisa Anda realisasikan dalam waktu dekat?

Ya sudah, sebetulnya. Saya melihat Al-Zaytun sudah secara serius menerapkan Kelompok Belajar (Kejar) Paket A, Paket B, Paket C yang dinamakan kelas dewasa. Sekolah dewasa di tingkat SD, SMP, dan SMA pesertanya sudah banyak sekali.

Saya akan mendukung itu dari buku-bukunya. Juga melakukan beberapa hal pengembangan supaya lebih inovatif lagi. Kita akan dukung. Ini yang pertama.

Yang kedua, kami sudah memberikan blockgrant sebesar Rp 300 juta untuk pengembangan agrobisnis di sini. Jadi tujuannya adalah untuk masyarakat sekitar. Mereka mengembangkan agrobisnis tetapi dengan cara menggunakan teknologi. Al-Zaytun bertugas mengembangkannya bersama-sama dengan masyarakat sekitar. Ini nanti bisa menjadi model untuk daerah yang lainnya.

Terus yang ketiga, saya dengan Syaykh sudah sepakat untuk mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Untuk pertama kali didirikan di Indramayu dan Sumedang dulu, sebagai lingkungan terdekat Al-Zaytun. Kalau berhasil nantinya akan kita perluas pengembangannya. Dan Syaykh sudah mengatakan bersedia menyediakan gedung PKBM dan tenaga untuk mendirikannya.

PKBM dibangun di lingkungan sekitar masyarakat Al-Zaytun?

Di sekitar Indramayu dan Sumedang dulu. Kalau bisa di setiap kecamatan nanti akan ada satu PKBM. Pokoknya saya yang akan menyediakan sarana, bangunan, tenaga pendidik, serta programnya. Cukup banyak yang akan kita buat.

Tentu, hal itu memerlukan dana besar?

Oh, iya. Karena saat ini di Indramayu kita sangat mementingkan pendidikan keaksaraan, atau pemberantasan buta aksara. PKBM-lah yang harus melakukannya. Program dan anggarannya nanti dari kita, karena memang dana untuk itu ada.

Di kemudian hari masih lebih banyak lagi hal-hal yang bisa dikerja-samakan Al-Zaytun dengan Ditjen PLS. Mudah-mudahan kerja-samanya bisa terus langgeng.

Apakah kesediaan Anda merupakan salah satu tanggapan positif pemerintah terhadap kehadiran pusat pendidikan Al-Zaytun?

Oh, Iya. Dan mengapa saya datang dua kali dalam setahun ke sini, sebelumnya saya sudah datang Desember 2006 lalu.

Maksudnya supaya Al-Zaytun bukan hanya memperhatikan sekolah dan perguruan tinggi saja, tetapi juga mau memperhatikan pendidikan non formal atau pendidikan luar sekolah (PLS) ini. Dan ternyata beliau sudah memulainya, bahkan sudah sangat komit. Saya senang dengan itu. Kami, sedapat mungkin, sesuai dengan apa yang kami punya, akan bantu Al-Zaytun.

Khusus mengenai visi-misi Al-Zaytun sebagai pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi dan pusat pengembangan budaya perdamaian. Apa komentar Anda?

Saya melihat di ini ada potensi itu. Mereka punya potensi, punya tenaganya, punya lingkungannya, punya programnya, punya anggarannya, dan punya sarana-prasarananya untuk mewujudkan visi-misi itu.

Saya kira kita akan coba juga untuk bekerja-sama di situ. Karena PLS sebetulnya di sana. Ada beberapa program PLS yang sifatnya agak internasional. Misalnya program kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Kemudian visi pendidikan untuk semua (PUS), atau Education for All (EfA). Kemudian literacy dan traficking semua ada di program kita. Itu masuk dalam anggaran pendidikan luar sekolah.

Jadi bicara tetang education for all, toleransi dan perdamaian, itu bekerja-sama dengan saya nanti.

Berarti, masih bisa digali berbagai program kerja sama lainnya?

Ya, melalui pengembangan program-programnya.

*) Ace Suryadi, Dirjen Pendidikan Luar Sekolah Depdiknas.

(Sumber :Lentera - Majalah Berita Indonesia – Edisi 34/2007)

Bacaan Selanjutnya!